Energi Juang News, Jakarta- Ketua Banggar DPR Said Abdullah tegas menolak rencana impor 150.000 mobil pikap dari India. Rencana ini ditujukan untuk operasional Koperasi Desa Merah Putih. Ia anggap langkah itu melemahkan industri nasional.
Alasan Penolakan Said Abdullah
Said Abdullah nilai impor ini bertabrakan dengan program pemerintah kuatkan ekonomi desa. Anggota PDI Perjuangan itu sebut penggunaan APBN untuk impor tak selaras dengan visi Prabowo Subianto. “Saya sangat menyayangkan uang APBN dibelanjakan tapi tidak memberi nilai tambah ekonomi di dalam negeri. Langkah ini sebaiknya dibatalkan,” kata dia dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 27 Februari 2026.
Celios hitung rencana ini bisa gerus PDB hingga Rp39,29 triliun. Pendapatan masyarakat turun Rp39 triliun. Surplus otomotif domestik ciut Rp21,67 triliun, pendapatan pekerja rantai pasok berkurang Rp17,39 triliun, dan pajak bersih tekan Rp240 miliar.
Dorongan Kerja Sama Lokal
Said sarankan PT Agrinas Pangan Nusantara gandeng produsen dalam negeri. Ini bisa jadi stimulus besar bagi otomotif Tanah Air. “Bayangkan jika pengadaan dilakukan di dalam negeri. Industri otomotif akan bangkit, menyerap tenaga kerja, dan menimbulkan efek berantai ekonomi,” ucapnya.
Baca juga : MKD Tegaskan Tak Ada Prosedur Dilanggar saat Sahroni Kembali Pimpin Komisi III DPR
Pengumuman Impor dari India
Mahindra and Mahindra Ltd umumkan suplai 35.000 unit pikap Scorpio pada 4 Februari 2026. Tata Motors ikut rencanakan ekspor 70.000 unit enam hari kemudian. Total capai ratusan ribu unit untuk Kopdes Merah Putih.
Respons Agrinas
Pada konferensi pers 24 Februari lalu, Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo De Sousa Mota bilang pikap 4×4 ini untuk 70 ribu Kopdes Merah Putih. Kendaraan angkut hasil pertanian ke pasar. “Tetapi, setelah saya coba memahami, ternyata keinginan Bapak Presiden itu bagaimana bisa menghubungkan petani langsung dengan konsumen sehingga terjadi fair price,” kata Joao.
Ia sebut harga pikap 4×4 lokal mahal, capai Rp528 juta per unit di e-katalog. Spek 4×2 pun masih tinggi untuk petani. Impor dari India punya muat 1,2 ton, lebih besar.
Redaksi Energi Juang News



