Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaDua Malam di Hotel Murah yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur

Dua Malam di Hotel Murah yang Tak Pernah Benar-Benar Tidur

EnergiJuangNews,Surabaya- Dita (23) Mahasiswi di sebuah Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya termasuk orang yang gemar berlibur ke luar kota, apalagi jika bisa menghabiskan tiga sampai empat malam bersama teman dekat. Rasanya selalu ada cerita baru setiap bepergian, mulai dari kuliner hingga kejadian tak terduga. Saat itu, pilihan kami jatuh pada Kota Semarang. Sebuah kota yang terlihat ramah dan penuh sejarah. Mereka berangkat tanpa prasangka apa pun, hanya membawa niat bersenang-senang, beristirahat, dan melepas penat dari rutinitas harian.

Keputusan menginap di sebuah hotel bintang tiga datang begitu cepat. Penawaran dari aplikasi pemesanan terasa terlalu menggoda untuk dilewatkan: dua malam hanya dengan 300 ribu rupiah. “Murah banget, ini sih rezeki,” kata Wini(23) teman Dita sambil tertawa. Kami pun sepakat tanpa banyak riset, tanpa membaca ulasan mendalam. Siapa sangka, keputusan tergesa-gesa itu justru menjadi awal dari pengalaman paling mencekam selama Dita bepergian.

Mereka tiba sekitar pukul tiga sore. Begitu memasuki area parkir, perasaan Dita langsung tidak nyaman. Udara terasa lembap dan berat, seolah menekan dada. Lorong menuju pintu masuk tampak redup, dan entah mengapa muncul sensasi seperti ada yang memperhatikan dari kejauhan. “Ah, paling cuma capek,” Dita menenangkan diri sendiri. Dita berusaha berpikir positif, menolak firasat yang mulai tumbuh pelan-pelan.

Di lobby, keanehan kembali terasa. Saat menunggu Gito(23) teman Dita check in, hidung Dita mencium bau anyir yang tidak biasa. Di sela bau itu, terdengar alunan gamelan Jawa yang lirih. Bukan musik yang menenangkan, melainkan seperti suara dari ruang kosong. Dita sempat bergumam pelan, “Hotel kok aromanya gini ya?” Namun ketika Dita bertanya pada teman, ia justru menjawab santai, “Wangi kok, aromaterapi.” Jawaban itu membuat Dita terdiam dan semakin bingung.

Baca juga :  Hantu Dunguak: Teror Penunggu Sungai Bengkulu

Kamar kami berada di lantai dua. Begitu pintu dibuka, kekecewaan langsung terlihat. Debu menempel di berbagai sudut, sprei bernoda, dan handuk kamar mandi sudah berubah warna. GitoTeman Dita mengeluh kesal.
“Anjir, Dit. Murah sih, tapi jorok gini,” katanya.
Dita mencoba menenangkan, “Udah lah, cuma dua malam. Kalau nggak kuat, besok pindah.”
Nada bicara Dita terdengar meyakinkan, meski hati ia sendiri mulai ragu.

Menjelang magrib, Wini pergi membeli makan, meninggalkannya sendirian di kamar. TV hanya menampilkan saluran buram, akhirnya Dita beralih ke ponsel. Tiba-tiba pintu diketuk. Saat ia buka, lorong kosong. “Salah kamar mungkin,” pikirnya. Ketukan kedua ia abaikan. Ketukan ketiga disertai teriakan memanggil nama Dita. Ketika pintu dibuka, barulah terlihat Wini berdiri dengan wajah heran. “Kamu kenapa lama bukanya?” tanyanya.

Malam semakin larut. Teman Dita tertidur lebih dulu, sementara ia masih terjaga. Sekitar pukul sebelas, terdengar suara anak-anak berlarian di lorong. Disusul suara troli besi yang didorong bolak-balik tepat di depan kamar. “Jam segini bersih-bersih?” batinnya. Suara itu berlangsung cukup lama, membuat jantung berdebar tak karuan. Saat berhenti, rasa lega hanya bertahan sebentar.

Pukul dua dini hari, suara pintu dibuka dan ditutup berulang kali terdengar jelas. Lalu gamelan itu kembali, kali ini lebih dekat dan lebih nyata. Dita menutup telinga, membaca doa sebisanya. Tepat pukul tiga pagi suara itu lenyap, digantikan kokok ayam. Ia hampir tertidur ketika tiba-tiba jendela kamar digedor tiga kali keras. “Siapa?!” teriaknya. Tidak ada jawaban, hanya sunyi yang menyesakkan.

Subuh tiba tanpa Dita memejamkan mata. Saat azan berkumandang, suara gedoran muncul dari kamar mandi. Wini teman sekamarnya terbangun dan langsung mendekat. “Brisik!” bentaknya sambil membuka pintu kamar mandi. Seketika suara itu berhenti. Wajahnya berubah pucat. Tanpa banyak diskusi, Dita berkata, “Kita pindah hotel sekarang.” Ia mengangguk cepat, tak lagi membantah.

Baca juga :  Gelu: Misteri Gumpalan Tanah Penjaga Arwah Gantung Diri

Seminggu kemudian,Pak Wiji seorang kenalan warga sekitar bercerita. “Hotel itu emang dari dulu beda,” katanya. Ia menyebut sebelum pembangunan, pemilik lama melakukan ritual dengan menanam kepala kerbau di lokasi tersebut. “Katanya biar kuat, tapi ya gitu akibatnya.” Mendengar cerita itu, bulu kuduk Dita kembali berdiri. Pengalaman itu mengajarkan satu hal penting: jangan pernah meremehkan firasat, apalagi saat berhadapan dengan tempat yang menyimpan sejarah gelap dan tak pernah benar-benar tidur.

Redalsi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments