Energi Juang News,Jakarta- Pada tahun 2018 Kepala BMKG pernah diperiksa dan dipanggil oleh pihak kepolisian karena membahas potensi gempa megathrust yang dianggap meresahkan masyarakat saat itu.
Hal ini terjadi karena BMKG saat membahas potensi ancaman gempa megathrust dalam sebuah diskusi internal yang kemudian bocor ke media. Informasi tersebut sempat membuat publik panik. Apa karena sebagian masyarakat menganggap lebih baik mendengar omon omon pejabat yang menghibur daripada membahas hal meresahkan.
Anehnya Lha kok malah Pihak kepolisian manggil serta memeriksa jajaran BMKG karena dikhawatirkan berita tersebut memicu keresahan massal di tengah masyarakat? Padahal, penjelasan itu bertujuan untuk mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, bukan sebagai peringatan dini bahwa bencana akan terjadi dalam waktu dekat.
Di sinilah letak ironi ceritanya. Lembaga yang tugasnya mengingatkan masyarakat tentang potensi bahaya, tapi polisi justru menganggap pembahasan itu berpotensi menimbulkan keresahan dimasyarakat.
Seolah-olah masalahnya bukan pada bencananya, melainkan pada orang yang mengatakan, “Hati-hati, ada kemungkinan bencana.” Padahal mitigasi memang bekerja dengan cara yang kurang dramatis: memberi tahu sesuatu yang belum terjadi seperti mbah dukun atau juru kunci Mbah Marijan.
Kita berharap hal ini tidak terjadi pada mitigasi bencana sebaran abu vulkanik gunung Anak Krakatau yang baru baru ini melanda di 5 wilayah disekitar gunung berapi yang dikenal super duper aktif tersebut. Gunung yang terletak di selat Sunda ini sangat mudah terserang batuk pilek, batuknya abu dan pileknya lahar panas.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tidak menunggu abu vulkanik berubah menjadi masalah besar terlebih dahulu. Pada Minggu, 6 September, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengerahkan sekitar 30–40 kendaraan untuk melakukan water mist di sejumlah ruas utama, termasuk kawasan Monas, Thamrin-Sudirman dan sejumlah koridor di lima wilayah Jakarta.
Begitu pula menghimbau masyarakat yang beraktifitas diluar rumah untuk menggunakan masker.
Sekolah-sekolah juga disiapkan menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ) mulai 7 September sebagai langkah antisipasi terhadap bahaya abu vulkanik.
Gercep ini dilakukan supaya bisa menjaga masyarakat ibukota terhindar dari dampak menurunnya kualitas udara akibat abu vulkanik gunung anak Krakatau.
Sementara ada sebagian pihak menilai kita harus mengapresiasi keheningan yang hakiki. Kalau sampe dilakukan PJJ bagi siswa di Jakarta ompreng MBG nggak jadi dibagi, atau cari cara omprengnya dikirim via online delivery?
Redaksi Energi Juang News




