Senin, Juni 1, 2026
spot_img
BerandaDaerahPenurunan Tanah Pantura Jawa

Penurunan Tanah Pantura Jawa

Energi Juang News, Jakarta- Sejumlah kawasan pesisir di Pulau Jawa menghadapi tekanan lingkungan yang semakin besar. Selain perubahan kondisi daratan, wilayah pesisir juga harus berhadapan dengan meningkatnya ketinggian permukaan laut yang berpotensi memperluas area terdampak banjir di masa depan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat kondisi tersebut terjadi di berbagai daerah sepanjang pesisir utara Jawa. Wilayah yang terdampak meliputi Jakarta, Bekasi, Indramayu, Cirebon, Subang, Pemalang, Pekalongan, hingga Demak dengan tingkat kerentanan yang berbeda-beda.

BRIN Pantau Penurunan Tanah dengan Teknologi Geospasial

Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Agung Syetiawan, menjelaskan fenomena penurunan tanah di kawasan Pantura dipantau menggunakan berbagai metode geodesi dan teknologi penginderaan jauh.

Pemantauan dilakukan melalui pemanfaatan teknologi Interferometric Synthetic Aperture Radar (InSAR), Global Navigation Satellite System (GNSS), pengamatan terestris, serta pemodelan geospasial berbasis berbagai sumber data.

Menurut Agung, data GNSS yang berasal dari Indonesia Continuously Operating Reference Station (InaCORS) menunjukkan pola deformasi vertikal yang cenderung tidak linier di sebagian besar wilayah Pantura.

“Data tersebut digunakan sebagai validasi terhadap hasil pengamatan satelit Synthetic Aperture Radar (SAR),” kata Agung dalam keterangan tertulis, Senin, 1 Juni 2026.

Ia menyebut eksploitasi air tanah menjadi salah satu penyebab utama turunnya permukaan tanah di kawasan pesisir. Tingginya kebutuhan air bersih masyarakat serta aktivitas budidaya, termasuk tambak udang vaname, meningkatkan tekanan terhadap cadangan air tanah.

Kenaikan Muka Laut Perbesar Risiko Genangan

Selain penurunan tanah, kawasan pesisir utara Jawa juga menghadapi kenaikan muka laut. Berdasarkan analisis data altimetri, laju kenaikan muka laut berada pada kisaran 2,4 hingga 4,3 milimeter per tahun.

BRIN menilai kombinasi kedua fenomena tersebut dapat memperbesar risiko genangan permanen di sejumlah wilayah pesisir apabila tidak diantisipasi melalui langkah mitigasi yang memadai.

Baca juga :  Siklon Tropis NURI Picu Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

Hasil pemodelan sederhana bath up model menunjukkan beberapa kawasan Pantura berpotensi mengalami genangan permanen. Muara Gembong serta sejumlah wilayah pesisir Jakarta, Tangerang, dan Bekasi disebut telah mengalami perluasan area tergenang akibat penurunan tanah yang terjadi bersamaan dengan kenaikan muka laut.

Agung menegaskan pembangunan infrastruktur pengendali banjir, termasuk Giant Sea Wall, perlu mengacu pada kajian geospasial yang menyeluruh agar penentuan wilayah prioritas dilakukan secara tepat.

Selain itu, ia menilai pengendalian sumur bor, rehabilitasi mangrove, dan evaluasi pembangunan tanggul laut harus menjadi bagian dari kebijakan pembangunan pesisir yang berbasis data ilmiah.

BRIN dan ITB Perkuat Sistem Pemantauan

Agung mengakui sistem pemantauan penurunan tanah masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Salah satunya karena lokasi stasiun pengamatan tidak selalu berada di titik dengan laju penurunan tanah tertinggi.

Untuk meningkatkan akurasi pemantauan, BRIN bekerja sama dengan Teknik Geodesi dan Geomatika Institut Teknologi Bandung (ITB). Kolaborasi tersebut dilakukan melalui pemasangan pilar benchmark permanen di sejumlah titik yang menjadi hotspot penurunan tanah dan dipantau secara berkala setiap tahun.

Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Rokhis Khomarudin, mengatakan penurunan tanah dan degradasi ekosistem pesisir merupakan persoalan lintas disiplin yang membutuhkan dukungan riset berkelanjutan.

Menurut dia, pemanfaatan teknologi Geographic Information System (GIS) dan penginderaan jauh menjadi elemen penting untuk mendukung pemantauan, analisis, serta penyusunan strategi mitigasi berbasis data ilmiah.

 

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments