Energi Juang News, Washington-Amerika Serikat (AS) tak henti berupaya menggulingkan rezim Iran. Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) dilaporkan sedang menyiapkan pasukan Kurdi dengan tujuan memicu pemberontakan di negeri Mullah itu dalam beberapa hari mendatang.
Milisi Kurdi diperkirakan akan mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Israel. Namun, bentuk dukungan tersebut belum diungkap.
CIA Siapkan Milisi Kurdi untuk Goyang Rezim Iran
Rencana ini muncul di tengah perang yang tengah berlangsung antara Iran vs AS-Israel yang telah berlangsung lima hari terakhir.
Kami baru saja melakukan percakapan menarik dengan seorang pejabat senior Kurdi Iran yang mengatakan pasukan oposisi Kurdi Iran sedang mempersiapkan operasi darat di wilayah barat Iran dalam beberapa hari mendatang,” ujar koresponden Internasional Utama CNN, Clarissa Ward.
“Mereka menunggu dukungan dari AS dan Israel sebagai bagian dari operasi ini, meski ia tidak memberikan rincian mengenai bentuk dukungan itu,” tambah dia.
Baca juga : AS Perintahkan Warga Lari dari Iran yang Memanas!
Ia juga menegaskan bahwa Presiden AS Donald Trump baru saja menelpon pimpinan salah satu partai oposisi Kurdi Iran pada Senin (2/3).
Rencana Operasi Darat di Iran dan Peran Trump dalam Lobi Kurdi
Stok rudal AS menipis, tanda kewalahan?
Amerika Serikat disebut mulai mengalami kekurangan persediaan rudal penting, termasuk rudal serang darat Tomahawk dan rudal pencegat SM-3, di hari kelima berperang melawan Iran, Rabu (4/3)
Menurut laporan CNN, seorang pejabat senior AS membocorkan bahwa Washington memperkirakan serangan ke Iran akan meningkat dalam 24 jam ke depan. Namun, di saat bersamaan pejabat tu juga mengatakan persediaan rudal dan pencegat AS semakin menipis.
Stok Rudal AS Menipis di Tengah Perang Melawan Iran
Operasi militer AS ke Iran ini berlangsung kala Pentagon memang sudah menghadapi kekurangan rudal Patriot, karena sebagian besar persediaan telah digunakan untuk mendukung pertahanan udara Ukraina selama empat tahun perang dengan Rusia.
Bocoran pejabat AS ini mengindikasikan jika serangan terhadap Iran berlanjut lebih dari 10 hari, persediaan sejumlah rudal penting milik AS bisa benar-benar mulai menipis.
Redaksi Energi Juang News



