Sabtu, Maret 14, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaHantu di Jalur Maut Santiong Mengincar Warga Cimahi

Hantu di Jalur Maut Santiong Mengincar Warga Cimahi

Energi Juang News, Cimahi– Hantu di Jalur Maut Santiong Mengincar Warga Cimahi bukan sekadar judul sensasional, melainkan bagian dari urban legend yang telah dipercaya masyarakat secara turun-temurun. Di sejumlah kawasan Cimahi, terutama di koridor jalan tua yang kerap diselimuti kabut dan minim penerangan, cerita-cerita gaib menjadi bagian dari identitas lokal. Para warga menyebut bahwa legenda tersebut bukan semata cerita kosong, tetapi pengalaman nyata yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Jalan Kolonel Masturi, yang oleh warga lebih akrab dipanggil Santiong, menjadi pusat dari kisah-kisah mistis itu. Jalan yang menghubungkan Cimahi dan Cisarua ini melewati dua area pemakaman besar yang berdiri saling berhadapan: Permakaman Santiong di kiri dan TPU Muslim Cipageran di kanan. Banyak pengendara mengaku merasakan hawa dingin yang datang tiba-tiba saat melalui titik tersebut, seolah ada mata yang mengawasi dari balik pepohonan bambu yang merunduk ke jalan.

Satu kilometer dari persimpangan Citeureup, suasana berubah drastis. Pepohonan tertua di area itu menjulang dengan batang bengkok seakan membentuk lorong alami menuju pemakaman. Sejumlah warga pernah berkata bahwa setiap pohon di sana seakan menyimpan cerita sendiri. “Kalau lewat sini malam-malam, jangan coba sompral,” ujar seorang pedagang bensin eceran kepada penulis suatu malam. “Soalnya banyak yang merasa diikuti makhluk yang tidak mau disebut namanya.”

Cerita yang paling sering dibicarakan adalah kemunculan arwah pria tanpa kepala yang diyakini menjadi penunggu Jalur Maut Santiong. Menurut Komarudin, warga asli Cipageran, sosok itu biasanya muncul di tikungan menurun yang berdekatan dengan nisan tua. “Saya pernah lihat sendiri, Kang,” katanya dengan nada bergetar. Ia menggambarkan sosok itu memiliki tubuh hangus seperti bekas terbakar, bajunya compang-camping, dan darah hitam mengalir tanpa henti dari leher buntungnya. Pengendara yang melihatnya biasanya tiba-tiba kehilangan kontrol, seakan bayangan itu muncul tepat di tengah jalan.

Selain sosok tanpa kepala, ada pula kuntilanak yang dipercaya sering bergelayut di pucuk rumpun bambu yang rimbun di sisi pemakaman. Menurut warga, arwah perempuan itu memiliki rambut sangat panjang hingga menyapu tanah, wajah pucat membiru, dan mata merah menyala seperti bara. Saat angin berhembus, bambu-bambu di Santiong konon tidak bergerak mengikuti arah angin, tapi justru bergerak saling berlawanan seolah ada sesuatu yang berada di dalamnya. “Saya pernah dengar dia tertawa, suaranya kayak dari dua arah sekaligus,” ujar seorang pemilik warung kopi di bawah pohon beringin.

Pengalaman paling menyeramkan diceritakan oleh pengemudi ojek yang pulang larut malam setelah mengantar penumpang. Di dekat tanjakan, ia melihat seorang wanita berdiri sendirian sambil menangis. Ia menawarkan bantuan, tetapi wanita itu tidak menjawab bahkan ketika dia bertanya dua kali. Ketika pengemudi itu mencoba mendekat, wanita itu tiba-tiba menghilang seperti asap, meninggalkan bau anyir yang menusuk. “Mas, ulah balik sorangan deui mun peuting,” nasihat seorang warga tua yang menemuinya esok hari. “Di dieu mah, nu katingali téh teu salawasna jalma.”

Keangkeran Jalur Maut Santiong sebenarnya semakin kuat karena rentetan kecelakaan tragis. Salah satu yang paling membekas adalah kecelakaan besar pada 2016 ketika sebuah bus pariwisata menabrak lima kendaraan dan menyebabkan sembilan orang meninggal dunia. Banyak warga percaya bahwa kecelakaan di jalur itu bukan hanya faktor teknis, tetapi karena pengendara melanggar aturan tak tertulis: jangan bicara sembarangan dan jangan menyebut hal-hal yang menantang kehadiran makhluk tak kasat mata.

Minimnya penerangan pada malam hari menjadikan jalan ini tampak seperti lorong gelap tak berujung dari arah manapun. Pengendara sering mengaku tiba-tiba merasa seperti sedang berjalan lebih jauh daripada jarak sebenarnya, seolah jalan memanjang dengan sendirinya. “Kadang, lampu motor saya seperti diredupkan dari luar,” ujar seorang warga yang sering melewatinya. Efek psikologis itu membuat banyak orang lebih memilih memutar jalan meski lebih jauh.

Namun, di balik seluruh cerita mistis yang menyelimuti kawasan itu, sebenarnya Jalan Kolonel Masturi menyimpan sejarah panjang yang sangat penting bagi Cimahi. TPU Cipageran yang dianggap angker justru menjadi tempat peristirahatan dua leluhur Cimahi, yakni Mbah Wirasuta dan istrinya, Eyang Fatimah Sariwangi. Mereka diyakini membuka daerah Cipageran sebagai permukiman pertama dan turut menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Ironisnya, jejak sejarah ini lebih jarang dibicarakan dibanding legenda hantunya.

Menurut Machmud Mubarok dari Komunitas Tjimahi Heritage, Cipageran kemungkinan besar merupakan titik awal pembentukan Kota Cimahi jauh sebelum pembangunan Jalan Anyer–Panarukan oleh Daendels pada tahun 1811. Namun, masyarakat modern lebih mengingat Santiong sebagai jalur horor yang penuh kisah makhluk halus. “Padahal sejarahnya kuat sekali,” ujarnya. Dengan demikian, Jalur Maut Santiong bukan hanya tentang teror dari dunia gaib, tetapi juga warisan sejarah yang perlu dijaga agar tidak hilang tertutup cerita mistis yang berkembang di masyarakat.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments