Sabtu, Agustus 29, 2026
spot_img
BerandaPolitikAcara Roy Suryo Batal Digelar, Ini Kata UGM

Acara Roy Suryo Batal Digelar, Ini Kata UGM

Energi Juang News, Jakarta-Acara konferensi pers ‘Kado Tercantik 80 Tahun Indonesia Merdeka’ batal digelar di University Club (UC) Hotel Universitas Gadjah Mada (UGM).

Acara yang digagas oleh trio Roy Suryo, Rismon Sianipar, dan dr Tifauziyah Tiyassuma (Dokter Tifa) itu juga mengagendakan soft launching buku berjudul Jokowi’s White Paper yang tebalnya ratusan halaman.

“Soft-Launching Buku ‘JOKOWI’s WHITE PAPER’ karya RRT/Roy-Rismon-Tifa. Sesuai prediksi sebelumnya, ternyata diganggu oleh Termul. Rencana diluncurkan tepat di Hari Konstitusi Senin, 18 Agustus 2025 – Pukul 14.00-16.00 WIB di Ruang Nusantara, UC (University Club) Kampus UGM Jogja). Namun dibatalkan sepihak, baru saja, oleh UC UGM,” kata Roy Suryo, Senin (18/8/2025).

UGM melalui juru bicaranya, Dr I Made Andi Arsana, membenarkan kampus membatalkan penyewaan UC UGM. Kampus juga menjabarkan alasan kenapa mereka menolaknya.

“UGM membenarkan bahwa UC Hotel UGM tidak memfasilitasi kegiatan yang diklaim bertajuk ‘Konferensi Pers Tokoh Nasional Hadiah Kemerdekaan RI ke-80’ yang sedianya dilaksanakan tanggal 18 Agustus 2025 pukul 14.00-17.00 WIB,” ujar Made Andi.

Made Andi bilang, ada dua alasan yang digunakan untuk mengambil keputusan ini. Yaitu alasan yang bersifat prosedural dan politis.
“UGM memahami bahwa kegiatan ini bernuansa politis yang terkait erat dengan isu yang melibatkan Bapak Joko Widodo. UGM tidak melibatkan diri dalam isu tersebut karena tidak terkait dengan UGM secara langsung,” jelas dia.

Dia juga bilang bahwa UGM menerima berbagai informasi yang bisa dipercaya, termasuk undangan yang beredar di media sosial. Bahwa acara yang akan berlangsung di UC Hotel pada pukul 14.00-17.00 WIB adalah peluncuran buku dengan judul Jokowi’s White Paper yang merupakan karya Roy-Rismon-Tifa.
“UGM memandang bahwa acara ini bernuansa politis seperti yang sudah disebutkan di atas dan UGM tidak bersedia terlibat dan memfasilitasi acara tersebut,” tegasnya.

Dia memberi penjelasan, pihak panitia pada awalnya mendatangi pengelola untuk memesan sewa gedung. Pihak UGM juga telah memprosesnya secara profesional. Bahkan pihak panitia telah mengirim bukti transfer uang muka sewa.

Baca juga :  Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan, Itet Tegaskan Fondasi Dalam Membangun Negara

Setelah itu, barulah pihak kampus mendapat informasi bahwa gedung itu disewa untuk soft launching buku karya Roy Suryo dan kawan-kawan itu.
Oleh karena itu, acara tersebut dinilai jelas berbeda dengan yang disampaikan di awal ketika melakukan pemesanan.

“Secara prosedur ini merupakan kesalahan dan menjadi alasan administratif bagi UC UGM untuk melakukan penolakan atau pembatalan,” ujarnya.

UGM, lanjut dia, mendukung keterbukaan dalam pertukaran gagasan dan berkomitmen untuk berkontribusi positif untuk mewujudkannya. Di sisi lain, UGM bertanggung jawab untuk melakukan dan mendukung pertukaran gagasan yang sehat guna menjaga kondisi yang kohesif atau tenang di masyarakat.

“Bagi UGM, acara yang dimaksud di atas tidak menunjukkan keterbukaan dari awal dan berpotensi menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu sehingga dengan ini UGM melakukan penolakan,” ucapnya.

Pada akhirnya, panitia acara memutuskan memindahkan peluncuran buku ke sebuah coffee shop yang masih berada di kawasan UC UGM.

“Kami soft launching hari ini di coffee shop ya. Akhirnya kami hanya menggunakan coffee coffee shop saja ya karena kami dihalang-halangi untuk menggunakan Ruang Nusantara di University Club atau UC UGM ini,” kata Roy kepada wartawan, Senin (18/8).

Eks Menpora (Menteri Pemuda dan Olahraga) RI itu bilang, pihaknya sebenarnya sudah melakukan pembayaran awal atau down payment (DP) untuk sewa ruangan di UC UGM. Akan tetapi, mendadak dibatalkan oleh kampus dan pembayaran dikembalikan.

“Kami alami hari ini. Ketika kami ingin mendiskusikan buku yang ilmiah di sebuah tempat yang namanya University Club. Kami sudah melakukan DP, kami sudah confirm, bahkan izin sudah kami proses,” ujarnya.

“Ternyata mendadak tadi malam dapat info kalau tempat ini konon didatangi aparat keamanan. Kemudian dipaksa untuk membatalkan dan dibatalkan betul ya, dan dikembalikan uangnya,” imbuh dia.

Meski dibatalkan oleh pihak kampus, nyatanya soft launching tetap berlangsung. Hanya bergeser dari Ruang Nusantara menuju coffee shop yang masih di satu gedung UC UGM. Meski awalnya mereka hendak pindah ke luar UGM namun atas masukan peserta yang hadir akhirnya tetap dilaksanakan di coffee shop UC UGM.

Baca juga :  Jokowi Sambangi Prabowo, Cari Perlindungan Politik Bukan Bicara Bangsa

“Tapi ya kami mengatakan ini hargai, tolong hargai kesepakatan yang sudah ada akhirnya ya terima kasih. Saya tetap mengucapkan terima kasih loh ya kepada manajemen UC yang kami tetap menggunakan coffee shop,” jelas dia.

Roy Suryo melanjutkan, acara di UC UGM merupakan soft launching. Pihaknya menyatakan bakal segera menggelar grand launching di Jakarta.

“Kami sudah melakukan apa yang namanya soft launching dan tunggu saja grand launching-nya nanti tanggal 27 Agustus, memang di Jakarta grand launching. Karena akan kami seminarkan ya dengan beberapa kampus di Jakarta dan juga di tempat yang memungkinkan kita untuk melakukan lebih besar ya gitu,” tuturnya.

Roy kemudian menjelaskan soal bukunya. Dia menjabarkan sedikit mengenai isi bukunya.

“Jadi isinya tadi saya spill ya. Jadi, isinya adalah satu. Ya, itu memuat dokumentasi tentang apa yang kami lakukan sejauh ini. Mulai dari ketika isu pertama kali ini (dugaan ijazah palsu milik Jokowi) keluar ya,” paparnya.

Dia bilang, awalnya ada seminar yang diselenggarakan di Kampus Terpadu UII. Kala itu, ada Prof Mahfud Md dan Buya Syafii Maarif, dan dihadiri juga Presiden Ke-7 RI, Joko Widodo atau Jokowi.

“Waktu itu ada dialog santai gitu ya. Ada videonya juga. Yang mengatakan untuk jadi presiden itu IP-nya sebaiknya berapa. Prof Mahfud mengatakan IP-saya 3,8. Nah, Jokowi mengatakan IP saya di bawah 2. Dua aja nggak ada gitu loh, kan mulai dari situ sebenarnya orang berpikir,” ujarnya.

Nah, dari situ menurut Roy, kemudian muncul orang-orang yang berpikir kritis. Contohnya adalah Bambang Trimulyono atau Bambang Tri dan Gus Nur atau Sugi Nur Raharja.

“Sempat kemudian mereka mempertanyakan soal itu. Tapi mereka dikriminalisasi. Itu semua kami tulis dalam buku itu,” ujarnya.

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments