Energi Juang News, Jakarta – Untuk pertama kalinya dalam sejarah, otoritas Israel mengizinkan ratusan warga Yahudi memasuki dan berdoa di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Langkah kontroversial ini memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Yordania dan komunitas internasional.
Menurut laporan dari Departemen Wakaf Islam yang dikelola oleh Yordania, sekitar 230 warga Yahudi radikal memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada hari Minggu (28/2) untuk merayakan festival Purim.
Beberapa dari mereka dilaporkan mengenakan kostum dan topeng berwarna-warni, sementara yang lain terlihat mabuk dan mengacungkan botol anggur di luar salah satu gerbang masjid.
Baca Juga : Israel Terancam Dilarang Ikut Eurovision 2025
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Yordania, Daifallah al-Fayez, mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap status quo historis dan hukum, serta hukum internasional. Ia menegaskan bahwa Departemen Wakaf Yordania adalah satu-satunya otoritas legal yang bertanggung jawab atas pengelolaan Masjid Al-Aqsa, termasuk menentukan siapa yang boleh masuk dan beribadah di sana.
Apa yang dilakukan Israel merupakan pelanggaran berat terhadap status quo sejarah dan hukum, hukum internasional, maupun komitmen yang dibuat Israel sendiri,” ujar al-Fayez.
Langkah Israel ini juga menuai kritik dari berbagai negara dan organisasi internasional. Uni Eropa, melalui Kepala Kebijakan Luar Negeri Josep Borrell, mengutuk keras tindakan provokatif tersebut dan menyerukan agar Israel menghormati status quo yang telah lama berlaku di kompleks suci tersebut.
Kompleks Masjid Al-Aqsa, yang juga dikenal sebagai Temple Mount oleh umat Yahudi, merupakan salah satu situs paling sensitif di Timur Tengah.
Menurut kesepakatan yang telah berlangsung selama beberapa dekade, non-Muslim diperbolehkan mengunjungi situs tersebut, namun hanya umat Muslim yang diizinkan beribadah di sana.
Tindakan Israel yang mengizinkan warga Yahudi berdoa di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa dianggap sebagai upaya untuk mengubah status quo yang telah lama berlaku, dan dikhawatirkan dapat memicu ketegangan lebih lanjut antara Israel dan Palestina.
Pemerintah Yordania dan komunitas internasional mendesak Israel untuk menghormati perjanjian yang telah disepakati dan menghindari tindakan yang dapat memperburuk situasi di kawasan tersebut.
Redaksi Energi Juang News



