Energi Juang News,Bali- Kabut turun lebih cepat di Bedugul. Udara dingin menggigit, membungkus perbukitan hijau dengan selimut tipis yang bergerak perlahan. Di antara rimbun pepohonan dan lereng yang sunyi, berdiri bangunan megah yang tampak seperti istana terlupakan. Dindingnya kokoh, pilar-pilarnya tinggi, dan jendelanya menganga kosong, seolah menunggu sesuatu yang tak pernah datang.
Bangunan itu dikenal sebagai Hotel Pondok Indah Bedugul, terletak di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan. Banyak orang menyebutnya dengan nama lain: Ghost Palace Hotel. Sebuah hotel megah yang tak pernah benar-benar menjadi hotel.
Konon, hotel ini dibangun pada tahun 90-an, sebelum krisis moneter 1998 melanda Indonesia. Proyeknya besar, ambisius, dan mahal. Namun tiba-tiba pembangunan berhenti begitu saja. Tidak pernah ada peresmian. Tidak pernah ada tamu pertama.
Tak ada yang benar-benar tahu siapa pemiliknya. Desas-desus menyebut nama Hutomo Mandala Putra, anak dari mantan Presiden Soeharto, namun kabar itu tak pernah terkonfirmasi. Ada pula yang berkata hotel ini milik pengusaha asing yang tersandung masalah izin. Misterinya mengendap seperti kabut yang tak pernah benar-benar hilang.
Kiki seorang turis lokal pertama kali mendengar kisahnya dari Pak Made, seorang warga Bedugul yang warung kopinya menghadap jalan menuju bukit tempat hotel itu berdiri.
“Mau ke atas?” tanya Pak Made sambil menuangkan kopi hitam pekat ke dalam gelas.
“Iya, Pak. Katanya tempatnya angker?” Jawab Kiki.
Pak Made tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
“Bukan katanya lagi. Sudah banyak yang dengar suara aneh di sana.”
“Suara apa?”Tanya Kiki penasaran.
“Banyak pengunjung mendengar langkah kaki berat dan kaki sebelah seolah diseret. Ada pula sosok bayangan putih namun menyeramkan muncul dari lorong tangga darurat kamar 105 . Kadang ada lampu emergensi menyala sendiri berwarna merah. Padahal listrik sudah lama mati.”Jawab Pak Made
Kiki mengira itu hanya cerita untuk menakut-nakuti wisatawan. Toh, tempat itu terkenal di kalangan turis asing setelah seorang YouTuber bernama Jacob Laukaitis mengunggah video berjudul Massive Abandoned Hotel in Bali | Ghost Palace Hotel, Indonesia pada 2015. Dalam videonya, ia menjelajahi hampir seluruh bangunan. Ia berkata, “Nobody knows why it was abandoned 10 years ago.”
Sejak itu, rasa penasaran wisatawan semakin besar.
Namun sore itu, Kiki tidak datang sebagai turis biasa. Ia ingin tahu apa yang membuat warga sekitar berbicara setengah berbisik setiap menyebut nama hotel itu.
Bangunan itu tampak gerbangnya sudah lama terbuka. Catnya mengelupas, namun struktur bangunannya masih tampak megah. Pilar-pilar tinggi berdiri seperti penjaga bisu dan aroma asing mulai menyeruak berasal dari dalam. Dari atas bukit, pemandangan lembah hijau membentang indah namun ironis untuk tempat yang dianggap angker dan dingin.
Di lobi, daun-daun kering menumpuk. Lantai marmernya retak, tapi masih memantulkan cahaya senja yang masuk dari jendela besar. Kiki melangkah perlahan dengan sangat waspada akan hal tak terduga. Suara langkah kakinya menggema ke seluruh ruang lobi, namun ia mulai menajamkan pendengaran.
Lalu terdengar suara lain samar namun lama kelamaan suara itu mendekat dan makin jelas perlahan terdengar.
Tok.
Langkah kaki Kiki berhenti supaya ia lebih jelas mendengarnya.
Hening…, tak terdengar suara apapun. Suara helaan nafas Kiki justru yang terdengar menggema. “Mungkin hanya ilusiku”, batin Kiki.
Sambil terus merekam menggunakan ponselnya Kiki melanjutkan explorasi menuju ke lantai dua. Koridornya panjang, pintu-pintu kamar berjajar seperti mulut tertutup rapat. Di salah satu kamar mandi, aku melihat tulisan samar di wastafel berdebu:
“Di sini ada hantu.” dari tulisan itu tampak gaya tulisan seolah bergetar, seperti orang yang sedang ketakutan.
Sontak tulisan itu membuat tengkuk Kiki meremang, seperti mendapat pesan khusus dari pengunjung sebelumnya.
Tiba-tiba terdengar suara dari lobi bawah, “Ahhrrrccchhhh….”suara erangan berat dan serak bersambutan dengan suara deru angin, padahal cuaca normal.
“Braaak!!” Suara pintu seperti dibanting mengagetkan Kiki. Ditambah lagi sebuah bayayangan melintas dilorong kamar 105 menuju lorong jalur evakuasi gedung. Lampu emergensi tiba tiba menyala padahal tempat itu sedari tadi gelap gulita.
Kiki membeku mencoba menerka maksud penghuni tak kasat mata tentang kehadirannya. Karena ia sudah merasa gangguan dari sosok misterius makin sering terjadi.
“Siapa?” suara Kiki parau memberanikan diri menghardik. Tak ada jawaban yang membuatnya merasa tak sendiri. Hanya angin yang menyusup lewat jendela pecah. Senter dan kamera ia arahkan ke bawah dimana lobi masih bisa terlihat. Irama jantung yang makin meningkat,bercampur keringat hawa panas lebab tempat itu.
Namun Kiki yakin suara itu bukan angin, tapi suara kehadiran sosok astral dengan energi yang kuat. Mungkin ini peringatan untuk Kiki agar tak lagi lebih jauh mengexplore tempat itu lebih dalam.
Malam itu juga, Kiki kembali ke warung Pak Made. Wajahku pucat
“Dengar sesuatu, ya?” katanya seolah sudah tahu.
“Ada suara… seperti orang mengerang.”
Pak Made mengangguk pelan.
“Banyak yang bilang begitu.”
“Siapa sebenarnya yang ada di sana, Pak?”
Ia menatap ke arah bukit yang kini tertutup kabut malam.
“Orang-orang bilang, tempat itu sudah ‘diisi’ sebelum sempat dipakai manusia.”
“Diisi?”
“Ya. Bangunan sebesar itu, berdiri di atas bukit yang dulu katanya tempat keramat. Tidak semua tempat mau diganggu.”
Kiki terdiam menyimak setiap kisah yang disampaikan Pak Made.
Seorang pemuda lokal yang dari tadi duduk di sebelah Kiki ikut menimpali.
“Teman saya pernah camping di sana. Jam dua pagi, ada suara orang mengetuk pintu kamar. Tiga kali. Waktu dibuka, kosong.”
“Lalu?” tanya Kiki.
“Besoknya dia demam tiga hari.” Jawab pemuda itu.
Pak Made menambahkan pelan,
“Yang paling sering itu suara langkah dan bayangan di ujung koridor.”
Beberapa minggu setelah kunjungan, Kiki membaca ulang kisah tentang hotel itu. Tentang proyek yang terhenti mendadak. Tentang pemilik yang tak jelas. Tentang megahnya bangunan yang tak pernah digunakan.
Secara logika, mungkin hanya bangunan terbengkalai yang menimbulkan sugesti. Struktur kosong memang mudah memantulkan suara, menciptakan ilusi langkah dan bisikan.
Namun bagaimana menjelaskan pengalaman yang sama dari orang-orang berbeda?
Mengapa hotel yang berdiri di lokasi seindah itu tak pernah benar-benar hidup?
Sampai hari ini, hotel itu tetap berdiri. Megah. Sunyi. Memandang lembah hijau yang memesona. Wisatawan asing masih berdatangan, menyebutnya Ghost Palace Hotel. Mereka berfoto di tangga besar, di balkon tinggi, di lorong panjang yang tampak dramatis.
Sebagian pulang dengan cerita biasa.
Sebagian lagi pulang dengan cerita yang tak bisa mereka jelaskan.
Pak Made pernah berkata padaku sebelum aku kembali ke kota,
“Tempat itu tidak jahat. Tapi bukan untuk kita.”
Aku tidak tahu maksudnya saat itu.
Namun kadang, di malam hari ketika aku teringat lorong panjang itu, aku masih mendengar suara pelan namun menyeramkan.
Dan setiap kali Kiki menoleh dalam ingatan itu, Yang ada hanya tentang lorong penghubung kamar 105 selalu kosong sunyi dan gelap gulita. Hanya lampu emergensi gedung berwarna merah temaram yang jadi sumber cahaya.
Kiki merasa disitulah pusat energi negatif arwah arwah penghuni gedung berkumpul, menyampaikan pesan pengunjung: “Jangan dilanjutkan!! Atau tanggung sendiri akibatnya!”
Redaksi Energi Juang News



