Selasa, Mei 26, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 34

Ratifikasi Konvensi ILO Beri Keadilan bagi Pekerja Perikanan

Jakarta, Energi Juang News- Ratifikasi Konvensi International Labour Organization (ILO) Nomor 188 memberikan keadilan bagi tenaga kerja sektor perikanan. Demikian penilaian ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda.

“Saya apresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto meratifikasi ILO 188 yang memastikan tenaga kerja sektor perikanan mendapatkan keadilan dan perlindungan yang setara dengan sektor formal lainnya,” kata Huda di Jakarta, Jumat.

Dia menjelaskan ILO 188 memberikan kepastian bagi pekerja perikanan lantaran mengatur jam kerja, istirahat minimum, pengaduan, bahkan kontrak kerja antara awak kapal dan pemilik kapal.

Pasalnya, selama ini, terjadi ketimpangan yang nyata antara awak kapal dengan pemilik kapal, eksploitasi pekerja sangat terasa di sektor perikanan.

“Dengan adanya kejelasan status kontrak di awak kapal, saya berharap ada kenaikan pendapatan rumah tangga nelayan. Kenaikan pendapatan ini tentu bisa menurunkan kemiskinan di wilayah perdesaan/pesisir,” ujar Huda.

Namun, dia menyoroti, pengawasan terhadap perlindungan awak kapal perikanan masih perlu diperkuat, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Dalam praktiknya, koordinasi pengawasan kerap menghadapi kendala, antara lain perbedaan pemahaman mengenai kewenangan, keterbatasan kapasitas daerah, serta belum meratanya pemahaman terhadap regulasi yang berlaku. Kondisi ini berpotensi membuat awak kapal menjadi pihak yang paling terdampak.

Selain aspek pengawasan, skema bagi hasil yang lebih adil juga dinilai perlu menjadi perhatian. Jika mekanisme pembagian hasil dapat diawasi secara lebih transparan dan adil, pendapatan awak kapal berpotensi meningkat secara signifikan.

Ratifikasi ini juga diharapkan tidak hanya dikaitkan dengan program kampung nelayan. Huda menuturkan kepastian aturan dan perlindungan kerja diperlukan oleh seluruh awak kapal perikanan, tidak terbatas pada awak kapal yang berada di kawasan atau program tertentu.

Sebagai catatan, Prabowo dalam pidatonya pada Hari Buruh Internasional (May Day) di Jakarta, Jumat, menyampaikan bahwa dia telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 25 Tahun 2026 tentang Ratifikasi ILO 188 untuk memastikan perlindungan dan kesejahteraan nelayan di Indonesia.

Perpres tersebut bertujuan memperkuat perlindungan hukum dan kesejahteraan awak kapal perikanan (ABK), sekaligus memastikan kondisi kerja yang layak sesuai standar internasional.

Redaksi Energi Juang News

Pencegahan Haji Nonprosedural, Manifestasi Komitmen Imigrasi Lindungi WNI

Jakarta, Energi Juang News – Pencegahan keberangkatan jamaah calon haji yang terindikasi hendak bertolak ke tanah suci secara nonprosedural merupakan bentuk komitmen Imigrasi melindungi warga negara Indonesia. Demikian dikatakan Direktur Jenderal Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Hendarsam Marantoko.

“Pencegahan ini adalah bagian dari komitmen kami untuk melindungi WNI dari penyalahgunaan visa dan potensi risiko hukum di negara tujuan,” kata Hendarsam dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.

Menurut dia, pencegahan ini juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto serta Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto bahwa seluruh jajaran Imigrasi diminta untuk meningkatkan kewaspadaan selama musim haji.

Hendarsam juga mengimbau masyarakat agar melaksanakan ibadah haji melalui jalur resmi sesuai ketentuan yang berlaku demi keamanan, kenyamanan, dan perlindungan selama berada di Arab Saudi.

“Imigrasi akan terus hadir melalui penguatan pengawasan dan sinergi antarinstansi sebagai wujud Imigrasi untuk rakyat,” katanya menegaskan.
Pernyataan ini disampaikan Dirjen Imigrasi menyusul pencegahan keberangkatan 23 orang WNI yang terindikasi berangkat haji secara nonprosedural pada Jumat (1/5) dini hari di Terminal 3 Keberangkatan Internasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Kepala Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta Galih P. Kartika menjelaskan mereka terdiri atas 12 laki-laki dan 11 perempuan yang tergabung dalam satu rombongan dengan tujuan Jeddah, Arab Saudi, menggunakan maskapai Saudi Airlines SV827.

Mulanya, petugas imigrasi menemukan adanya ketidaksesuaian antara keterangan perjalanan dan dokumen yang dimiliki. Setelah diperiksa, terungkap rombongan tersebut berencana melaksanakan ibadah haji menggunakan visa yang tidak sesuai peruntukannya.

Bahkan, kata Galih, mereka sempat diarahkan untuk memberikan keterangan sebagai pekerja di Arab Saudi sebelum akhirnya mengakui tujuan yang sebenarnya.

Ia merinci satu orang dalam rombongan itu diketahui berperan sebagai koordinator, sementara 22 orang lainnya merupakan jamaah calon haji nonprosedural.

Menindaklanjuti temuan itu, petugas langsung berkoordinasi dengan Satgas Haji yang melibatkan Kementerian Haji dan Umrah serta kepolisian hingga akhirnya diputuskan untuk menunda keberangkatan seluruh rombongan.
Galih menuturkan bahwa sejak awal musim haji 2026, Kantor Imigrasi Soekarno-Hatta tercatat telah mencegah keberangkatan total 42 orang WNI yang diduga akan berangkat secara nonprosedural.

“Kami terus memperkuat pengawasan dan koordinasi lintas instansi dalam Satgas Haji,” katanya.

Redaksi Energi Juang News

Pemanfaatan QRIS Efektifkan Transaksi UMKM

Jakarta, Energi Juang News – Pemanfaatan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dapat mengefektifkan transaksi sekaligus memperkuat daya saing. Demikian kata Ketua Komisi XI DPR RI Misbakhun.

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, ia mengatakan Bank Indonesia menghadirkan QRIS sebagai solusi praktis, aman, dan efisien dalam mendukung transaksi masyarakat, khususnya UMKM.

“QRIS tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi rakyat. Pelaku UMKM dapat naik kelas karena memiliki pencatatan keuangan yang lebih baik serta akses pembiayaan yang lebih terbuka,” ujarnya dalam acara Publik Bicara Badan Supervisi Bank Indonesia di Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Ia menilai digitalisasi sistem pembayaran menjadi keniscayaan di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.

Menurut dia, sejak diluncurkan pada 17 Agustus 2019, QRIS terus dikembangkan dan berpotensi digunakan dalam transaksi lintas negara.

Perluasan jangkauan QRIS hingga ke tingkat internasional, lanjutnya, akan meningkatkan daya saing UMKM Indonesia di pasar global.

Untuk itu, ia mendorong pelaku UMKM memanfaatkan QRIS sebagai sistem pembayaran digital guna menangkap peluang ekonomi yang lebih luas.
“Dengan semakin luasnya adopsi QRIS, UMKM di daerah diharapkan dapat terhubung dengan ekosistem ekonomi digital dan memanfaatkan peluang pasar yang lebih besar,” katanya.

Ia juga memastikan keamanan transaksi melalui QRIS terjaga karena Bank Indonesia sebagai otoritas moneter telah membangun ekosistem pembayaran digital yang inklusif dan aman.
Menurut dia, QRIS merupakan sistem pembayaran yang sesuai dengan kondisi Indonesia, baik dari sisi infrastruktur maupun keamanan dengan risiko yang minim.

“QRIS memberikan kemudahan dan keamanan dalam bertransaksi sehingga masyarakat tidak lagi bergantung pada uang tunai dan risiko kesalahan dapat diminimalkan,” ujarnya.

Redaksi Energi Juang News

Percepat Reforma Agraria, DPR Bentuk Command Center

Jakarta, Energi Juang News- Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan DPR RI akan membentuk pusat komando atau command center. Hal itu untuk mempercepat penanganan masalah yang terkait dengan reforma agraria.

Dasco, saat menerima audiensi serikat buruh pada Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat, menegaskan command center tersebut melengkapi panitia khusus (pansus) yang telah dibentuk sebelumnya.

“Nanti akan dibikin semacam command center yang digabung dengan pimpinan Komisi III,” ucapnya di hadapan perwakilan buruh.

Ia menjelaskan Pansus Penyelesaian Konflik Agraria yang telah dibentuk sejak Oktober 2025 berjalan lambat karena masih fokus melakukan sinkronisasi. Guna percepatan, pansus akan dikendalikan langsung oleh Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa.

“Jadi, nanti Pansus Agraria ini akan langsung dipegang oleh Pak Saan sebagai Wakil Ketua DPR dan di command center ada Komisi III,” jelas dia.

Menurut Dasco, command center itu akan menampung informasi dari masyarakat jika terjadi persoalan di lapangan. Dengan begitu, DPR bisa memberikan respons cepat berikut dengan langkah mitigasi yang dianggap perlu.
“Kami kalau kemudian tidak dapat informasi kayak kemarin yang waktu kita diinfokan, kami tidak tahu bahwa ada terjadi kejadian di lapangan ada mungkin penangkapan, ada kemudian ya masalah antara perusahaan-perusahaan dengan petani,” ucapnya.

Ia pun mengajak serikat buruh untuk aktif beraudiensi. “Jangan kapok kita mesti duduk sekali lagi, tolong dilakukan inventarisasi mana-mana yang urgen untuk segera ditindaklanjuti,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria Dewi Kartika mengatakan sejak Pansus Penyelesaian Konflik Agraria dibentuk DPR, sederet catatan persoalan di lapangan masih terjadi.

Dewi Kartika menjelaskan pada periode Desember 2025-April 2026, masih ada petani, aktivis, dan masyarakat adat yang ditembak, dianiaya hingga ditangkap karena mempertahankan tanah mereka.

“Artinya, sejak dibentuknya pansus, kami masih menunggu sebenarnya perubahan apa yang akan didorong untuk memastikan tidak ada lagi kriminalisasi dan kekerasan terhadap petani dan masyarakat di pedesaan, termasuk tentu aktivis-aktivis lainnya yang selama ini gigih memperjuangkan hak-hak buruh dan perjuangan demokrasi,” ucap dia.

Maka dari itu, menurut dia, reforma agraria membutuhkan dorongan politik dari DPR.
“Kalau tidak ada tekanan politik dari DPR RI maka reforma agraria tidak akan dijalankan dan selalu akan ada alasan-alasan klasik kenapa tanah itu tidak kunjung sampai kepada petani dan buruh tani,” kata Dewi.

 

Redaksi Energi Juang News

Mulanya Dimandiin Air Kembang, Selanjutnya Sentolop Beraksi

dukun cabul
dukun cabul

Energi Juang News, Tangerang – Pengen nyicipin ‘apem’ yang  ‘anget-anget empuk’   tapi gak punya modal, itu bukan hal yang sulit buat Sarkowi warga Tangerang ini. Pura-pura aja jadi dukun, pasti bakal ada pasien dari kalangan kaum hawa yang datang berkonsultasi. Setelah itu tinggal atur strategi yang jitu agar bagaimana si pasien wanita bisa diajak ‘ berpacu dalam birahi ‘ sentolop beraksi.

Sebagai dukun beraliran cabul, Sarkowi,57 dalam menjalankan profesinya justru tidak berpedoman pada protokol kesehatan sesuai yang dianjurkan pemerintah dalam memutus mata rantai virus corona,  semisal menjaga jarak dan menghindari sentuhan fisik atau bahasa Sunda-nya phisycal distancing.

Jika dulu protokol kesehatan ala Covid harus cuci tangan dan mencegah sentuhan fisik, kini…protokol kesehatan ala Sarkowi adalah mandi kembang terlebih dulu,  untuk selanjutnya melakukan yang asyik-asyik melalui sentuhan fisik, dan disuruh mainin sentolop Sarkowi yang gampang bangun.

Adalah Markonah,25, ibu muda yang kepengen usahanya sebagai pedagang bisa ‘ Laris Manis Tanjung Kimpul,  Dagangan Habis Duit Kumpul’.

Setelah mencari informasi sana sini,  didapatlah nama Sarkowi,  dukun yang katanya super manjur.  Berharap besar bahwa di tangan Sarkowi semua urusan lancar,  Markonah pun manut atas prosesi dan prosedur pengobatan yang standar dan prosedur-nya telah sang dukun tetapkan.

Prosesi pertama yang harus dijalani Markonah adalah mandi air kembang dengan cara dimandikan oleh Sarkowi sendiri.  Pada ritual mandi kembang itu, tubuh Markonah masih dibalut selembar kain. Nah ni die,  begitu melihat lekuk tubuh Markonah yang tembus pandang karena kain yang basah mengundang selera memagut rasa, kerongkongan Sarkowi mulai cekot-cekot dan kepala sentolopnya cenut-cenut.

Akal bulus agar tujuannya berjalan mulus, dilanjutkan Sarkowi dengan ucapan,  bahwa supaya air kembang lebih meresap ke dalam tubuh,  kain yang membalut tubuh Markonah harus dilepas.  Dengan berpikir sederhana, gak apa-apalah sekedar memberi ‘pemandangan’ indah kepada si dukun, Markonah pun melepas kain yang membalut tubuh sintalnya.

Dan ketika tubuh Markonah sudah polos tanpa sehelai benang pun,   ‘perabotan’ Sarkowi mulai berontak,  yang tadinya kecil jadi membengkak nagih.

Cukup dengan hanya maju satu langkah,  Sarkowi sudah bisa memeluk Markonah dengan leluasa.  Ketika Markonah memberontak berusaha melepas pelukan,  Sarkowi cukup membisikkan satu kalimat ke telinga Markonah: ” Supaya misi ini berhasil,  kita harus menyatukan jiwa raga kita.”

Sudah mandi basah dan benar-benar sudah terlanjur basah membuat Markonah pasrah saat Sarkowi menuntasksn dahaga asmaranya.

Lama menunggu apa yang diharapkan tak menjadi kenyataan,  dagangan yang dijualnya tak juga laris manis,  mulailah membuat Markonah curiga. Markonah yang sudah menyerahkan tubuhnya mentah-mentah, ternyata ditipu mentah-mentah pula oleh Sarkowi.  Malu gak malu, kasus dukun cabul ini akhirnya dilaporkan ke Polresta Depok.

Hasil pemeriksaan polisi, ternyata ada lagi tiga wanita lainnya yang ikut menjadi korban dukun cabul Sarkowi. Kasat Reskrim Polresta Depok, Komisaris Agus Salim, Minggu(13/6) lalu mengatakan,  kalau si dukun cabul warga Jalan Haji Nurdin, Cipayung ini tengah diperiksa intensif.

Sarkowi yang sempat  ‘berdingin-dingin empuk ‘ mandi bareng Markonah kini harus merasakan dingginnya terali besi penjara. Waaaahh…

Redaksi Energi Juang News

Bottlesmoker: Eksperimen Musik Elektronik dan Jiwa Tradisi Indonesia

Bottlesmoker
Bottlesmoker

Energi Juang News,Jakarta- Di era ketika batas antara tradisi dan modernitas semakin kabur, musik menjadi salah satu medium paling menarik untuk melihat bagaimana identitas budaya dinegosiasikan ulang. Dari klub malam hingga festival spiritual, suara elektronik kini tidak hanya identik dengan hiburan, tetapi juga eksplorasi makna yang lebih dalam—tentang manusia, alam, dan warisan budaya.

Dari jantung kreatif Bandung, lahir sebuah duo yang menolak tunduk pada definisi musik elektronik yang konvensional. Bottlesmoker, yang digawangi oleh Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan Adzani (Nobie), telah menjelma menjadi salah satu proyek musik paling eksperimental di Asia Tenggara.

Alih-alih sekadar membuat musik untuk dansa, Bottlesmoker menciptakan pengalaman sonik yang terasa seperti perjalanan spiritual. Mereka meramu berbagai elemen—mulai dari techno, ambient, hingga tribal—dengan inspirasi kuat dari budaya lokal Indonesia. Hasilnya adalah lanskap suara yang tidak hanya bisa didengar, tetapi juga dirasakan.

Salah satu proyek paling revolusioner mereka adalah “Bio-plant Sonic.” Dalam proyek ini, Bottlesmoker menggunakan teknologi biofeedback untuk mengubah sinyal listrik dari tanaman menjadi suara musik. Ini bukan gimmick semata, melainkan eksperimen serius tentang hubungan manusia dengan alam. Tanaman, dalam konteks ini, bukan lagi objek pasif, melainkan “kolaborator” dalam proses kreatif.

Pendekatan ini membuka diskusi yang lebih luas tentang keberlanjutan dan kesadaran ekologis dalam seni. Di tengah krisis iklim global, Bottlesmoker seolah mengingatkan bahwa musik bisa menjadi medium refleksi—bahwa harmoni tidak hanya penting dalam nada, tetapi juga dalam hubungan kita dengan lingkungan.

Tidak berhenti di ranah eksperimental, kekuatan Bottlesmoker juga terletak pada performa live mereka. Bayangkan sebuah pertunjukan di mana beat elektronik bertemu dengan tarian tradisional Indonesia, menciptakan atmosfer yang mirip dengan ritual kolektif. Pengalaman ini sering disamakan dengan konsep ecstatic dance—sebuah praktik yang menggabungkan musik, gerak, dan kesadaran diri.

Album mereka yang mendapat banyak pujian, Parakosmos, menjadi manifestasi paling jelas dari visi artistik mereka. Album ini mengeksplorasi ritual-ritual artistik dari komunitas adat di Indonesia. Setiap track terasa seperti dokumentasi sonik dari tradisi yang hidup, namun dibingkai dalam estetika modern.

“Parakosmos” bukan hanya album, melainkan arsip budaya dalam format baru. Di tangan Bottlesmoker, suara-suara tradisional tidak diperlakukan sebagai artefak museum, tetapi sebagai elemen dinamis yang bisa berkembang dan beradaptasi dengan zaman.

Dalam konteks sejarah musik elektronik, pendekatan seperti ini mengingatkan pada gerakan world music di akhir abad ke-20, namun dengan twist yang lebih kontemporer. Jika dulu musisi Barat mengambil inspirasi dari Timur, kini justru musisi dari negara seperti Indonesia yang mendefinisikan ulang narasi tersebut dari dalam.

Perjalanan Bottlesmoker tidak berhenti di ranah lokal. Mereka telah tampil di berbagai panggung internasional, termasuk Laneway Festival dan Transmusicales. Di sana, mereka berbagi panggung dengan artis global seperti M83 dan Tycho.

Kehadiran mereka di festival internasional bukan hanya soal eksposur, tetapi juga validasi bahwa pendekatan musik yang berakar pada budaya lokal memiliki tempat di panggung global. Ini menjadi bukti bahwa identitas bukanlah batasan, melainkan kekuatan.

Menariknya, Bottlesmoker juga aktif di ruang-ruang alternatif yang menggabungkan musik dengan praktik spiritual dan kesehatan holistik. Salah satu penampilan mereka yang paling dinantikan adalah di Bali Spirit Festival yang berlangsung pada 15–19 April 2026 di Ubud. Festival ini menggabungkan yoga, dance, musik, dan healing—sebuah konteks yang sangat selaras dengan filosofi Bottlesmoker.

Di sinilah musik mereka menemukan dimensi baru. Tidak lagi sekadar hiburan, tetapi menjadi medium transformasi. Penonton tidak hanya mendengar, tetapi juga mengalami—baik secara fisik maupun emosional.

Dalam lanskap musik Indonesia yang semakin didominasi oleh pop dan streaming, keberadaan Bottlesmoker menjadi pengingat bahwa ada jalur lain yang bisa ditempuh. Jalur yang mungkin tidak selalu mainstream, tetapi kaya akan eksplorasi dan makna.

Bagi generasi muda yang sadar budaya, Bottlesmoker menawarkan perspektif baru: bahwa menjadi modern tidak berarti meninggalkan tradisi. Justru, dengan memahami akar budaya, kita bisa menciptakan sesuatu yang benar-benar orisinal dan relevan secara global.

Mereka bukan hanya musisi, tetapi juga kurator pengalaman, peneliti budaya, dan inovator teknologi. Dalam setiap karya, ada dialog antara masa lalu dan masa depan—antara alam dan mesin, antara lokal dan global.

Pada akhirnya, Bottlesmoker bukan sekadar proyek musik. Mereka adalah gerakan—sebuah upaya untuk memperluas definisi musik itu sendiri. Dan di tengah dunia yang semakin seragam, keberanian untuk berbeda mungkin adalah bentuk seni yang paling penting saat ini.

Redaksi Energi Juang News

Anak Kiai Desa Melenting ke Jakarta: Kisah Gus Rozi Menembus Panggung Nasional

Anak Kiai Desa Melenting ke Jakarta: Kisah Gus Rozi Menembus Panggung Nasional

Redaksi Energi Juang News, Jakarta – Di tengah hiruk pikuk ibu kota, muncul sosok muda dengan latar belakang sederhana namun penuh tekad. Mochammad Fathurrozi, atau yang akrab disapa Gus Rozi, menjadi bukti nyata bahwa anak desa pun mampu menembus batas dan bersinar di panggung nasional.

Lahir dan besar sebagai anak kiai di desa, Gus Rozi tumbuh dalam lingkungan religius yang kental dengan nilai kesederhanaan dan perjuangan. Dari pesantren dan kehidupan desa, ia membawa bekal kuat: adab, ilmu, dan semangat pantang menyerah. Namun siapa sangka, langkah kecil dari desa itu kini membawanya “melenting” jauh hingga ke Jakarta.

Perjalanan Gus Rozi bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi lompatan besar dalam mimpi dan perjuangan. Dengan konsistensi dan keberanian membangun relasi, ia kini dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Direktorat Ekonomi Kreatif Pemuda Parlemen Indonesia sebuah posisi strategis yang memberi ruang bagi ide-ide besar anak muda.

Di balik jabatan itu, tersimpan misi besar: membuka jalan bagi generasi muda desa agar tidak merasa kecil di tengah arus globalisasi. Gus Rozi aktif mendorong pengembangan ekonomi kreatif berbasis lokal, mengangkat potensi desa, serta menjembatani kolaborasi antara pemuda dan pemerintah.

“Dari desa kita belajar arti perjuangan, dari kota kita buktikan mimpi,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Kisah Gus Rozi bukan hanya tentang sukses pribadi, tetapi tentang harapan. Harapan bahwa anak kiai, anak desa, dan siapa pun yang berangkat dari keterbatasan, tetap punya kesempatan yang sama untuk berdiri di garis depan perubahan.

Dari suara azan di kampung halaman hingga gema diskusi di gedung-gedung Jakarta, langkah Gus Rozi terus bergerak membawa pesan bahwa mimpi besar tidak mengenal asal usul.

Redaksi Energi Juang News

Pemerintah Berwenang Tentukan Status ‘Aktivis HAM’: Gagasan Berbahaya!

Gagasan bahwa pemerintah berwenang menentukan siapa yang “sah” disebut sebagai aktivis hak asasi manusia (HAM) bukan hanya keliru secara normatif, tetapi juga berbahaya secara politik. Dalam kerangka negara hukum demokratis, status sebagai pembela HAM tidak lahir dari pengakuan negara, melainkan dari praktik, komitmen, dan kerja nyata individu atau kelompok dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan universal.

Dalam perspektif teoretis, pemikiran Hannah Arendt menekankan bahwa hak asasi manusia bersifat inheren pada setiap individu, bukan pemberian negara. Negara memang memiliki kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi HAM, tetapi bukan untuk menentukan siapa yang berhak memperjuangkannya.

Ketika negara mulai mengklaim otoritas untuk mendefinisikan aktor-aktor pembela HAM, di situlah potensi penyalahgunaan kekuasaan terbuka lebar.

Kerangka internasional juga memberikan penegasan yang sangat jelas. Melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, komunitas global mengadopsi Declaration on Human Rights Defenders yang menegaskan bahwa setiap orang, secara individu maupun kolektif, berhak untuk mempromosikan dan memperjuangkan HAM. Tidak ada klausul yang memberikan kewenangan kepada negara untuk “mengakui” atau “mencabut” status seseorang sebagai aktivis HAM.

Sebaliknya, negara justru dibebani kewajiban untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi para pembela HAM.

Secara sosiologis, pandangan Michel Foucault tentang relasi kuasa-pengetahuan menjadi relevan. Upaya negara untuk mendefinisikan siapa yang dapat disebut aktivis HAM merupakan bentuk produksi “kebenaran resmi” yang sarat kepentingan kekuasaan. Dalam praktiknya, definisi tersebut berpotensi digunakan untuk membungkam kritik dan menyingkirkan aktor-aktor yang dianggap mengganggu stabilitas politik atau kepentingan rezim.

Masalahnya menjadi lebih serius jika kita melihat fakta bahwa dalam banyak kasus, negara justru menjadi pihak yang diduga melakukan pelanggaran HAM. Dalam konteks ini, memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk menentukan legitimasi aktivis HAM ibarat memberikan hak kepada pihak yang berpotensi menjadi “terlapor” untuk menentukan siapa yang boleh menjadi “pelapor”. Ini jelas bertentangan dengan prinsip akuntabilitas dan keadilan.

Dalam kajian politik hukum, konsep rule of law menuntut adanya pembatasan kekuasaan negara. Pemikir seperti Lon L. Fuller menekankan bahwa hukum harus menghindari kesewenang-wenangan dan tidak boleh menjadi alat dominasi sepihak. Jika negara diberi kewenangan menentukan status aktivis HAM, maka hukum berpotensi berubah menjadi instrumen kontrol, bukan perlindungan.

Lebih jauh, kebijakan semacam itu berpotensi menciptakan efek gentar (chilling effect) bagi masyarakat sipil. Aktivis HAM bisa menjadi ragu atau takut dalam menjalankan kerja-kerja advokasi karena khawatir statusnya dapat dicabut sewaktu-waktu. Akibatnya, ruang sipil menyempit dan fungsi kontrol terhadap kekuasaan melemah.

Padahal, dalam kerangka normatif internasional, mekanisme yang dibangun negara seharusnya berorientasi pada perlindungan, bukan legitimasi. Negara wajib memastikan bahwa para pembela HAM bebas dari intimidasi, kriminalisasi, dan kekerasan. Ini mencakup jaminan kebebasan berekspresi, berkumpul, dan berserikat—hak-hak fundamental yang menjadi fondasi kerja-kerja advokasi HAM.

Dengan demikian, rencana pemerintah untuk menentukan keabsahan status aktivis HAM bukan hanya melampaui kewenangannya, tetapi juga berpotensi melanggar prinsip-prinsip HAM itu sendiri. Alih-alih memperkuat perlindungan, kebijakan tersebut justru membuka ruang bagi represi baru yang lebih sistematis dan terlegitimasi secara formal.

Dalam negara demokratis, legitimasi aktivisme HAM tidak berasal dari negara, melainkan dari komitmen pada nilai-nilai universal kemanusiaan dan pengakuan sosial yang tumbuh dari masyarakat.

Peran negara seharusnya sederhana namun krusial: memastikan bahwa setiap orang yang memperjuangkan hak asasi manusia dapat melakukannya tanpa rasa takut. Bukan sebaliknya, menjadi pihak yang menentukan siapa yang “layak” dan siapa yang tidak.

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Misteri Hantu Jalur Selatan: Teror Pocong Kecil

pocong jalur selatan Jawa

Energi Juang News, Semarang – Tidak semua jalan diciptakan untuk dilalui manusia di waktu yang salah. Ada jalur-jalur yang secara kasat mata terlihat biasa saja aspal sempit, pepohonan rapat, dan tikungan panjang tetapi menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan oleh logika.

Malam itu, sekitar pukul 23.30, Wahyu dan istrinya melaju dengan sepeda motor menyusuri jalur selatan Jawa Tengah, di antara kawasan hutan yang membentang dari Cilacap menuju Kebumen. Awalnya, perjalanan itu hanyalah keputusan sederhana: mengambil jalan alternatif agar lebih cepat sampai rumah.

Namun sejak roda motor mereka memasuki kawasan hutan, suasana berubah.

“Saya langsung merasa ini bukan jalur biasa,” kata Wahyu pelan.
“Jalannya sempit, gelap… dan anehnya, saya kehilangan jejak teman saya yang tadi di depan.”

Lampu motor menjadi satu-satunya sumber cahaya. Pepohonan di kiri kanan tampak seperti dinding hitam yang hidup, seolah bergerak mengikuti arah mereka.

Semakin dalam mereka masuk ke hutan, suhu udara turun drastis. Dari yang semula hangat menjadi dingin menusuk tulang. Wahyu merasakan sesuatu yang tidak wajar, tetapi ia memilih diam.

“Ada perasaan tidak enak, tapi saya tahan. Saya tidak mau bikin istri panik,” ujarnya.

Namun, rasa takut itu tidak bisa disembunyikan lama.

Tiba-tiba, istrinya menegang. Tangannya mencengkeram bahu Wahyu.

“Mas…” bisiknya lirih.

“Ada apa?” tanya Wahyu, berusaha tetap tenang.

Suara istrinya bergetar.
“Barusan… ada pocong kecil di belakangku.”

Wahyu spontan menoleh ke kaca spion.

Sekilas, ia melihat sesuatu.

Putih.

Melompat.

Bukan satu kali tetapi berulang, seperti mengikuti laju motor mereka.

“Awalnya saya pikir itu ilusi,” katanya.
“Tapi pas saya fokus… itu benar-benar ada.”

Yang membuat bulu kuduknya meremang bukan hanya keberadaan sosok itu, tetapi bentuknya.

Tidak seperti pocong pada umumnya.

“Kalau pocong biasa, kita bisa lihat dari kepala sampai kaki,” jelas Wahyu.
“Ini… kecil. Tapi kepalanya sejajar dengan pundak istri saya.”

Artinya, bagian bawahnya tidak terlihat.

Seolah-olah tubuh itu tidak lengkap.

Atau… tidak berasal dari dunia yang sama.

Wahyu mempercepat laju motor. Mesin meraung, memecah kesunyian hutan. Namun anehnya, hawa dingin justru semakin pekat.

“Saya gas terus, tapi rasanya tidak menjauh,” katanya.

Ia sempat mencoba membuka ponsel untuk melihat GPS.

Tidak ada sinyal.

“Saya lihat layar… kosong. Tidak ada jaringan sama sekali. Di situ saya mulai panik.”

Jalan di depan mereka semakin gelap. Lampu motor bergetar, seolah ikut merasakan ketakutan yang sama. Tidak ada suara lain tidak ada kendaraan, tidak ada hewan, bahkan tidak ada angin.

Hanya suara mesin… dan sesuatu yang mengikuti di belakang.

“Mas… dia masih ada…” bisik istrinya hampir menangis.

Waktu berjalan lambat. Sangat lambat.

Setiap detik terasa seperti menit, dan setiap menit seperti jam.

Wahyu tidak berani lagi melihat ke spion. Ia hanya fokus pada jalan, berharap segera menemukan tanda kehidupan lampu, rumah, atau apa pun yang menandakan mereka kembali ke dunia manusia.

Akhirnya, setelah sekitar 20 menit yang terasa seperti keabadian, sebuah cahaya muncul di kejauhan.

Hawa dingin yang sejak tadi menyelimuti tubuh mereka tiba-tiba menghilang. Digantikan oleh udara hangat yang lembap.

Sesampainya di rumah, Wahyu masih gemetar. Tangannya sulit berhenti bergetar saat mematikan mesin motor.

Selama berjam-jam dan hanya duduk diam, menatap kosong.

“Biasanya dia cerewet,” kata Wahyu.
“Tapi malam itu… dia tidak bicara sama sekali.”

Kesunyian itu justru lebih menakutkan daripada apa yang mereka lihat di hutan.

ebagai seorang pengamat supranatural, ada pola yang sering muncul dalam kasus seperti ini:
lokasi terpencil, waktu larut malam, kondisi fisik lelah, dan keputusan impulsif.

Semua itu membuka “celah”.

Bukan sekadar celah psikologis tetapi juga kemungkinan celah antara dua dunia yang saling bersinggungan.

Hutan di jalur selatan Jawa dikenal sebagai kawasan yang masih “liar” bukan hanya secara alam, tetapi juga secara energi.

Beberapa titik diyakini sebagai jalur lintasan makhluk tak kasat mata.

Dan ketika manusia melintas tanpa persiapan… terkadang mereka “terlihat”.

Redaksi Energi Juang News

Danantara Rombak Danareksa, Target Rp185 Triliun

Danantara Rombak Danareksa, Target Rp185 Triliun

Energi Juang News, Jakarta- Pemerintah mulai mengakselerasi perubahan besar pada struktur perusahaan pelat merah dengan merombak peran PT Danareksa (Persero). Langkah ini menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat pengelolaan aset negara melalui pendekatan yang lebih terfokus dan terintegrasi.

Restrukturisasi Besar: Danareksa Tak Lagi Jadi Holding

Badan Pengaturan (BP) BUMN bersama Danantara resmi menjalankan restrukturisasi terhadap Danareksa. Perusahaan ini akan dialihkan menjadi entitas khusus pengelola aset dengan target dana kelolaan mencapai Rp185 triliun.

“Dia (Danareksa) tidak holding lagi. Tapi merger menjadi satu company yang kuat dan itu akan menjadi asset management yang nomor dua terbesar. Sebagai gambaran, dana kelolaan MI Himbara saat ini mencapai Rp185 triliun,” ujar Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Kamis, 30 April 2026.

Transformasi ini ditandai dengan pemisahan sejumlah lini usaha yang dinilai tidak relevan dengan bisnis inti. Unit seperti kawasan industri, konstruksi, clearing house, dan jasa keuangan akan dilepas dan dialihkan ke holding sektoral masing-masing.

Fokus Baru: Kembali ke Bisnis Inti Pengelolaan Aset

Langkah ini menegaskan arah baru Danareksa sebagai perusahaan manajemen aset. Dony menegaskan bahwa struktur baru akan menggabungkan beberapa entitas sejenis menjadi satu kekuatan besar.

“Jadi nanti Danareksa itu akan menjadi asset management. Kembali ke khitahnya. Jadi nanti dari hasil merger yang empat, itu ada empat asset management kita (BUMN), itu akan menjadi Danareksa,” ujar Dony.

Proses pelepasan anak usaha ditargetkan selesai pada pertengahan bulan depan. Sementara itu, hasil konsolidasi direncanakan diumumkan pada 10 Mei mendatang.

Konsolidasi MI Himbara Dorong Lonjakan Aset

Salah satu faktor utama yang akan mendongkrak nilai kelolaan adalah integrasi Manajer Investasi (MI) dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Seluruh MI tersebut akan berada di bawah satu payung, yaitu Danareksa.

Dengan skema ini, total dana kelolaan diproyeksikan mencapai Rp185 triliun. Angka tersebut berpotensi menempatkan Danareksa sebagai perusahaan manajemen aset terbesar kedua di Indonesia.

Harapan Pemerintah: Lebih Efisien dan Profesional

Pemerintah mendorong perubahan ini agar pengelolaan aset negara menjadi lebih tajam dan profesional. Model bisnis lama yang tersebar dinilai kurang optimal dalam menciptakan nilai.

Melalui pendekatan baru yang lebih fokus, Danareksa diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat posisi di industri manajemen aset nasional.

Redaksi Energi Juang News