Energi Juang News, Lima– Krisis politik di Peru memasuki babak baru. Presiden Dina Boluarte resmi dimakzulkan oleh mayoritas anggota parlemen dalam sidang darurat pada Kamis (9/10) malam waktu setempat. Dari 122 anggota, 118 suara mendukung pencopotan perempuan berusia 63 tahun itu dari kursi kepresidenan.
Boluarte menolak hadir dalam sidang Kongres yang digelar di tengah gelombang protes besar-besaran. Pemimpin Kongres Jose Jeri mengumumkan hasil sidang tersebut, yang sekaligus mengakhiri masa jabatan Boluarte yang dimulai sejak Desember 2022.
Popularitas Terjun Bebas
Boluarte disebut sebagai salah satu pemimpin paling tidak populer di dunia. Survei hanya menempatkan tingkat penerimaan publiknya di kisaran 2-4 persen. Ia dituduh memperkaya diri secara ilegal dan dinilai bertanggung jawab atas aksi penindakan brutal terhadap demonstran.
Rakyat Melawan, Jalanan Membara
Gelombang unjuk rasa mewarnai Peru sejak awal masa jabatannya. Protes semakin membesar setelah parlemen mengesahkan undang-undang kontroversial yang mewajibkan kaum muda bergabung dengan dana pensiun swasta, meski banyak dari mereka bekerja di sektor dengan kondisi rawan dan tidak aman.
Kerusuhan terbaru pecah pada Minggu (21/9). Ribuan demonstran turun ke jalan, melemparkan batu dan molotov ke arah polisi. Aparat merespons dengan gas air mata. Bentrokan juga terjadi sehari sebelumnya di sekitar kantor kepresidenan, melukai sedikitnya 18 orang.
Suara Generasi Muda
Sejumlah warga muda Peru menyebut momen ini sebagai awal kebangkitan rakyat.
“Saya marah, merasa dikhianati pemerintah dan Kongres yang hanya melayani partai-partai politik. Mereka itu mafia yang mengakar,” kata Xiomi Aguiler (28), salah satu pengunjuk rasa.
Jonatan Esquen, mahasiswa 18 tahun, menambahkan: “Ini awal kebangkitan. Anak muda kini lebih aktif, baik di jalan maupun media sosial. Politik tak lagi milik elit saja.”
Peru di Ujung Krisis
Gelombang protes ini dipicu oleh maraknya kejahatan terorganisir dan kasus pemerasan yang gagal ditangani pemerintah Boluarte. Banyak warga menilai pemerintah dan Kongres sama-sama sarat korupsi.
Dengan pemakzulan Boluarte, Peru kini memasuki fase transisi politik yang rapuh. Publik menanti, apakah perubahan ini benar-benar menjawab tuntutan rakyat atau sekadar melahirkan krisis baru.
Redaksi Energi Juang News



