Energi Juang News, Jakarta- Pernahkah Anda mendengar seseorang berkata, “Musik zaman sekarang gak ada yang bagus” atau “Musik era dulu jauh lebih berkualitas”? Kalimat semacam itu seolah menjadi perdebatan abadi yang terus muncul dari generasi ke generasi. Menariknya, ilmu pengetahuan ternyata punya penjelasan yang cukup masuk akal mengenai fenomena tersebut.
Setiap generasi memang memiliki soundtrack kehidupannya masing-masing. Lagu yang menemani masa sekolah, perjalanan cinta pertama, hingga momen-momen penting dalam hidup sering kali meninggalkan jejak emosional yang kuat. Karena itulah, banyak orang merasa musik dari masa mudanya selalu terdengar lebih istimewa dibandingkan lagu-lagu yang muncul belakangan.
Di sinilah pembahasan mengenai “Setop Bilang Musik Kekinian Gak Enak” menjadi relevan. Sebuah penelitian dari TickPick menemukan bahwa selera musik seseorang ternyata sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, terutama orang tua. Selain keluarga, teman, radio, hingga musik dalam film juga memiliki peran besar dalam membentuk preferensi musik sejak usia dini.
Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa anak-anak umumnya menemukan band favoritnya saat berusia sekitar 13 tahun. Menariknya lagi, dibutuhkan waktu sekitar enam bulan mendengarkan lagu-lagu dari grup tersebut sebelum mereka benar-benar menganggapnya sebagai favorit. Artinya, rasa suka terhadap musik tidak selalu muncul secara instan, melainkan berkembang melalui proses yang berulang.
Fenomena ini menjelaskan mengapa lagu yang awalnya terasa asing atau bahkan kurang menarik bisa berubah menjadi lagu favorit setelah sering diperdengarkan. Semakin sering otak menerima pola suara yang sama, semakin besar peluang seseorang merasa nyaman dan menikmati musik tersebut.
Namun, hubungan musik antara orang tua dan anak tidak selalu berjalan mulus. Banyak orang tua yang kurang setuju dengan pilihan musik anak-anak mereka. Beberapa alasan yang sering muncul adalah kekhawatiran terhadap lirik yang dianggap kurang pantas, pengaruh perilaku musisi tertentu, atau keinginan memberikan referensi musik yang dianggap lebih berkualitas.
Di sisi lain, penelitian psikologi menunjukkan bahwa manusia cenderung menjadi kurang terbuka terhadap pengalaman baru seiring bertambahnya usia. Kondisi ini bukan hanya berlaku pada makanan, gaya hidup, atau teknologi, tetapi juga pada musik yang didengarkan sehari-hari.
Bahkan sejumlah riset menunjukkan bahwa masa eksplorasi musik biasanya mencapai puncaknya pada usia sekitar 24 tahun. Setelah melewati fase tersebut, banyak orang mulai lebih sering kembali mendengarkan lagu-lagu yang familiar dan memiliki nilai nostalgia tinggi. Tak heran jika playlist masa remaja sering bertahan puluhan tahun dalam kehidupan seseorang.
Meski demikian, bukan berarti pintu untuk menikmati musik baru tertutup rapat. Justru perkembangan industri musik saat ini menghadirkan lebih banyak warna, genre, dan eksperimen kreatif yang sebelumnya sulit ditemukan. Dari pop alternatif, indie folk, synthwave, hingga perpaduan musik tradisional dengan elektronik, semuanya menawarkan pengalaman mendengarkan yang unik.
Karena itu, stigma bahwa musik modern selalu lebih buruk dibandingkan musik klasik atau musik era sebelumnya sebaiknya mulai ditinggalkan. Tidak menyukai sebuah lagu tentu sah-sah saja. Selera musik adalah hal yang sangat personal. Namun, perbedaan selera tidak perlu berujung pada meremehkan karya musisi atau penggemarnya.
Pada akhirnya, musik hadir untuk menemani kehidupan manusia. Baik itu rock klasik, pop era 90-an, indie masa kini, hingga lagu-lagu yang sedang viral di media sosial, semuanya memiliki ruang dan pendengarnya masing-masing. Semakin terbuka kita terhadap berbagai warna musik, semakin banyak pula cerita, emosi, dan kebahagiaan yang bisa kita temukan melalui nada dan lirik.
Jadi, sebelum kembali mengatakan bahwa musik kekinian tidak enak, mungkin ada baiknya memberi kesempatan lebih banyak kepada lagu-lagu baru. Siapa tahu, enam bulan dari sekarang, lagu yang hari ini Anda abaikan justru menjadi soundtrack favorit dalam hidup Anda.
Redaksi Energi Juang News



