Energi Juang News, Jakarta– Pengamat sosial Hizkia Darmayana mengingatkan pemerintah agar tidak melupakan perayaan Naw-Ruz, hari raya yang dirayakan umat Baha’i, di tengah semarak Idul Fitri yang dirayakan umat Islam di Indonesia.
Menurut Hizkia, absennya ucapan resmi dari pemerintah terhadap Naw-Ruz menimbulkan pertanyaan serius mengenai komitmen negara dalam menjamin kesetaraan bagi seluruh pemeluk agama.
Naw-Ruz dan Komitmen Kesetaraan Warga Negara
“Mengapa pemerintah tidak mengucapkan Selamat Naw-Ruz kepada umat Baha’i, padahal mereka adalah bagian sah dari warga negara Indonesia yang dilindungi konstitusi?” ujarnya, Jumat (20/3/2026).
Secara normatif, lanjut Hizkia, keberadaan umat Baha’i dijamin dalam Undang-Undang Dasar 1945, khususnya dalam prinsip kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Selain itu, regulasi yang sempat membatasi aktivitas umat Baha’i telah dicabut melalui Keppres No. 69 Tahun 2000 pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Multikulturalisme dan Pentingnya Pengakuan Simbolik
Dari perspektif ilmu sosial, Hizkia merujuk pada konsep multikulturalisme yang menekankan pentingnya pengakuan dan penghormatan terhadap keragaman identitas dalam masyarakat. Ia juga mengutip teori pengakuan dari Axel Honneth, yang menyatakan bahwa pengakuan simbolik dari negara merupakan elemen penting dalam membangun martabat dan keadilan sosial bagi kelompok minoritas.
Baca juga : Mengapa Pemerintah Tak Ucapkan ‘Selamat Hari Naw-Ruz’ Pada Umat Baha’i?
“Ucapan Selamat Hari Raya Naw-Ruz dari pemerintah bukan sekadar formalitas, melainkan simbol bahwa negara hadir untuk semua agama di negeri ini tanpa kecuali. Pengakuan simbolik seperti ini penting untuk memperkuat kohesi sosial dan mencegah marginalisasi kelompok minoritas,” tegas Hizkia.
Ia menambahkan, negara memiliki peran strategis sebagai penjamin integrasi sosial di tengah pluralitas keyakinan.
Mengabaikan satu kelompok, sekecil apa pun, berpotensi menciptakan ketimpangan simbolik yang berdampak pada relasi sosial yang lebih luas.
Seruan Negara Inklusif bagi Seluruh Pemeluk Agama
Hizkia pun mendesak pemerintah untuk bersikap inklusif dan konsisten dalam mengakui seluruh hari raya keagamaan yang dirayakan warga negara.
“Momentum Naw-Ruz harus menjadi pengingat bahwa Indonesia adalah rumah bersama bagi semua,” pungkasnya.
Redaksi Energi Juang News



