Energi Juang News, Jakarta— Ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali menebar dampak yang tajam, kali ini menghantam jantung ekosistem e-commerce global.
Kebijakan tarif impor yang diberlakukan Presiden Donald Trump dengan lonjakan hingga 145% sejak 9 April 2025 menjadi pukulan telak bagi banyak pelaku usaha kecil, khususnya penjual pihak ketiga di platform Amazon.
Dalam situasi ini, diskon besar-besaran seperti Prime Day tak lagi menjadi peluang manis, melainkan jebakan biaya yang memberatkan.
Para penjual yang sebelumnya rutin mengambil bagian dalam Prime Day dengan berbagai tawaran menarik, kini menarik diri. Bukan tanpa alasan—biaya produksi yang melonjak akibat tarif tersebut mengikis margin keuntungan hingga tak lagi memungkinkan mereka memberi potongan harga tanpa menelan kerugian.
Salah satu suara dari lapangan datang dari Steve Green, penjual sepeda dan skateboard yang selama lima tahun terakhir selalu ikut Prime Day. Untuk pertama kalinya, ia memilih absen dan mempertahankan stok lama demi bisa menjual dengan harga penuh tanpa tercekik beban tarif.
Fenomena ini tak berhenti di satu nama. Kim Vaccarella, CEO dari Bogg Bag, bahkan mengambil langkah drastis dengan menghentikan total produksi di Tiongkok.
Perusahaannya kini mencari alternatif manufaktur di negara seperti Vietnam dan Kamboja. Langkah itu dilakukan sembari menyesuaikan arah strategi penjualan ke toko-toko ritel besar di AS yang dianggap lebih stabil dalam menghadapi guncangan tarif global.
Meskipun Amazon masih menunjukkan sikap optimis dan mengklaim antusiasme penjual terhadap Prime Day tetap tinggi, kenyataan di lapangan berkata lain. Para konsultan bisnis yang menangani ratusan seller menyebut banyak pelaku usaha memilih mundur atau menurunkan intensitas promosi dan iklan secara signifikan.
Beberapa bahkan menempuh strategi bertahan hidup dengan menaikkan harga atau mengimpor barang dalam skala kecil agar bisa menyiasati kenaikan tarif secara bertahap.
Hal ini tentu menjadi sinyal keras bagi Amazon. Dengan lebih dari 62% unit produk di platform tersebut berasal dari seller independen, absennya para penjual di Prime Day akan berdampak pada menurunnya variasi barang, potongan harga, hingga pendapatan iklan.
Situasi ini menyajikan gambaran nyata dari kerentanan struktur e-commerce saat berhadapan dengan kebijakan proteksionis.
“Amazon mungkin akan tetap bertahan,” ujar analis CFRA, Arun Sundaram, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (29/4/2025). “Namun yang paling terdampak adalah para penjual kecil yang tak punya ruang bernapas dalam menghadapi kebijakan ini.”
Kondisi ini memperlihatkan wajah lain dari perang dagang: bukan hanya adu kekuatan antarnegara, melainkan juga benturan yang mengguncang daya tahan para pelaku usaha mikro yang selama ini menopang denyut ekonomi digital.
Redaksi Energi Juang News



