Energi Juang News, Jakarta-Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) menegaskan bahwa bencana di Sumatera Utara adalah bencana ekologis yang lahir dari ulah manusia.
Ephorus HKBP Pendeta Victor Tinambunan mendesak Pemerintah bertindak tegas dengan menghentikan praktik legal maupun illegal logging dan menutup perusahaan PT Toba Pulp Lestari (TPL) yang disebut telah merusak hutan di Tapanuli Raya.
“Keresahan yang kami sampaikan kepada pemerintah melalui pertemuan dengan Gubernur Sumut Bobby Nasution mengenai bencana ekologis dampak kegiatan TPL,” ujar Tinambunan.
Dia melanjutkan, tutupan hutan yang kian menipis telah meninggalkan tanah yang rapuh, sungai yang tak lagi terlindungi, dan ekosistem yang kehilangan keseimbangannya.
HKBP pun menerima temuan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi atas dugaan tujuh perusahaan pelaku deforestasi terbesar di kawasan Tapanuli.
Sebagai lembaga yang berpengalaman, Walhi tentu menyampaikannya berdasarkan penelitian dan kajian yang teliti,” ujar Tinambunan.
Temuan Walhi tersebut, kata Tinambunan, sangat berharga bagi publik terlebih bagi pemerintah untuk mengevaluasi tujuh perusahaan yang disebutkan Walhi sebagai penyebab bencana banjir dan longsor di kawasan Tapanuli.
Imbas bencana ekologis ini, kata dia, ribuan anggota jemaat HKBP turut menjadi korban banjir dan longsor di kawasan Tapanuli yang meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Kota Sibolga.
Ia mengatakan data korban banjir dan longsor diterima dari sejumlah Praeses atau pimpinan HKBP di Distrik I meliputi Tapanuli bagian Selatan; Distrik IX Sibolga – Tapteng; Distrik III Humbang Hasundutan dan Distrik IV Kabupaten Toba sekitarnya, mencapai ribuan jemaat HKBP menjadi orban banjir dan bencana longsor.
“Puluhan jemaat HKBP meninggal,” kata Victor Tinambunan . Ia menyampaikan duka mendalam kepada para korban.
Berdasarkan data yang dihimpun HKBP, kata Tinambunan, jemaat yang terdampak terbesar berada di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Selatan. “Sawah dan ladang yang menjadi mata pencarian utama mereka rusak.” ujar Tinambunan.
Tinambunan mengatakan telah menyerukan agar gereja membuka posko untuk menampung warga yang belum bisa kembali ke rumah masing-masing. “Posko tidak hanya untuk jemaat HKBP, semua warga boleh menginap di posko HKBP.” ujarnya.
Ia mengatakan telah mengirim surat kepada seluruh jemaat HKBP untuk bersama-sama mengulurkan tangan lewat pengumpulan dana guna membantu korban. “Syukur kepada Tuhan, sudah terkumpul sekitar Rp 1,5 miliar, dan proses penggalangan bantuan masih terus berjalan.” ujar Tinambunan.
Gubernur Sumut Bobby Nasution bertemu dengan sejumlah pemuka agama seperti Ephorus Victor Tinambunan, Gerakan Oikumenis Keadilan Ekologis dipimpin Pastor Walden Sitanggang, dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Tano Batak pada Senin, 24 November 2025.
Dalam pertemuan itu, Bobby mengatakan, tuntutan tutup TPL akan dibahas bersama. Pemerintah Provinsi Sumut, kata Bobby, boleh merekomendasi kepada pemerintah pusat ihwal tuntutan penutupan TPL karena perusahaan tersebut berada di 12 kabupaten/kota di Sumut.
Redaksi Energi Juang News



