Energi Juang News, Jakarta– Hampir setahun menjabat sebagai Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka terus menuai kritik publik. Kali ini, pengamat politik Ray Rangkuti menyoroti janji kampanye Gibran soal penciptaan 19 juta lapangan kerja yang kini justru menjadi bahan sindiran masyarakat.
Ray menilai pernyataan itu semakin kontradiktif dengan kondisi lapangan kerja saat ini, di mana gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) justru meningkat di berbagai sektor industri. “Soal keren-kerenan aja Gibran mengatakan hal itu. Tapi jelas ditagih publik. Makanya ke mana-mana orang nyindir, janji 19 juta yang ada malah out 19 juta. Bukan masuk, malah di-PHK,” kata Ray dikutip dari Forum Keadilan TV, Sabtu (4/10/2025).
Sindiran Jadi Lelucon Publik
Ray menyebut, kini janji Gibran justru berubah menjadi lelucon politik di masyarakat. Publik seolah menjadikan janji tersebut sebagai bahan satir sekaligus bentuk “sanksi politik” atas janji yang tak terpenuhi.
“Di mana-mana kita dengar joke seperti itu sekarang. Puncak dari penagihan janji adalah soal popularitas Gibran, naik atau tidak. Kalau popularitasnya stagnan, artinya publik masih mengingat janji 19 juta itu,” jelas Ray.
Menurut Ray, mekanisme kritik publik ini merupakan bagian normal dari demokrasi. Rakyat punya hak menagih komitmen pejabat. “Jangan asal bicara di forum karena publik akan menagih. Kalau tidak, ya sanksinya berupa hilangnya kepercayaan,” tambahnya.
Gibran Dinilai Tak Punya Peran Sentral
Selain soal janji lapangan kerja, Ray juga menyoroti posisi Gibran di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai, ekspektasi awal bahwa Gibran akan tampil sebagai figur muda yang diproyeksikan untuk kepemimpinan jangka panjang ternyata tidak sesuai kenyataan.
“Bayangannya, Pak Prabowo itu menenteng Gibran untuk jadi leader, entah di 2029 atau 2034. Tapi kenyataannya sebaliknya. Pak Prabowo tidak memberi peran besar, malah terlihat menjadi beban,” katanya.
Kritikan ini menambah daftar panjang evaluasi terhadap kiprah Gibran sebagai wapres muda. Publik kini menunggu, apakah janji besar seperti penciptaan 19 juta lapangan kerja bisa benar-benar diwujudkan, atau hanya akan tinggal jargon politik semata.
Redaksi Energi Juang News



