Energi Juang News, Washington– Dukungan terhadap Presiden Amerika Serikat kembali mengalami tekanan serius setelah hasil survei terbaru menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap kepemimpinannya.
Survei Ungkap Dukungan Pemakzulan Menguat
Laporan Newsweek menyebutkan bahwa hasil survei yang dirilis pada Rabu (8/4) waktu setempat memperlihatkan 52 persen pemilih terdaftar mendukung langkah pemakzulan, sementara 40 persen lainnya menolak.
Dilansir Press TV, Kamis (9/4/2026), survei ini melibatkan 790 responden. Dua kelompok advokasi progresif, yakni Impeach Trump Again dan Free Speech for People, menginisiasi survei tersebut sebagai bentuk kritik terhadap kebijakan luar negeri dan langkah politik yang dinilai kontroversial.
Temuan lain menunjukkan bahwa sebagian pemilih dari Partai Republik turut memberikan dukungan terhadap wacana pemakzulan, dengan rasio satu dari tujuh responden.
Menurut laporan yang sama, survei ini digagas oleh John Bonifaz, presiden sekaligus pendiri Free Speech for People, dan dikerjakan bersama perusahaan jajak pendapat yang dipimpin Celinda Lake. Margin of error dalam survei ini berada di angka 3,9 persen.
“Ini adalah hasil yang belum pernah terjadi sebelumnya di awal masa jabatan presiden,” kata Bonifaz dalam konferensi pers.
Tren Penolakan Muncul Lebih Dini
Perubahan sikap publik terhadap presiden disebut terjadi lebih cepat dibandingkan dinamika yang pernah dialami mantan Presiden Richard Nixon.
Pada periode sebelumnya, DPR Amerika Serikat telah dua kali mengesahkan pemakzulan terhadap Trump. Namun, upaya tersebut tidak berlanjut setelah Senat menolak untuk memberhentikannya dari jabatan.
Baca juga : Iran Buka Selat Hormuz 2 Pekan, Serangan AS Ditunda
Kini, tekanan politik kembali menguat. Sejumlah anggota Kongres, khususnya dari Partai Demokrat, mendorong langkah serupa menyusul eskalasi konflik dengan Iran sejak 28 Februari lalu.
Seruan Keras dari Anggota Kongres
Salah satu suara lantang datang dari Alexandria Ocasio Cortez. Politikus Demokrat tersebut kembali menegaskan perlunya tindakan tegas terhadap presiden, meskipun telah diumumkan gencatan senjata sementara.
“Presiden telah mengancam genosida terhadap rakyat Iran, dan terus menggunakan ancaman tersebut sebagai tekanan,” ujar politisi Partai Demokrat itu dalam unggahan di platform X.
“Kita tidak bisa lagi mempertaruhkan dunia maupun kesejahteraan negara kita,” lanjutnya seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (8/4).
“Baik melalui kabinet maupun Kongres, Presiden harus dicopot dari jabatannya. Kita sedang bermain di ambang kehancuran,” cetus Cortez.
Sebelumnya, puluhan legislator dari Partai Demokrat juga telah menyuarakan tuntutan serupa. Mereka menilai ancaman terhadap Iran menjadi alasan kuat untuk mendorong pemberhentian presiden, dan sikap tersebut tetap konsisten meski ada upaya meredakan konflik melalui gencatan senjata.
Redaksi Energi Juang News



