Oleh Hiski Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)
Densus 88 Antiteror Polri menangkap lima orang teroris yang merekrut anak-anak dan pelajar untuk masuk ke dalam jaringan mereka, baru-baru ini.
Para tersangka itu merekrut anak dan pelajar dengan memanfaatkan ruang-ruang digital. Media sosial, game online, aplikasi pesan hingga situs tertutup menjadi wahana perekrutan bagi para teroris itu.
Awalnya, mereka melakukan propaganda melalui platform yang relatif terbuka seperti FB, Instagram, dan game online. Kemudian, para calon teroris yang dianggap target potensial akan dihubungi secara pribadi atau japri, melalui platform yang lebih tertutup seperti WhatsApp atau Telegram.
Fakta yang diungkap Polri itu sejatinya memperkuat bukti, bahwa virus ekstremisme dan terorisme masih menyebar masif baik secara offline maupun online di negeri ini. Sel-selnya terus berkembang dan menyusup ke alam bawah sadar masyarakat.
Yang mengerikan, mereka membidik anak-anak dan remaja yang notabene generasi penerus bangsa.
Memang, ada beberapa organisasi radikal dan teroris yang telah dibubarkan. Tapi pembubaran organisasi, tak bergaris lurus dengan hilangnya ideologi.
Para ekstremis itu ternyata masih bergentayangan. Bahkan, mereka terus melakukan perekrutan dan penggalangan, sebagaimana diungkap Densus 88 Polri.
Karena itu, tuntutan Lembaga Persaudaraan Ormas Islam (LPOI) dan Lembaga Persaudaraan Ormas Keagamaan (LPOK) tiga tahun lalu menjadi relevan.
Pada 2022, mereka mendorong pemerintah segera menerbitkan Instruksi Presiden yang melarang ideologi yang bertentangan dengan Pancasila.
Artinya, mereka menilai dibutuhkan regulasi sebagai payung besar untuk memproteksi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang berdasarkan Pancasila dari gangguan esktremisme.
Tuntutan LPOI dan LPOK itu sangat masuk akal. Kelompok-kelompok ekstremis anti-Pancasila memang tak hanya mengganggu stabilitas nasional, tapi juga berpotensi mematikan peradaban bangsa.
Maka, pergerakan mereka memang harus segera dihentikan. Payung hukum seperti Inpres, sangat dibutuhkan agar ekstremisme punah.
Bila tidak, bangsa ini yang punah.
Redaksi Energi Juang News



