Senin, Juli 6, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaSesajen: Bukan Mistis, Tapi Cara Kita 'Berterima Kasih' pada Alam

Sesajen: Bukan Mistis, Tapi Cara Kita ‘Berterima Kasih’ pada Alam

Di media sosial belakangan ini, perdebatan mengenai sesajen kembali mencuat. Seringkali, narasi yang muncul sangat hitam-putih: sesajen dianggap sebagai praktik mistis, bahkan dituduh musyrik dan sesat. Namun, jika kita sejenak menanggalkan kacamata penghakiman tersebut dan melihat dari sudut pandang yang lebih luas, sesajen sebenarnya menyimpan nilai luhur yang sangat relevan dengan isu ekologi kita saat ini.

Sesajen, dalam banyak tradisi Nusantara, bukanlah sekadar ritual kosong. Ia adalah bentuk “ekologi spiritual” sebuah pengingat bahwa manusia, budaya, dan alam adalah satu kesatuan yang saling terikat. Jika kita mau jujur, sesajen adalah salah satu cara leluhur kita mengajarkan cara menjaga keseimbangan hidup.

Mengapa Sesajen Adalah Bentuk Pelestarian Alam?

Ada alasan mendalam mengapa praktik ini bisa dilihat sebagai wujud nyata kepedulian pada lingkungan:

  • Indikator Kesehatan Alam: Bahan-bahan sesajen seperti bunga segar, umbi-umbian, dan dedaunan biasanya diambil langsung dari ladang atau hutan sekitar. Ketika seseorang sulit menemukan bahan-bahan tersebut, itu menjadi “alarm” alami bahwa ekosistem di sekitarnya sedang tidak sehat atau mulai rusak. Sesajen pun memaksa kita untuk sadar akan kondisi lingkungan.

  • Simbol Tanggung Jawab: Dalam filosofi tradisional, sesajen sering dimaknai sebagai “sedekah” untuk makhluk hidup lain burung, serangga, atau hewan liar yang habitatnya mungkin terganggu oleh aktivitas manusia. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa kita tidak hidup sendirian di bumi ini.

  • Wujud Syukur yang Nyata: Lebih dari sekadar ritual, ini adalah medium rasa terima kasih manusia atas hasil bumi yang telah Tuhan berikan. Ia mengajarkan kerendahan hati bahwa manusia bukanlah penguasa alam, melainkan bagian dari alam itu sendiri.

Kembali ke Akar, Kembali ke Budaya

Hampir setiap daerah dan provinsi di Indonesia memiliki ritual uniknya masing-masing. Sangat disayangkan jika kekayaan budaya yang begitu filosofis ini dikesampingkan hanya karena label “mistis” atau “musyrik” yang disematkan secara sempit.

Baca juga :  Menjaga Warisan Leluhur: Mengapa HAKI Penting untuk Pengetahuan Tradisional

Kita seringkali terlalu sibuk menghakimi perbedaan cara orang lain dalam beribadah atau menghormati alam, hingga lupa pada esensi utamanya. Padahal, saat ini dunia sedang menghadapi krisis lingkungan yang nyata. Kita butuh cara pandang yang menghargai alam lebih dari sekadar komoditas ekonomi.

Sudah saatnya kita melihat sesajen dari sudut pandang yang lebih arif. Ini bukan tentang memuja benda, melainkan tentang menjaga hubungan. Di tengah dunia yang makin egois dan merusak, tradisi sesajen adalah pengingat yang lembut namun kuat: bahwa kita berhutang budi pada alam, dan sudah seharusnya kita merawatnya sebagai bentuk terima kasih yang abadi.

Mari kembali ke akar, kembali ke budaya yang menjaga alam, dan kembali belajar berterima kasih pada semesta. Karena pada akhirnya, menjaga alam adalah cara terbaik kita menjaga kelangsungan hidup anak cucu di masa depan.

Oleh: Esteria Tamba
(Mahasiswa, Penulis)

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments