Energi Juang News, Jakarta-Pertumbuhan laba bersih PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) telah berbuah. Masa panen pun sudah dimulai.
Ya, pertumbuhan BRMS diprediksi mencapai 80% menjadi US$ 108 juta tahun 2026. Ini akan mendorong saham BRMS ke target harga.
Berdasarkan riset Mirae Asset Sekuritas, BRMS bakal menjadi pemain multiaset tambang, yakni emas dan tembaga, didukung sumber daya Citra Palu Mineral (CPM) dan kapasitas pengolahan sebesar 8.500 ton per hari. Rencana menggarap tambang bawah tanah dengan cadangan 19,6 juta ton serta monetisasi Gorontalo Minerals bakal memperkuat prospek ke depan.
“BRMS berada di posisi tepat untuk memproduksi emas sebanyak 91,9 ribu oz tahun depan dan 105,7 ribu oz tahun 2027,” tulis Mirae, Sabtu (22/11/2025).
Ditopang oleh harga emas global yang diprediksi berkisar US$ 3.900-4.000 per oz, Mirae menaksir BRMS bakal mencetak profitabilitas kuat. Hitungannya, setiap kenaikan harga emas 10%, laba bersih perseroan bisa melejit 24-27%.
Mirae masih melihat harga emas tetap kuat pada tahun 2026, seiring terus melemahnya indeks dolar AS (DXY). Mirae memprediksi DXY melemah menjadi 96, seiring penurunan suku bunga FFR dan pelebaran defisit Amerika Serikat (AS). Ini akan menghasilkan iklim kondusif bagi harga emas dunia, sehingga menopang pendapatan dan ekspansi margin BRMS.
Mirae menginisiasi riset saham BRMS dengan rekomendasi trading buy dengan target harga Rp 1.100, berdasarkan metode SOTP. Target harga itu mencerminkan PER 2026 sebesar 84,8 kali.
BRMS menawarkan prospek menggiurkan, seiring estimasi lonjakan produksi, kapasitas pabrik, dan pengembangan tambang bawah tanah yang ditaksir mulai jalan paruh kedua 2026. Nilai tambahan lainnya adalah monetisasi GM dan eksplorasi blok tambang lain CPM.
“Pandangan positif BRMS juga didukung oleh perbaikan tata kelola dan opsi merger dan akuisisi. Risiko saham ini antara lain penundaan proyek, pembengkakan biaya, volatilitas harga emas, dan perubahan kebijakan,” tulis Mirae.
Redaksi Energi Juang News



