Selasa, Maret 17, 2026
spot_img
BerandaOjo LaliCinta Ilegal dibawah Sorot Lampu LED Karaoke

Cinta Ilegal dibawah Sorot Lampu LED Karaoke

Energi Juang News, Sumsel– Dalam kisah perbuatan melanggar asusila kali ini, kita tidak sedang membahas teori moral atau pasal KUHP. Tidak, kawan. Semua ini bermula dari riset lapangan dan lebih tepatnya riset tetangga yang menyimpulkan bahwa ketika nafsu sudah melekat, dunia serasa milik berdua; yang lain ngontrak boss.

Kisah ini berpusat pada seorang lelaki bernama Murot, oknum polisi 56 tahun dari Lubuk Linggau. Usia boleh menjelang pensiun, tapi semangat mudanya masih bertengger seperti stiker “mesin masih halus, pemilik tangan pertama.” Sementara itu, istrinya di rumah menurut perbandingan ngawur Murot “ibarat mobil bekas kilometernya sudah jauuuh.”

Analogi yang sangat tidak elegan, tapi begitulah cara Murot memproses kehidupannya. Urusan profesi boleh pensiun, tapi urusan asmara? Menurut Murot, “tidak mengenal MPP”—dan MPP pun Murot plesetkan menjadi Momong Perempuan Pilihan.

Hobi Murot satu yaitu karaoke dan kebetulan, tempat karaoke itu berdiri tepat di sebelah rumah Misye, istri Bogel, pemilik karaoke sekaligus lelaki dengan postur yang disebut Misye sebagai “tinggi di bawah rata-rata dan mungkin efek stunting masa kecil.”

Misye sendiri perempuan bening, terawat, dan punya aura spa yang membuat ruang karaoke terasa lebih wangi tiga level dibanding istrinya dirumah.

Saat Misye bertugas sebagai pemandu lagu, Murot mulai menunjukkan taring rayuannya. Rayuan Murot bukan rayuan kelas festival dangdut, mendayu penuh ilusi dan lebih seperti racikan antara novel picisan, gombalan WA grup bapak-bapak, dan kepercayaan diri yang tak tertandingi. Hal ini yang membuat Misye makin tak tahan diri karena pengaruh alkohol, dan bisa ditebak bahwa Misye bertanding lihai dengan Murot diiringi musik karaoke yang memekakkan telinga.

Saat keduanya bersama, suasana karaoke berubah seperti sinetron infotainment versi anggaran rendah pemeran penuh kode, lirikan, dan dialog dan gerakan yang tak pantas kalau ditonton anak dibawah umur dan pasti bikin komentar netizen meledak:
“Plis lah Pak… umur bukan jadi alasan buat jadi Romeo KW.”

Namun karena rupanya Misye terpikat. Mungkin karena tubuh Murot yang tegap ala “polisi generasi lama,” dibanding karena Bogel suaminya yangsibuk mengurus bisnis karaoke sampai jarang memberikan perhatian. Yang jelas, di antara lampu remang karaoke, hubungan keduanya makin menjadi bagaikan sendal jepit ketinggal dimasjid, warnanya lain sebelah.

Murot, sebagai “peselingkuh berpengalaman,” yakin bahwa setiap hubungan terlarang butuh tiga hal yaitu : Dimomong, diempok empok, dikasih ruang aman.

Dan menurut perhitungan matematis Murot, solusi semuanya berada dalam satu paket:
Karaoke + Misye = Rumah Kedua Mashyuk boskuuh.

Saking nyamannya, Murot mulai menganggap ruang karaoke itu seperti apartemen transit. Di sinilah kocaknya tiap kali mabuk oleh suasana entah musiknya atau Misye nya membuat Murot berubah menjadi pendekar gombal tingkat nasional.

Gaya rayuannya bisa bikin siapa pun mikir, “Ini orang hidup di realita atau komik strip?” Sebab logikanya hancur, tapi keberaniannya justru naik level tertinggi.

Di sinilah hubungan mereka berkembang secara emosional (dan penuh drama), atau kalau memakai istilah komedi cinta ilegal di bawah sorotan lampu LED karaoke.

Sayang seribu sayang, Lubuk Linggau bukan kota sebesar Tokyo. Kabar-kabar aneh itu cepat menyebar. Apalagi, beberapa anak buah Bogel melaporkan hal ganjil:
“Pak, kok Pak Murot sering sekali ‘memesan’ istri Bapak buat dampingi karaoke?”

Bogel, yang mulai mencium aroma perselingkuhan, tidak tinggal diam. Ia bukan hanya suami, tapi juga pengusaha. Dan seorang pengusaha tentu sangat paham: “jika ada aset bocor, harus segera ditutup sebelum bangkrut”.

Hingga beberapa hari kemudian terjadilah cekcok antara Bogel dan Murot.
Terakhir, Bogel melaporkan Murot ke Mapolres setempat. Tuduhannya?
Ya bebas lah… antara perselingkuhan atau kalau perlu sekalian pembalakan liar di ladang orang maunya pokoknya asal Murot dipecat. Denger denger Murot berstatus di patsuskan atasannya.

Hubungan melanggar asusila itu seperti AC bocor, Awalnya terasa sejuk…Lama-lama menetes…Kemudian merusak plafon…Dan akhirnya semua orang ribut soal siapa yang harus bayar perbaikan.

Murot dan Misye persis seperti itu, sejuk di awal, ribut di akhir.

Kisah Murot dan Misye ini pada akhirnya bukan kisah cinta, melainkan komedi satir tentang keputusan bodoh yang dibungkus keberanian terlalu besar.

Sementara Bogel memainkan peran sebagai suami yang gerah melihat tingkah Misye, sekaligus pengusaha yang tersinggung secara profesional, Murot menjadi simbol bapak-bapak yang merasa dirinya tokoh utama drama Korea Utara.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments