Sabtu, Maret 14, 2026
spot_img
BerandaPergerakanDPP GMNI: Indonesia Bisa Jadi Mediator Pasca Perjanjian Nuklir Amerika-Rusia Berakhir

DPP GMNI: Indonesia Bisa Jadi Mediator Pasca Perjanjian Nuklir Amerika-Rusia Berakhir

Energi Juang News, Jakarta- Kondisi global saat ini berada dalam tepi jurang, rawan dan berbahaya. Amerika Serikat (AS) dan Rusia dikabarkan tidak memperpanjang perjanjian pengendalian senjata Nuklir yang berakhir 5 Januari 2026.

New START (Strategic Arms Reduction Treaty) adalah perjanjian yang membatasi penggunaan senjata nuklir jarak jauh, termasuk setiap hulu ledak nuklir yang dimuat ke dalam rudal balistik jarak jauh antarbenua. Berakhirnya perjanjian ini sekan membuat kondisi Global seperti di tepi jurang jika penggunaan nuklir dan hulu ledak nya tidak dibatasi, mengingat AS dan Rusia sampai saat ini menguasai sekitar 90% hulu ledak nuklir dunia.

Dampak Berakhirnya New START terhadap Stabilitas Nuklir Global

Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPP GMNI) pun mengatakan bahwa Indonesia memiliki peran strategis sekaligus rawan untuk menyikapi tidak berlakunya lagi New START. GMNI menilai Indonesia harus tetap berpihak ditengah ketegangan konflik Global yang terjadi, seperti di Iran, yang dapat memicu penggunaan nuklir karena memungkinkan akibat perjanjian New START.

Baca juga : GMNI Tekankan Larangan Praktik Jual Beli Jabatan Pendamping Desa

Suka tidak suka amanat konstitusi kita adalah ikut serta dalam menjaga perdamaian Dunia, harapannya pemerintah dapat memainkan peran politik Luar Negeri Bebas -Aktifnya dalam meredam Moskow, terlebih ambisi Washington yang semakin liar akhir-akhir ini, “ujar Ketua DPP GMNI Bid. Geopolitik, Andreas Silalahi.

Peluang Indonesia Jadi Mediator antara AS dan Rusia

DPP GMNI menilai Pemerintah masih dapat berpeluang menjadi penengah antara dua kelompok besar ini. Hubungan Luar Negeri Indonesia – AS atau Indonesia – Rusia saat ini masih tergolong baik. Maka pemerintah dapat memanfaatkan ini untuk menjadi ruang sebagai mediator agar AS – Rusia tidak lama bermain-main dengan senjata pemusanh massal ini.

Indonesia sampai saat ini dinilai berkomunikasi baik terhadap Washington maupun Moskow, yang salah satu indikatornya bisa dilihat dari keterlibatan Indonesia sebagai Anggota Board Of Peace. Hubungan diplomatik Indonesia Rusia juga tergolong baik, terutama pasca lawatan Presiden Prabowo ke Istana Kremlin,Rusia (10/12/2025).

DPP GMNI menilai hal ini sebagai preseden positif hubungan diplomatik Indonesia terhadap dua Negara raksasa tersebut. Hal positif tersebut dapat dikatakan sebagai potensi Indonesia dalam berkontribusi dalam menjaga stabilitas perdamaian Global yang saat ini berada di tepi jurang perang Dunia.

Mandat Konstitusi dan Potensi Indonesia di Tengah Krisis Nuklir

“Kita berharap Presiden dapat menjadi penghubung mengingat Indonesia adalah mitra strategis kedua Negara tersebut, meskipun rentan bagi Indonesia, namun peluang tersebut masih ada mengingat Indonesia juga memiliki potensi kekuatan berupa Sumber Daya Alam yang menjadi sorotan Negara-negara besar,” tegas Andreas.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments