Energi Juang News, Yogyakarta – Pembatalan mendadak diskusi Aksi Kamisan Yogyakarta bertajuk “Bebaskan Tahanan Politik dan Transformasi Polisi” menjadi sinyal serius bagi kondisi demokrasi di Indonesia.
Acara yang seharusnya digelar di Gedung Pimpinan Daerah Muhammadiyah Yogyakarta itu dibatalkan tanpa alasan jelas, menimbulkan dugaan adanya tekanan politik dan ketakutan terhadap suara-suara kritis.
Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyebut pembatalan tersebut bukan kebetulan. Ia menilai ada pihak yang takut kehilangan kepentingan ekonomi dan politik karena forum itu dianggap terlalu tajam mengkritik pemerintah.
Menurutnya, tindakan semacam ini menunjukkan bahwa ruang berpikir bebas kini kian menyempit di bawah bayang-bayang kompromi kekuasaan.Usman juga menyinggung peran organisasi besar seperti Muhammadiyah yang dulu dikenal progresif.
Menurutnya, lembaga keagamaan kini tampak kehilangan keberanian untuk bersikap tegas membela kebenaran, terutama ketika berhadapan dengan kenyamanan posisi di sekitar kekuasaan. Padahal, sejarah Muhammadiyah pernah diwarnai oleh sosok-sosok berani seperti Ahmad Syafii Maarif, yang tidak gentar mengkritik penguasa demi keadilan.
Kini, sebagian elite organisasi tersebut dinilai memilih diam, seolah lupa bahwa membisu di tengah ketidakadilan adalah bentuk kolaborasi pasif terhadap penindasan. Pembatalan diskusi ini pun menjadi cermin betapa rentannya kebebasan berpendapat di negeri yang menyebut dirinya demokratis.
Lebih jauh, pembungkaman terhadap suara publik kritis justru memperkuat pandangan bahwa demokrasi Indonesia kini tengah mengalami kemunduran.
Ketika kampus, lembaga sosial, dan organisasi keagamaan mulai takut membuka ruang diskusi, yang tersisa hanyalah formalitas kebebasan yang kosong makna.
Kebebasan akademik dan ruang berpikir yang independen seharusnya menjadi fondasi demokrasi, bukan sesuatu yang ditakuti. Jika setiap suara kritis dibungkam atas nama kenyamanan politik, maka yang runtuh bukan sekadar sebuah forum, melainkan esensi kebebasan itu sendiri.
Redaksi Energi Juang News



