Energi Juang News, Moskow— Hubungan strategis antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) tengah memasuki masa genting. Perjanjian pengendalian senjata nuklir New START, yang selama ini menjadi batasan utama bagi kekuatan nuklir kedua negara, resmi berakhir pada 4 Februari 2026. Rusia kini bersiap menghadapi dunia tanpa kendali nuklir untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun.
Apa Itu Perjanjian New START?
Perjanjian New START (Strategic Arms Reduction Treaty) merupakan kesepakatan yang diteken pada 2010 oleh Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev, dan Presiden AS Barrack Obama. Perjanjian ini berlaku efektif mulai 5 Februari 2011 dan memberi waktu tujuh tahun bagi kedua negara untuk menyesuaikan jumlah persenjataan strategis mereka hingga batas yang disepakati pada 5 Februari 2018.
Berikut batas utama dalam perjanjian tersebut:
- Maksimal 700 rudal balistik antarbenua (ICBM), rudal balistik kapal selam (SLBM), dan pembom berat bersenjata nuklir yang dikerahkan.
- Total 1.550 hulu ledak nuklir yang diizinkan.
- Sebanyak 800 peluncur ICBM dan SLBM yang dikerahkan maupun tidak dikerahkan.
Sejak 2018, baik AS maupun Rusia telah mematuhi batas tersebut.
Baca juga : Prabowo Tiba di Sumut Usai Lawatan ke Pakistan–Rusia, Siap Tinjau Banjir Aceh
Akhir dari Kesepakatan yang Menahan Jam Kiamat
Rusia kini menghadapi kenyataan bahwa era pembatasan nuklir itu berakhir. Mantan Presiden Rusia yang kini menjabat sebagai pejabat keamanan senior, Dmitry Medvedev, memperingatkan dampak serius jika perjanjian tidak diperpanjang.
“Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini (membiarkan perjanjian berakhir) segera berarti bencana dan perang nuklir akan dimulai, tetapi hal itu tetap harus membuat semua orang khawatir,” ujar Medvedev sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (3/2/2026).
Ia juga menyinggung tentang perlunya mempercepat “jam kiamat” simbolis yang menggambarkan seberapa dekat dunia pada kehancuran akibat ulah manusia.
Amerika Bungkam, Rusia Anggap Sebagai Jawaban
Presiden AS Donald Trump dalam wawancara dengan New York Times bulan lalu menegaskan tidak ada rencana jelas untuk memperpanjang New START. “Jika berakhir, ya berakhir. Kita akan membuat perjanjian yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Rusia menganggap diamnya Washington sebagai sinyal pasti. “Tidak adanya jawaban juga merupakan jawaban,” tegas Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, dikutip Reuters.
Ryabkov menyebut Moskow siap menghadapi “realitas baru” di mana dua kekuatan nuklir terbesar di dunia hidup tanpa pembatasan apa pun—sebuah kondisi yang belum pernah terjadi sejak era Perang Dingin.
China Masih Menolak Bergabung
AS sebelumnya meminta China, yang memiliki persenjataan nuklir terbesar ketiga di dunia, untuk ikut dalam pembicaraan. Namun Beijing tetap menolak, menandakan penolakan terhadap sistem kontrol bersama.
Redaksi Energi Juang News



