Energi Juang News,Kediri- Malam itu hujan turun begitu deras di lereng Gunung Kawi. Angin berembus dingin menyapu pepohonan tua yang berdiri di sekitar bekas wilayah Tumapel. Beberapa warga desa memilih mengunci pintu rumah lebih awal. Mereka percaya ada sesuatu yang tidak kasat mata berkeliaran ketika langit berubah gelap dan kabut turun lebih cepat dari biasanya.
Di sebuah gardu tua, tiga warga duduk mengelilingi lampu minyak yang berkedip-kedip. Wajah mereka tampak tegang ketika suara lolongan anjing terdengar dari arah hutan. “Dengar itu?” bisik seorang lelaki tua bernama Pak Darmo. “Kalau anjing sudah melolong seperti itu, biasanya ada penunggu lama yang sedang lewat.”
Kutukan Keris Mpu Gandring menjadi kisah yang terus hidup di daerah itu. Berdasarkan Pararaton, keris legendaris tersebut dibuat oleh Mpu Gandring atas pesanan Ken Arok. Namun karena tidak sabar, Ken Arok membunuh sang empu dengan keris yang belum selesai ditempa. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Mpu Gandring mengucapkan sumpah bahwa keris itu akan merenggut tujuh nyawa keturunan Ken Arok.
Menurut cerita warga, pada malam-malam tertentu sosok lelaki berjubah hitam sering terlihat berdiri di dekat sebuah petilasan tua. Sosok itu tidak pernah berbicara, hanya memegang sesuatu yang menyerupai sebilah keris panjang. Mereka yang melihatnya konon akan mengalami mimpi buruk selama tujuh malam berturut-turut.
“Almarhum kakek saya pernah melihatnya,” kata Pak Darmo dengan suara bergetar. “Besoknya beliau demam tinggi sambil terus menyebut nama Mpu Gandring. Sampai meninggal pun tidak pernah mau menceritakan apa yang sebenarnya dilihat.”
Kisah itu semakin menyeramkan ketika seorang pemuda desa nekat mencari jejak keris legendaris tersebut. Berbekal petunjuk dari naskah kuno, ia memasuki kawasan hutan yang dipercaya menyimpan rahasia masa lalu Singhasari. Saat malam tiba, teman-temannya mendengar jeritan panjang dari tengah rimbunnya pepohonan.
“Kami lari ke arah suara itu,” ujar seorang warga bernama Joko. “Tapi yang kami temukan hanya obor yang masih menyala. Anak itu hilang begitu saja. Sampai sekarang tidak pernah ditemukan.”
Sejarawan modern seperti Dwi Cahyono dari Universitas Negeri Malang menjelaskan bahwa rangkaian kematian dalam keluarga Singhasari kemungkinan besar dipicu konflik politik antara trah Ken Arok dan Tunggul Ametung. Namun bagi sebagian warga sekitar, penjelasan sejarah tidak sepenuhnya menghapus keyakinan bahwa kutukan Mpu Gandring benar-benar pernah bekerja di balik tragedi berdarah tersebut.
Misteri semakin dalam karena keberadaan asli keris itu tidak pernah ditemukan. Ada yang percaya pusaka tersebut telah hancur bersama waktu. Namun ada pula yang meyakini keris itu masih tersembunyi di suatu tempat, menunggu ditemukan oleh orang yang salah. Konon, setiap upaya pencarian selalu berakhir dengan kejadian ganjil dan kecelakaan misterius.
Menjelang tengah malam, hujan di desa itu berhenti. Kabut putih perlahan turun menyelimuti jalan setapak menuju hutan. Saat para warga hendak pulang, tiba-tiba terdengar suara logam beradu dari kejauhan. “Kalian dengar?” tanya Joko dengan wajah pucat. Semua orang mengangguk, tetapi tidak seorang pun berani mencari sumber suara tersebut.
Sejak malam itu, tak ada lagi warga yang berani melintasi jalur menuju petilasan setelah matahari terbenam. Entah sekadar legenda, trauma sejarah, atau benar-benar teror dari masa lalu, kisah Keris Mpu Gandring tetap menjadi salah satu misteri paling mencekam di tanah Jawa. Dan ketika kabut turun dari Gunung Kawi pada malam yang sunyi, sebagian warga masih percaya bahwa kutukan lama itu belum benar-benar berakhir.
Redaksi Energi Juang News



