Energi Juang News, Jakarta- Pasar saham Indonesia mengalami guncangan hebat pada pembukaan perdagangan setelah libur panjang Lebaran. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok drastis sebesar 598,55 poin atau 9,19 persen, menutup sesi di level 5.912. IHSG dibuka langsung melemah di posisi 5.914 dan terus tertekan sepanjang sesi perdagangan.
Pelemahan ini dipicu oleh aksi jual besar-besaran di berbagai sektor. Sektor teknologi dan manufaktur mencatat penurunan tajam, dengan saham PT DCI Indonesia Tbk merosot sekitar 20 persen ke harga Rp115.800 per saham, serta saham PT Chandra Asri Pacific Tbk yang turun hampir 19 persen pada sesi siang.
Investor asing mencatat penjualan bersih (net sell) sebesar Rp2,48 triliun dalam perdagangan hari ini, melanjutkan tren arus keluar modal asing yang telah mencapai Rp29,41 triliun sejak awal tahun.
Kepemilikan asing di IHSG juga turun menjadi 2,9 persen, level terendah sejak 2011, mencerminkan menurunnya minat investor global terhadap pasar Indonesia.
Kondisi ini diperparah oleh kekhawatiran terhadap situasi ekonomi nasional. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Februari tercatat sebesar Rp31,2 triliun, sementara indeks kepercayaan konsumen dan rasio tabungan menurun, menunjukkan daya beli masyarakat yang lemah.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat, dengan penutupan pabrik besar seperti Yamaha dan PT Sanken Indonesia. Penerimaan pajak juga melemah, dengan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 turun 39,5 persen secara tahunan dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) turun 0,5 persen, mengindikasikan tekanan pada konsumsi domestik.
Menanggapi situasi ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkenalkan langkah-langkah sementara yang memungkinkan perusahaan publik untuk melakukan pembelian kembali saham tanpa memerlukan persetujuan pemegang saham terlebih dahulu, sebagai upaya mendukung valuasi dan menunjukkan kepercayaan diri. Sementara itu, Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, menggunakan kombinasi instrumen suku bunga dan cadangan devisa.
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh Presiden AS, Donald Trump, berpotensi memicu arus keluar modal asing dari Indonesia, menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham. Ia juga menyoroti bahwa legislasi yang kontroversial, seperti RUU Kepolisian dan RUU Hukum Acara Pidana, dapat menambah ketidakpastian hukum dan kekhawatiran investor.
Redaksi Energi Juang News



