Energi Juang News, London– Angela Rayner resmi melepas jabatannya sebagai Wakil Perdana Menteri Inggris setelah kasus pajak properti menjeratnya. Keputusan ini menjadi pukulan berat bagi kepemimpinan Perdana Menteri Keir Starmer yang sedang membangun stabilitas politik.
Menurut laporan AFP pada Sabtu (6/9/2025), pengunduran diri Rayner dipicu hasil investigasi independen. Laporan tersebut menyimpulkan Rayner mengabaikan peringatan hukum dan dianggap melanggar kode etik menteri.
Rayner mengakui ada kekurangan pembayaran pajak dari pembelian sebuah flat. Ia menyalahkan hal itu pada saran hukum yang tidak tepat. Meski begitu, ia tetap menanggung konsekuensi dan menyerahkan surat pengunduran diri kepada PM Starmer.
Dalam pernyataannya, Rayner menekankan bahwa keputusan mundur diambil karena temuan laporan dan dampaknya bagi keluarganya. Sebelum skandal ini, ia dikenal sebagai salah satu figur populer di Partai Buruh dan sempat digadang menjadi penerus Starmer.
Rayner lahir dan besar di Stockport, Manchester. Ia dibesarkan di lingkungan perumahan sosial yang kumuh, dan sejak kecil harus merawat ibunya yang bipolar serta mengalami depresi. Kehidupan keluarganya penuh tantangan, sementara ayahnya jarang hadir di rumah.
Setelah Rayner mundur, PM Starmer segera melakukan reshuffle kabinet besar-besaran. David Lammy yang semula menjabat Menteri Luar Negeri dipindahkan menjadi Wakil PM. Posisi Menlu kemudian diisi Yvette Cooper, sementara kursi Menteri Dalam Negeri diberikan kepada Shabana Mahmood yang sebelumnya menjabat Menteri Kehakiman.
Langkah Starmer ini menegaskan tidak ada kompromi terhadap pelanggaran kode menteri. Meski sempat membela Rayner ketika pertama kali dituduh menghindari pajak senilai 40.000 pound, akhirnya Starmer harus merelakan kepergian wakilnya itu.
Rayner yang kini berusia 45 tahun adalah menteri kedelapan sekaligus pejabat paling senior yang meninggalkan kabinet Starmer. Dalam suratnya, ia meminta maaf dan menyesali keputusan tidak mencari nasihat pajak tambahan lebih awal.
Kasus ini menjadi ujian serius bagi kepemimpinan Starmer, terutama dalam menjaga kepercayaan publik terhadap Partai Buruh yang baru saja berkuasa.
Redaksi Energi Juang News



