Kamis, Mei 28, 2026
spot_img
Beranda blog Halaman 59

Paus Leo XIV ‘Melawan’ Donald Trump: Suara Agama Melawan Imperialisme

Paus Leo XIV vs Trump

Paus Leo XIV yang kini beradu retorika Presiden Amerika Serikat Donald Trump,  menjadi sorotan dunia internasional. Ketegangan ini diawali pernyataan keras Trump yang menyebut Paus sebagai “lemah dalam kejahatan” dan “buruk dalam kebijakan luar negeri”, serta klaim bahwa terpilihnya Paus Leo XIV sebagai pontiff pertama asal Amerika Serikat merupakan buah dari pengaruhnya, bukan sekadar polemik personal.

Lebih jauh, ini mencerminkan benturan ideologis antara kekuatan politik global dan otoritas moral keagamaan.

Respons Paus Leo XIV yang tenang—menyatakan bahwa ia “tidak takut pada pemerintahan Trump” dan akan terus menyuarakan perdamaian—menegaskan posisi Gereja sebagai institusi moral yang berdiri di atas kepentingan politik jangka pendek. Sikap ini dapat dibaca sebagai manifestasi perjuangan agama untuk keadilan global dan penolakan terhadap imperialisme yang mengandalkan konflik bersenjata.

Agama sebagai Otoritas Moral Global

Dalam perspektif sosiologi agama, Max Weber menjelaskan bahwa agama memiliki bentuk otoritas karismatik yang mampu memengaruhi tindakan sosial, bahkan melampaui kekuatan negara.

Paus, sebagai pemimpin Gereja Katolik, tidak hanya berbicara kepada umatnya, tetapi juga kepada komunitas global mengenai nilai-nilai universal seperti perdamaian, keadilan, dan kemanusiaan.

Ketika Paus Leo XIV menolak retorika konfrontatif dan tetap konsisten pada pesan damai, ia sedang menjalankan fungsi agama sebagai moral compass dunia. Ini menjadi penting di tengah politik global yang kerap didominasi oleh logika kekuasaan dan kepentingan nasional sempit.

Kritik terhadap Imperialisme dan Politik Kekuasaan

Pernyataan Trump dapat dipahami dalam kerangka realisme politik, sebagaimana dikemukakan oleh Hans Morgenthau, yang menempatkan kekuasaan sebagai inti hubungan internasional. Dalam logika ini, kebijakan luar negeri dinilai dari efektivitasnya dalam memperkuat dominasi negara.

Namun, pendekatan ini seringkali berbenturan dengan nilai-nilai etis yang diusung agama. Kritik Paus—meski disampaikan secara implisit melalui seruan perdamaian—merupakan bentuk resistensi terhadap praktik imperialisme modern yang sering memicu perang, baik secara langsung maupun melalui proxy.

Sejarah menunjukkan bahwa intervensi politik global yang didorong oleh ambisi kekuasaan kerap berujung pada konflik berkepanjangan. Dalam konteks ini, sikap Paus Leo XIV menjadi representasi dari apa yang oleh Jürgen Habermas disebut sebagai komunikasi rasional, yaitu upaya membangun dialog berbasis etika, bukan dominasi.

Ketegangan sebagai Manifestasi Dialektika Moral vs Kekuasaan

Ketegangan antara Paus Leo XIV dan Donald Trump bukanlah anomali, melainkan bagian dari dialektika klasik antara moralitas dan kekuasaan. Antonio Gramsci menyebut bahwa dominasi tidak hanya bersifat material, tetapi juga kultural dan ideologis.

Dalam hal ini, agama berperan sebagai kekuatan kontra-hegemonik yang menantang narasi dominan kekuasaan.

Paus Leo XIV, dengan sikapnya yang tidak gentar, sedang membangun narasi alternatif: bahwa dunia tidak harus tunduk pada logika kekuatan militer dan ekonomi, melainkan dapat diarahkan oleh nilai-nilai kemanusiaan universal.

Implikasi bagi Perdamaian Dunia

Dalam konteks global yang rentan konflik, suara agama seperti yang disuarakan Paus Leo XIV menjadi semakin relevan. Ketika pemimpin politik menggunakan retorika yang berpotensi memecah belah dan memicu ketegangan internasional, peran institusi keagamaan sebagai penyeimbang menjadi krusial.

Ketegangan ini juga memberikan pelajaran bahwa legitimasi moral tidak selalu sejalan dengan legitimasi politik. Bahkan, dalam banyak kasus, keduanya justru berseberangan. Di sinilah agama memainkan peran penting sebagai pengingat bahwa kekuasaan tanpa etika dapat membawa dunia ke jurang peperangan.

Maka, sejatinya ketegangan antara Paus Leo XIV dan Donald Trump mencerminkan lebih dari sekadar konflik personal; ia adalah simbol pertarungan antara nilai-nilai kemanusiaan universal dan ambisi kekuasaan global. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, suara agama yang konsisten memperjuangkan perdamaian dan keadilan menjadi harapan penting bagi masa depan umat manusia.

Dengan demikian, sikap Paus Leo XIV bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan moral yang menantang arus imperialisme modern—sebuah keberanian yang justru semakin langka di panggung politik global saat ini.

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Redaksi Energi Juang News

Selalu Ikuti Kata Hati, Tapi Jangan Tinggalin Otak

Ikuti hati, tapi pakai otak 2
Ikuti hati, tapi pakai otak 2

Energi Juang News, Bojonegoro- Ada pepatah yang katanya bijak, katanya romantis, katanya cocok buat caption Instagram: “Selalu ikuti kata hatimu.”
Sayangnya, banyak yang berhenti di situ. Titik. Tamat. Otaknya ditinggal di rumah, mungkin lagi ngecas, mungkin juga lupa password.

Padahal, kalau mau jujur, hati itu kadang seperti anak kecil di minimarket: semua pengen diambil, nggak peduli itu perlu atau nggak.

Kisah ini dimulai dari seorang pria sebut saja namanya Pairin,26. Bukan nama sebenarnya, tapi cukup mewakili jutaan Pairin lain di luar sana yang percaya bahwa hidup itu harus mengikuti “getaran hati”. Padahal yang bergetar bukan hati, tapi notifikasi chat dari seseorang yang bukan pasangannya.

Pairin sebenarnya sudah punya istri Peni,27 yang terbilang jarang turun mesin. Hubungan yang sudah berjalan cukup lama, penuh kenangan, penuh cicilan perasaan, bahkan mungkin sudah masuk tahap “urusan servis sentolop dikamar”. Tapi seperti biasa, manusia itu punya bakat alami: bosan.

Masuklah WIL yang mungkin desahan,belaian dan servis versi yang berbeda dengan istrinya.Minthul,24 sosok baru yang hadir seperti diskon besar di akhir bulan yang menggiurkan, tidak direncanakan, dan biasanya berujung penyesalan. Dia hadir bukan karena takdir, tapi karena kebutuhan biologis yang terlalu dipaksakan jadi alasan.

Awalnya cuma chat ringan. Basa-basi. Tukar meme. Lalu naik level jadi curhat. Dari curhat jadi nyaman. Dari nyaman jadi tuman… Semua terjadi tanpa rapat koordinasi dengan otak, langsung bertindak.

Di sinilah pepatah tadi mulai menunjukkan sisi gelapnya. Mengikuti perasaan memang terdengar puitis. Tapi kalau tanpa logika, hasilnya bukan puisi melainkan komedi tragis.

Pairin mulai menjalani hidup ganda. Siang hari jadi pasangan setia, malam hari jadi penyair cinta dadakan untuk orang lain. Hebatnya, dia merasa ini semua “alami”. Katanya, “nggak bisa dipaksakan, ini perasaan.”

Lucu ya. Perasaan selalu jadi kambing hitam. Padahal yang sebenarnya terjadi: keputusan sadar yang dibungkus dengan alasan emosional.

Sementara itu, Peni pasangan sahnya mulai merasakan ada yang aneh. Bukan karena punya indra keenam, tapi karena perubahan kecil yang terlalu jelas, sudah jarang minta yang aneh aneh lagi kalau malam. Balasan chat yang makin singkat. Tatapan yang makin kosong. Dan alasan-alasan yang makin kreatif sayangnya bukan kreatif yang membanggakan.

Sampai akhirnya, seperti semua cerita klise yang tidak pernah belajar dari sejarah, semuanya terbongkar.

Tak ada asap kalau tak ada api. Yang ada hanya keheningan yang lebih menyakitkan dari kata-kata.

Ironisnya, hubungan barunya pun tidak bertahan lama. Karena, Peni berhasil mergoki suaminya sedang indehoy memanjakan sentolop bersama Minthul di hotel melati. Alasan alasan Pairin ke Peni ternyata seperti fondasi yang dibangun dari kebohongan tidak cukup kuat untuk menopang masalah masa depan.

Karena Minthul sudah biasa selingkuh hanya untuk mengeruk harta Pairin pun akhirnya pergi. Mungkin menemukan Pairin versi lain di tempat lain. Siklus yang sama, cerita yang sama, hanya nama yang berbeda.

“Ikuti kata hatimu, tapi pastikan otakmu ikut rapat.” nasehat Pak Satpol PP.

Tanpa itu, yang terjadi bukan kisah cinta yang indah, melainkan episode panjang dari serial “Kenapa Hidupku Jadi Gini?”

Dan kalau dipikir-pikir, mungkin yang paling setia dalam cerita ini bukan Pairin, bukan Peni pasangannya, bukan juga Minthulselingkuhannya.

Tapi kebiasaan manusia untuk mengulangi kesalahan yang sama, sambil berharap hasilnya berbeda.

Kalau sudah begini, siapa yang salah?

Di titik ini, Pairin baru sadar. Bahwa mengikuti hati tanpa berpikir bukanlah keberanian, tapi kecerobohan yang dibungkus romantisme murahan.

Dia kehilangan sesuatu yang dulu dianggap biasa. Kehilangan yang tidak bisa diganti dengan chat manis atau perhatian sesaat. Kehilangan yang baru terasa berat setelah benar-benar pergi.

Dan begitulah kisah ini berakhir dengan Peni yang memaafkan kelakuan Pairin. Dikemudian hari mereka melanjutkan proyek Pairin Junior versi 2.

Redaksi Energi Juang News

Jejak Tak Kasat Mata di Gunung Penanggungan: Kisah yang Tak Pernah Usai

gunung penanggungan
gunung penanggungan

Energi Juang News,Kediri- Langit sore itu tampak biasa saja ketika Arga memulai pendakiannya. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, dan suara burung terdengar samar seperti bisikan dari dunia lain. Ia mengira perjalanan ini hanya akan menjadi petualangan biasa—hingga langkahnya membawa ia lebih dalam ke wilayah yang tidak semua orang berani datangi.

Gunung yang ia daki adalah Gunung Penanggungan, sebuah tempat yang tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena lapisan sejarah dan spiritual yang begitu pekat. Terletak di antara Mojokerto dan Pasuruan, gunung ini berdiri setinggi 1.653 meter di atas permukaan laut, seolah menjadi penjaga sunyi dari masa lalu yang belum selesai.

Arga mulai merasakan sesuatu yang janggal saat melewati reruntuhan candi kecil yang tersembunyi di balik semak belukar. Batu-batu kuno itu dingin, bahkan saat disentuh di bawah matahari sore. Ia pernah membaca bahwa puluhan situs peninggalan Hindu-Buddha tersebar di lereng gunung ini, namun merasakannya secara langsung adalah pengalaman yang berbeda.

Malam turun lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Di tengah hutan yang semakin gelap, Arga memutuskan untuk beristirahat. Ia mendirikan tenda di area datar yang konon dulunya digunakan sebagai tempat pertapaan para ksatria kerajaan. Angin malam membawa aroma tanah basah dan sesuatu yang sulit dijelaskan—seperti dupa yang terbakar tanpa sumber.

Saat itulah ia mendengar suara.

Lirih. Seperti seseorang memanggil namanya.

“Arga…”

Ia terbangun dengan jantung berdegup kencang. Suara itu bukan dari dalam mimpinya. Itu nyata. Ia membuka tenda perlahan, dan di antara kabut yang mulai menebal, ia melihat sosok perempuan berdiri tak jauh dari tempatnya.

Rambutnya panjang, menjuntai hingga pinggang. Pakaiannya menyerupai busana kuno, putih namun tampak kusam oleh waktu. Wajahnya samar, namun cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ia sedang tersenyum.

Senyum yang tidak menenangkan.

Penduduk setempat menyebut sosok itu sebagai Putri Ayu Tanding. Dalam cerita turun-temurun, ia bukan sekadar makhluk halus, melainkan penjaga spiritual gunung ini. Ada yang percaya ia melindungi, namun ada pula yang bersumpah bahwa siapa pun yang melihatnya tak akan pernah pulang dengan keadaan yang sama.

Arga mencoba bergerak, namun tubuhnya terasa berat. Seolah tanah di bawahnya menahan setiap langkah. Sosok itu perlahan mendekat, langkahnya tidak terdengar, hanya kabut yang bergeser mengikuti kehadirannya.

“Kenapa kamu datang tanpa izin?” suara itu kini terdengar jelas, namun bibirnya tidak bergerak.

Arga ingin menjawab, tetapi suaranya tercekat. Dalam benaknya, potongan cerita yang pernah ia dengar kembali muncul—tentang para pertapa zaman Kerajaan Kediri yang mencari pencerahan di gunung ini, tentang ritual yang membuka batas antara dunia manusia dan dunia lain.

Dan mungkin… ia telah melangkah terlalu jauh.

Sosok Putri Ayu Tanding berhenti tepat di depannya. Matanya kini terlihat—kosong, namun dalam, seperti jurang tanpa dasar. Tiba-tiba, suara-suara lain mulai bermunculan. Bisikan, tangisan, bahkan tawa kecil yang menggema dari berbagai arah.

Arga menutup telinganya, tetapi suara itu tetap masuk.

Di kejauhan, ia melihat bayangan lain bergerak di antara pepohonan. Bentuknya tidak jelas—kadang menyerupai manusia, kadang hanya bayangan transparan yang melayang tanpa arah. Inilah yang sering diceritakan warga: penampakan makhluk gaib yang muncul di malam hari, terutama di area yang dekat dengan situs kuno.

Beberapa peneliti menyebut fenomena ini sebagai efek psikologis akibat kelelahan. Namun bagi mereka yang pernah mengalaminya, penjelasan itu terasa terlalu sederhana.

Karena apa yang mereka lihat… terasa nyata.

Dalam kondisi antara sadar dan tidak, Arga tiba-tiba teringat pesan seorang sesepuh yang ia temui sebelum pendakian:
“Gunung itu bukan hanya tanah dan batu. Ia hidup. Dan tidak semua yang hidup ingin kamu lihat.”

Dengan sisa tenaga, Arga memejamkan mata dan berusaha mengatur napas. Ia mencoba memohon—entah kepada siapa—agar diizinkan pergi.

Beberapa saat kemudian, semua suara berhenti.

Ketika ia membuka mata, sosok itu sudah hilang.

Kabut perlahan menipis, dan hutan kembali sunyi seperti semula. Namun sesuatu telah berubah. Udara terasa lebih dingin, dan tanah di sekitarnya tampak seperti baru saja terganggu.

Pagi harinya, Arga turun gunung tanpa banyak bicara. Ia melewati kembali candi-candi kuno, pepohonan, dan jalur yang sama—namun semuanya terasa berbeda. Seolah gunung itu telah memperlihatkan wajah lain yang tidak semua orang bisa lihat.

Gunung Penanggungan memang bukan yang tertinggi di Jawa Timur, terutama jika dibandingkan dengan Gunung Arjuno atau Gunung Welirang. Namun kekuatannya tidak terletak pada ketinggian, melainkan pada lapisan misteri yang menyelimuti setiap sudutnya.

Hingga kini, kisah tentang sosok Putri Ayu Tanding dan penampakan lain masih terus diceritakan. Para praktisi spiritual datang untuk bermeditasi, para peneliti mencoba mencari jawaban, dan para pendaki… sebagian pulang dengan cerita yang tak bisa mereka jelaskan.

Namun bagi mereka yang pernah merasakannya, satu hal menjadi pasti—ada sesuatu di sana yang memperhatikan.

Redaksi Energi Juang News

Musik dan Tari Zapin: Warisan Kreatif Tom Ibnur yang Mendunia

Tom Ibnur
Tom Ibnur

Energi Juang News,Padang- Dalam perjalanan budaya Indonesia, seni sering kali lahir dari persilangan yang tak terduga—antara tradisi dan modernitas, antara tubuh dan bunyi, antara ruang lokal dan panggung global. Dari pertemuan itu, muncul bentuk-bentuk ekspresi yang tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga kaya akan makna dan sejarah.

Salah satu sosok yang berhasil menjembatani semua itu adalah Tom Ibnur. Nama aslinya mungkin tidak terlalu populer di telinga awam, tetapi kontribusinya dalam dunia tari dan budaya Nusantara menjadikannya figur penting yang tak bisa diabaikan. Ia dikenal luas sebagai “Raja Zapin Nusantara,” seorang koreografer yang berhasil membawa tari zapin ke level yang lebih luas dan relevan dengan zaman.

Untuk memahami karya Tom Ibnur, kita perlu kembali ke akar zapin itu sendiri. Zapin adalah bentuk tari tradisional Melayu yang memiliki hubungan erat dengan musik. Tidak seperti banyak tarian lain, zapin tidak bisa dipisahkan dari irama—ia hidup dari denting gambus, ketukan marwas, dan alur melodi yang khas.

Di sinilah letak kekuatan utama zapin: musik bukan sekadar pengiring, melainkan fondasi. Gerakan tari lahir dari tempo, aksen, dan dinamika musiknya. Dalam banyak tradisi Melayu, zapin bahkan menjadi medium dakwah, di mana syair dan irama membawa pesan spiritual sekaligus sosial.

Tom Ibnur memahami hal ini sejak awal. Berangkat dari latar Minangkabau yang kental dengan tradisi silat, ia melihat kesamaan antara gerak bela diri dan ritme musik. Baginya, menari sama dengan “mendengar tubuh sendiri bergerak dalam irama.”

Menjadi seniman bukanlah jalan yang selalu mulus, dan kisah Tom Ibnur adalah contoh nyata. Lahir di Padang pada tahun 1952, ia tumbuh dengan kecintaan besar terhadap tari. Namun, seperti banyak anak muda pada zamannya, ia harus menghadapi tekanan keluarga yang menganggap seni bukan pilihan karier yang menjanjikan.

Ia sempat mengikuti jalur “aman” dengan belajar analis kimia dan bekerja di perusahaan besar. Bahkan, ia berhasil mencapai posisi kepala laboratorium—sebuah pencapaian yang secara sosial dianggap sukses.

Namun, ada satu hal yang tidak bisa ia abaikan: panggilan hati.

Titik baliknya terjadi saat ia berada di Sydney dan menyaksikan kemegahan Sydney Opera House. Di sana, ia melihat bagaimana seni dihargai sebagai bagian penting dari kehidupan. Pengalaman itu seperti menyalakan kembali api yang sempat padam.

Akhirnya, ia mengambil keputusan besar: meninggalkan karier stabil dan kembali ke dunia seni.

Keputusan Tom untuk belajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) menjadi langkah penting dalam perjalanan artistiknya. Di sana, ia tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memperdalam pemahaman tentang tradisi.

Ia melakukan riset mendalam, menjelajah berbagai daerah di Indonesia hingga ke Malaysia, Brunei, dan Singapura. Perjalanan ini membawanya pada pemahaman bahwa zapin bukan sekadar tarian, tetapi bagian dari jaringan budaya Melayu yang luas.

Dari sinilah lahir gagasan besarnya: bagaimana membuat zapin tetap hidup tanpa kehilangan akarnya?

Jawabannya adalah neo zapin.

Neo zapin adalah bentuk pembaruan yang tetap berpijak pada tradisi. Dalam karya ini, Tom Ibnur memperluas elemen gerak, ruang, dan tentu saja musik. Ia berani keluar dari pakem lama yang kaku, namun tetap menjaga identitas zapin.

Musik dalam neo zapin menjadi lebih eksploratif. Tempo bisa berubah drastis, ritme menjadi lebih dinamis, dan suasana menjadi lebih bebas. Ini bukan sekadar inovasi teknis, tetapi juga pernyataan artistik bahwa tradisi bisa berkembang tanpa harus kehilangan jiwanya.

Salah satu aspek paling menarik dari karya Tom Ibnur adalah bagaimana ia memperlakukan musik. Ia tidak melihat musik sebagai sesuatu yang statis, tetapi sebagai ruang eksperimen.

Dalam zapin tradisional, pola ritme cenderung repetitif. Namun, Tom melihat peluang di dalamnya. Ia mengeksplorasi bagaimana tempo bisa dimainkan—dari cepat ke lambat, dari stabil ke tidak terduga.

Pendekatan ini membuat zapin terasa lebih “hidup” dan relevan dengan audiens modern. Bagi generasi muda yang terbiasa dengan musik digital dan genre yang beragam, pendekatan ini menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi dengan selera kontemporer.

Dedikasi Tom Ibnur tidak berhenti di panggung lokal. Ia membawa zapin ke lebih dari 35 negara, memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke dunia internasional.

Menariknya, di banyak negara, zapin justru mendapat apresiasi yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa seni tradisional memiliki daya tarik universal, selama disajikan dengan cara yang tepat.

Kolaborasinya dengan berbagai seniman, termasuk dalam festival internasional, membuktikan bahwa zapin bisa berdialog dengan budaya lain tanpa kehilangan identitasnya.

Meski telah mencapai banyak hal, Tom Ibnur tetap kritis terhadap perkembangan zapin saat ini. Ia melihat banyak karya baru yang kehilangan “jiwa”—terlalu fokus pada bentuk, tetapi kurang memahami makna.

Pesannya sederhana namun penting: jangan meninggalkan tradisi.

Bagi generasi muda, ini adalah tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, ada kebebasan untuk bereksperimen. Di sisi lain, ada tanggung jawab untuk memahami akar budaya.

Warisan terbesar Tom Ibnur bukan hanya ratusan karya tari yang ia ciptakan, tetapi juga filosofi yang ia tanamkan: bahwa seni adalah proses belajar yang tidak pernah selesai.

Ia juga berperan sebagai pendidik, membimbing generasi baru untuk memahami zapin tidak hanya sebagai tarian, tetapi sebagai cara berpikir dan merasakan.

Dalam dunia yang serba cepat, pendekatan ini menjadi pengingat bahwa seni membutuhkan waktu, kesabaran, dan kedalaman.

Musik dan tari zapin adalah bukti bahwa tradisi tidak pernah benar-benar diam. Ia terus bergerak, berubah, dan beradaptasi.

Melalui perjalanan Tom Ibnur, kita melihat bagaimana satu individu bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan. Ia tidak hanya menjaga warisan, tetapi juga memberi napas baru agar tetap relevan.

Dan mungkin, di tengah kehidupan modern yang serba instan, kita bisa belajar satu hal penting: bahwa dalam setiap ritme—baik dalam musik maupun kehidupan—selalu ada ruang untuk mendengar, memahami, dan akhirnya, menemukan jati diri.

Redaksi Energi Juang News

Prabowo–Macron Bahas Alutsista dan Energi

Prabowo–Macron Bahas Alutsista dan Energi

Energi Juang News, Jakarta- Presiden RI Prabowo Subianto melanjutkan rangkaian kunjungan luar negerinya dengan bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Élysée. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya mempererat hubungan bilateral sekaligus membuka peluang kolaborasi baru di berbagai sektor strategis.

Bahas Alutsista hingga Energi Terbarukan

Dalam pertemuan tersebut, kedua kepala negara membicarakan sejumlah isu penting yang mencakup sektor pertahanan hingga energi masa depan.

“Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin negara membahas penguatan kerja sama di berbagai sektor, termasuk pengadaan alutsista dan penguatan industri pertahanan, transisi energi dan pengembangan energi baru terbarukan, infrastruktur dan transportasi, hingga pendidikan dan ekonomi kreatif,” tulis keterangan dalam akun Presiden Republik Indonesia, dilihat Rabu (15/4/2026).

Pembahasan ini menunjukkan keseriusan kedua negara dalam memperluas kerja sama yang tidak hanya fokus pada keamanan, tetapi juga pembangunan berkelanjutan.

Prancis Jadi Mitra Kunci Indonesia di Eropa

Indonesia menempatkan Prancis sebagai salah satu mitra strategis di kawasan Eropa. Hubungan ini terus didorong agar menghasilkan kerja sama yang lebih konkret dan saling menguntungkan.

“Sebagai salah satu mitra penting di kawasan Eropa, Indonesia terus mendorong kerja sama berkelanjutan dengan Prancis guna membuka peluang kolaborasi baru yang semakin konkret dan saling menguntungkan bagi kedua negara,” ujarnya.

Pertemuan Resmi Penuh Protokol Kenegaraan

Pertemuan berlangsung di Istana Élysée, Paris, Selasa (14/4) waktu setempat. Prabowo Subianto mendapat sambutan resmi dari Emmanuel Macron, lengkap dengan pasukan kehormatan yang memberikan penghormatan militer.

Keduanya sempat berjabat tangan dan berbincang singkat sebelum masuk ke agenda inti. Pertemuan empat mata kemudian digelar di ruang Les Salon des Portraits untuk membahas isu-isu strategis secara lebih mendalam.

Diplomasi Makan Siang Pererat Hubungan Personal

Agenda dilanjutkan dengan jamuan makan siang resmi. Momen ini menjadi bagian penting dari diplomasi tingkat tinggi yang sering dimanfaatkan untuk memperkuat kedekatan personal antar pemimpin negara.

Langkah ini dinilai dapat memperlancar komunikasi dan memperkuat kepercayaan dalam kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan Prancis.

Redaksi Energi Juang News

Hujan Deras Rendam Solo, 8 Kelurahan Banjir

Hujan Deras Rendam Solo, 8 Kelurahan Banjir

Energi Juang News, Jakarta- Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Solo Raya sepanjang malam menyebabkan genangan air meluas di sejumlah permukiman. Dampaknya, ratusan rumah warga di beberapa titik terdampak luapan air yang masuk hingga ke dalam rumah.

Delapan Kelurahan Terdampak Banjir

Peristiwa ini terjadi pada Rabu (15/4/2026) dini hari. Air mulai menggenangi kawasan permukiman sekitar pukul 00.02 WIB. Sejumlah wilayah terdampak tersebar di beberapa kelurahan dengan kondisi yang berbeda-beda.

Humas Basarnas Solo, Aditya, mengungkapkan bahwa terdapat delapan kelurahan yang terdampak banjir dengan ketinggian air yang bervariasi.

“Yang terdampak ada sejumlah kelurahan, ketinggian bervariasi, salah satunya ada yang setinggi panggul orang dewasa, ada yang 80-120 sentimeter,” katanya saat dihubungi.

Wilayah yang terdampak meliputi Pajang, Joyosuran, Tipes, Joyontakan, Bumi, Sondakan, Kratonan, dan Panularan.

Hujan Lama Jadi Pemicu Utama

Banjir dipicu oleh hujan deras yang turun cukup lama di kawasan Solo Raya. Intensitas tinggi dalam durasi panjang membuat saluran air tidak mampu menampung debit yang terus meningkat.

“Penyebab karena hujan deras di seputaran Solo Raya yang berdurasi lama mengakibatkan banjir genangan di beberapa titik lokasi,” ucapnya.

Kondisi ini menyebabkan air cepat meluas ke area permukiman warga, terutama di wilayah dengan sistem drainase terbatas.

Warga Mengungsi ke Kantor Kelurahan

Sejumlah warga terdampak langsung dievakuasi ke lokasi yang lebih aman. Saat ini, sebagian pengungsi berada di kantor kelurahan masing-masing.

Petugas masih terus melakukan pemantauan dan penanganan di lapangan untuk memastikan kondisi tetap terkendali serta membantu warga yang membutuhkan bantuan.

Redaksi Energi Juang News

Ancaman DO Grup Chat FHUI Pelecehan

Ancaman DO Grup Chat FHUI Pelecehan

Energi Juang News, Jakarta- Kasus dugaan pelecehan seksual di lingkungan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia menjadi sorotan publik. Pihak kampus kini bergerak cepat untuk menelusuri isi percakapan grup chat yang viral dan memicu keresahan di kalangan mahasiswa.

Investigasi Kampus dan Ancaman Sanksi Berat

Fakultas Hukum Universitas Indonesia mengonfirmasi telah menerima laporan terkait isi percakapan yang mengandung unsur pelecehan. Kampus mengecam keras tindakan yang dinilai merendahkan martabat manusia serta melanggar nilai hukum dan etika akademik.

“Saat ini, Fakultas tengah melakukan penelusuran dan verifikasi secara serius, cermat, dan menyeluruh. Proses ini dilakukan dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dan keadilan,” demikian pernyataan Fakultas Hukum UI lewat akun Instagramnya seperti dilihat, Senin (13/4).

16 Mahasiswa Dipertemukan dalam Forum Terbuka

Sebanyak 16 mahasiswa yang diduga terlibat telah dikumpulkan dalam sebuah forum di Auditorium DH UI. Forum ini memberi ruang bagi korban untuk menyampaikan langsung kekecewaan mereka.

“Tadi malam memang sudah dilaksanakan forum di Auditorium DH UI yang bertujuan untuk mewadahi para korban yang ingin mendapatkan permohonan maaf secara langsung dari para pelaku,” kata Ketua BEM FH UI Anandaku Dimas Rumi Chattaristo kepada wartawan, Selasa (14/4/2026).

Para korban meluapkan emosi mereka dalam forum tersebut. Suasana sempat riuh oleh sorakan, namun tetap terkendali tanpa adanya kekerasan fisik.

“Terdapat keenam belas pelaku yang hadir semalam. Teruntuk respons para korban, rasanya saya tidak dapat mewakili keseluruhan perasaan korban dan saya menghargai apa yang mereka rasakan, tapi pastinya rasa kecewa dan kesal pasti meliputi mereka yang menjadi korban,” ujarnya.

Korban Desak Sanksi Tegas, Bukan Sekadar Maaf

Desakan agar pelaku mendapatkan hukuman tegas terus menguat. Permintaan maaf dinilai tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan ini.

“Namun, pastinya, perlu ditegaskan kembali bahwa permintaan maaf saja tidak akan cukup, perlu ada sanksi yang tegas dan berpihak kepada korban dalam kasus ini,” ujarnya.

Dimas juga menggambarkan suasana forum yang penuh emosi karena mahasiswa merasa ruang aman mereka telah dirusak.

“Riuh dan penuh sorakan rasanya merupakan bentuk ekspresi para korban yang kecewa bahkan resah serta mahasiswa lainnya yang khawatir karena ruang amannya direnggut oleh para pelaku,” kata Dimas.

UI Siapkan DO Jika Terbukti Bersalah

Universitas Indonesia menegaskan bahwa kekerasan seksual, termasuk dalam bentuk verbal di ruang digital, merupakan pelanggaran serius. Saat ini, investigasi dilakukan melalui Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS).

“UI menegaskan bahwa setiap bentuk kekerasan seksual, termasuk yang bersifat verbal dan terjadi dalam interaksi digital maupun luring, merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai dasar universitas, kode etik sivitas akademika, serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku,” kata Direktur Humas UI Erwin Agustian Panigoro di kampus UI Depok, seperti dikutip Antara, Selasa (14/4/2026).

Proses investigasi mencakup verifikasi laporan, pemanggilan pihak terkait, hingga pengumpulan bukti. Fakultas juga telah melakukan langkah awal dengan memanggil mahasiswa yang diduga terlibat.

Selain itu, Badan Perwakilan Mahasiswa FHUI telah menjatuhkan sanksi organisasi berupa pencabutan status keanggotaan aktif terhadap sejumlah mahasiswa melalui Surat Keputusan Nomor 007/SK/BPMFHUI/IV/2026.

Jika terbukti melanggar, kampus akan menjatuhkan sanksi tegas, mulai dari sanksi akademik hingga pemberhentian sebagai mahasiswa. Tidak menutup kemungkinan kasus ini juga dibawa ke ranah hukum jika ditemukan unsur pidana.

Pendampingan Korban dan Imbauan Bijak Bermedia

Universitas Indonesia memastikan korban mendapat pendampingan menyeluruh, mulai dari aspek psikologis, hukum, hingga akademik. Kampus juga menjamin kerahasiaan identitas korban.

Pihak kampus mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Langkah ini penting untuk menjaga integritas proses investigasi serta melindungi semua pihak yang terlibat.

UI menegaskan komitmennya untuk memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual melalui kebijakan yang lebih tegas dan edukasi berkelanjutan demi menciptakan lingkungan kampus yang aman.

Redaksi Energi Juang News

Status Tersangka Sekjen DPR Gugur di Praperadilan

Status Tersangka Sekjen DPR Gugur di Praperadilan

Energi Juang News, Jakarta- Sekretaris Jenderal DPR RI, Indra Iskandar, berhasil menggugurkan status tersangkanya setelah memenangkan gugatan praperadilan. Putusan ini dibacakan dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan langsung membatalkan langkah hukum yang sebelumnya diambil oleh KPK.

Hakim Kabulkan Sebagian Gugatan Praperadilan

Sidang praperadilan digelar pada Selasa (14/4/2026). Hakim tunggal Sulistiyanto Rokhmad Budiarto mengabulkan sebagian permohonan yang diajukan oleh Indra Iskandar.

“Mengadili, satu, menyatakan permohonan Pemohon praperadilan dikabulkan sebagian,” ujar hakim saat membacakan amar putusan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Pasar Minggu.

Hakim menilai penetapan tersangka oleh KPK tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Bahkan, langkah tersebut dianggap sebagai tindakan sewenang-wenang.

“Menyatakan perbuatan Termohon yang menetapkan Pemohon sebagai tersangka berdasarkan surat Perintah Penyidikan nomor Sprin.Dik/13/DIK.00/01/01/2024 tanggal 19 Januari 2024 serta Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan Nomor B/41/DIK.00/23/01/2024 tanggal 22 Januari 2024 merupakan perbuatan yang sewenang-wenang,” ujar hakim.

Hakim Perintahkan Penghentian Penyidikan

Selain membatalkan status tersangka, hakim juga memerintahkan KPK menghentikan penyidikan terhadap Indra dalam kasus dugaan korupsi pengadaan fasilitas rumah jabatan anggota DPR tahun anggaran 2020.

Hakim juga meminta agar paspor Indra dikembalikan dan larangan bepergian ke luar negeri dicabut.

“Memerintahkan seluruh rangkaian larangan bepergian ke luar negeri oleh Termohon… dan memerintahkan kepada Termohon untuk mengembalikan seluruh hal tersebut kembali seperti keadaan semula sebelum penetapan Pemohon sebagai tersangka,” ujar hakim.

Putusan ini sekaligus menghentikan seluruh proses hukum yang berjalan terhadap Indra dalam perkara tersebut.

Bukti Dinilai Belum Cukup

Dalam pertimbangannya, hakim menilai KPK belum memiliki minimal dua alat bukti yang sah saat menetapkan Indra sebagai tersangka.

“Hakim praperadilan berpendapat bahwa penetapan tersangka oleh Termohon praperadilan tidak didasarkan dengan bukti permulaan yang cukup yaitu dua alat bukti,” ujar hakim.

Hakim juga menyoroti bahwa bukti justru dikumpulkan setelah status tersangka ditetapkan.

“Menimbang dari bukti T-37 sampai dengan bukti T-54, T-56 sampai dengan T-76 dapat diketahui Termohon mengumpulkan bukti setelah tanggal Pemohon ditetapkan sebagai tersangka,” ujar hakim.

Selain itu, Indra disebut belum pernah diperiksa sebagai calon tersangka sebelum penetapan dilakukan. Hal ini dinilai bertentangan dengan ketentuan hukum acara pidana.

KPK Bantah dan Hormati Putusan

KPK menolak anggapan bahwa mereka menetapkan tersangka tanpa bukti yang cukup. Lembaga antirasuah itu menegaskan telah mengantongi dua alat bukti sejak tahap penyelidikan.

“Ketika kemudian pada waktu kita melakukan penyelidikan kita sudah menemukan dua alat bukti itu… itu sudah dilaporkan pada pimpinan, oke layak untuk naik penyidikan,” ujar Plt Kabag Litigasi Biro Hukum KPK, Natalia Kristianto, Selasa (14/4/2026).

KPK juga menilai hakim tidak mempertimbangkan kekhususan lembaga tersebut dalam proses penyelidikan.

“Pasal 44 Undang-Undang KPK tersebut, itulah kekhususan penyelidikan di KPK tidak hanya peristiwa pidana, tetapi juga menemukan dua alat bukti,” ujarnya.

Meski berbeda pandangan, KPK menyatakan tetap menghormati putusan pengadilan dan akan mempelajari langkah hukum selanjutnya.

“KPK menghormati putusan hakim dalam sidang praperadilan… Selanjutnya, kami akan mempelajari pertimbangan hukum yang menjadi dasar putusan hakim tersebut,” kata Jubir KPK Budi Prasetyo, Selasa (14/4/2026).

Ia menegaskan bahwa putusan praperadilan bukan akhir dari proses hukum.

“Putusan praperadilan bukan merupakan akhir dari upaya penegakan hukum… KPK memiliki kewenangan untuk melanjutkan proses penyidikan sesuai dengan ketentuan,” ucapnya.

Redaksi Energi Juang News

Trump Tegaskan Perang AS-Israel Lawan Iran Hampir Usai

Trump Hentikan Konflik Iran, Israel Kaget

Jakarta, Energi Juang News- Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah wawancara baru-baru ini menyatakan bahwa perang AS-Israel terhadap Iran hampir berakhir.

“Saya pikir ini hampir berakhir, ya. Maksud saya, saya melihatnya sudah sangat dekat dengan berakhir,” kata Trump kepada pembawa acara Fox Business, Maria Bartiromo, saat ditanya apakah perang tersebut sudah selesai. Cuplikan video wawancara tersebut dibagikan di platform media sosial X.

“Anda tahu, jika saya menarik diri sekarang pun, mereka akan butuh waktu 20 tahun untuk membangun kembali negara itu, dan kita belum selesai. Kita akan melihat saja apa yang terjadi. Saya pikir mereka sangat ingin membuat kesepakatan,” tambah Trump.

Sebelumnya, Bartiromo menyatakan dalam sebuah video di Instagram bahwa Trump berulang kali menyebut perang Iran dalam bentuk lampau selama wawancara mereka, yang mendorongnya untuk bertanya langsung: “Apakah ini sudah berakhir?”

“Dia menjawab: Sudah selesai,” kata Bartiromo saat menjelaskan percakapan tersebut.

Perundingan telah diadakan di ibu kota Pakistan, Islamabad, selama akhir pekan untuk mengakhiri secara permanen perang AS-Israel terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari, tetapi kesepakatan belum berhasil dicapai. Upaya untuk mengadakan putaran pembicaraan berikutnya sedang berlangsung.

Trump menunjukkan nada optimistis terkait prospek dimulainya kembali pembicaraan langsung antara AS dan Iran, dengan mengatakan pada Selasa bahwa negosiasi tersebut dapat dimulai kembali di Pakistan dalam dua hari ke depan.

Pakistan berperan sebagai penengah terhadap gencatan senjata selama dua minggu pada tanggal 8 April, yang hingga saat ini masih bertahan.

Redaksi Energi Juang News

PLN EPI Dorong Pengembangan Gasifikasi Biomassa

Jakarta, Energi Juang News- PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong pengembangan gasifikasi biomassa. Hal itu dinilai sebagai solusi percepatan program dedieselisasi terutama di wilayah terpencil, yang belum terjangkau jaringan listrik interkoneksi.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, mengatakan pemanfaatan biomassa tidak lagi sekadar alternatif, melainkan bagian dari pembangunan ekosistem energi baru terbarukan (EBT) yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Potensi biomassa nasional mencapai sekitar 80 juta ton, namun baru dimanfaatkan 20 juta ton. Artinya, masih ada peluang besar yang bisa dioptimalkan untuk mendukung ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Pengembangan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PLN EPI dan PT Karimun Power Plant (KPP) untuk bisnis syngas gasifikasi berbasis biomassa, sebagai bagian dari upaya mendukung transisi energi dan pencapaian target net zero emission (NZE) 2060 di Jakarta, Senin (6/4/2026).

Hokkop menjelaskan pengembangan biomassa tidak hanya difokuskan pada co-firing di PLTU, tetapi bisa dikembangkan jalur baru melalui syngas berbasis gasifikasi biomassa yang lebih fleksibel digunakan pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) maupun sistem isolated.
“Gasifikasi biomassa ini menjadi solusi konkret untuk daerah isolated, yang masih bergantung pada solar. Dengan pendekatan ini, kita bisa menekan biaya energi sekaligus mengurangi emisi,” tambahnya.

Menurut Hokkop, keterbatasan desain PLTU dan kesiapan infrastruktur menjadi tantangan dalam penyerapan biomassa melalui co-firing, sehingga diversifikasi pemanfaatan menjadi langkah strategis.

“Karena itu, kita membuka branch baru melalui gasifikasi biomassa. Ini bukan hanya opsi teknis, tapi juga solusi bisnis yang lebih adaptif untuk menjawab kebutuhan energi di wilayah terpencil,” tegasnya.

Sebagai tahap awal, PLN EPI menggandeng KPP untuk mengembangkan proyek percontohan di Karimun, Kepulauan Riau. Saat ini, fasilitas tersebut telah memiliki kapasitas biomassa sebesar 1 megawatt (MW) dan berpotensi ditingkatkan hingga 2-5 MW.

Redaksi Energi Juang News