Energi Juang News, Blitar- Malam selalu datang lebih cepat di kawasan Jalan Melati, Kepanjenkidul, Blitar. Ketika suara kendaraan mulai berkurang dan angin berembus dari sela pepohonan tua, suasana di sekitar sebuah rumah kuno berubah menjadi mencekam. Warga sekitar percaya ada sesuatu yang berbeda di tempat itu, sesuatu yang membuat banyak orang memilih pulang sebelum azan Isya berkumandang.
Misteri Makam Gantung Blitar telah menjadi legenda turun-temurun yang masih hidup hingga sekarang. Di dalam kompleks Pesanggrahan Djojodigdo terdapat makam unik yang tampak lebih tinggi dari tanah di sekitarnya. Tempat itu diyakini sebagai peristirahatan terakhir Mas Ngabehi Bawadiman Djojodigdo atau Eyang Digdo, seorang patih sakti yang konon menguasai Ajian Pancasona.
Suatu malam, seorang warga bernama Pak Sastro melintas di depan pesanggrahan ketika hujan gerimis turun. Dari balik pagar tua, ia mengaku melihat sesosok pria berjubah hitam berdiri menghadap makam. Ketika diperhatikan lebih lama, sosok itu perlahan memudar. “Saya kira peziarah, tapi tiba-tiba hilang begitu saja,” katanya dengan wajah pucat kepada warga yang berkumpul di pos ronda.
Cerita itu membuat suasana mendadak sunyi. Mbah Wiryo, sesepuh kampung yang dikenal sering menjaga area sekitar makam, kemudian berucap pelan. “Dari dulu tempat itu memang wingit. Tidak semua yang terlihat adalah manusia.” Kalimat itu membuat beberapa pemuda yang mendengarnya langsung saling pandang.
Konon, Eyang Digdo merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke wilayah timur hingga akhirnya menetap di Blitar. Kesaktiannya menjadi buah bibir masyarakat karena dipercaya memiliki Ajian Pancasona, ilmu yang membuat pemiliknya sulit mati selama tubuhnya masih menyentuh tanah.
Mitos itulah yang melahirkan kisah paling menyeramkan tentang makam tersebut. Menurut cerita lama, ketika Eyang Digdo wafat, para pengikutnya takut sang patih akan bangkit kembali apabila jasadnya dikuburkan langsung ke tanah. Karena itulah muncul cerita bahwa makamnya dibuat “menggantung” agar kesaktiannya tidak aktif kembali.
Suatu malam Jumat Legi, seorang peziarah mengaku mendengar suara langkah kaki dari arah cungkup makam. Padahal saat itu area sudah kosong. Dengan napas tersengal ia berlari keluar dan menemui juru kunci. “Pak, tadi ada orang berjalan di dalam makam,” katanya gemetar. Juru kunci hanya tersenyum tipis. “Kalau mendengar langkah, jangan menoleh. Lanjutkan doa dan segera pulang.”
Tak hanya itu, sumur tua di dalam kompleks juga memiliki cerita tersendiri. Beberapa warga mengaku pernah mendengar suara percikan air saat tengah malam. Anehnya, ketika diperiksa, tidak ada seorang pun di sekitar sumur. “Seperti ada yang mandi atau mengambil air,” ujar seorang warga. “Tapi begitu didekati, suara itu langsung hilang.”
Pepohonan dewandaru dan nagasari yang tumbuh rimbun di sekitar pesanggrahan semakin menambah kesan angker. Saat angin malam bertiup, ranting-rantingnya bergesekan menghasilkan suara menyerupai bisikan manusia. “Dengar itu?” bisik seorang pemuda kepada temannya. “Seperti ada yang memanggil nama kita.” Temannya langsung menarik lengannya dan mengajak pergi tanpa menoleh ke belakang.
Hingga kini, Pesanggrahan Djojodigdo tetap menjadi salah satu lokasi paling misterius di Blitar. Terlepas dari fakta sejarah yang menyebut makam tersebut sebenarnya dibangun lebih tinggi, bukan benar-benar melayang, aura mistisnya tetap sulit dipisahkan. Saat malam turun dan kabut mulai menyelimuti halaman tua itu, warga sekitar masih percaya bahwa rahasia Ajian Pancasona Eyang Digdo belum sepenuhnya terkubur bersama waktu.
Redaksi Energi Juang News



