Energi Juang News, Jakarta- Wafatnya Pakar Politik sekaligus Akademisi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman, membangkitkan memori kawan lama almarhum pada jalinan persahabatan mereka. Kawan lama itu adalah Cendekiawan sekaligus pakar pemikiran Islam dan kebangsaan, Dr. Yudi Latif, M.A., Ph.D,
Di akun Facebooknya, Yudi mengaku mulai mengenal Airlangga atau yang akrab disapa Angga di penghujung dekade 1990-an. Saat itu Yudi adalah aktivis senior Majelis Sinergi Kalam (Masika) Pusat, sementara Angga aktivis muda Masika Surabaya.
“Ketika saya melakukan riset untuk program S2-leading S3 di Australian National University (ANU), saya banyak menerima undangan menjadi pembicara dari berbagai daerah. Namun undangan dari Masika Surabaya selalu datang dengan semangat yang khas. Di sanalah saya bertemu dengan para pentolannya—Angga, Iman, Dimas, Rusdi, Adi, dan yang lainnya—yang hingga kini masih menjalin relasi hangat dengan saya,” paparnya, Kamis (10/9/2026).
Yudi melanjutkan, sejak perjumpaan pertama, Angga segera menampakkan dirinya sebagai anak muda yang tidak mudah selesai dengan jawaban. Ia paling rajin melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis dan mengajak berdiskusi tentang buku-buku terbaru yang dibacanya.
“Belakangan saya tahu, ia termasuk aktivis Surabaya yang paling bersemangat memburu dan mengoleksi buku,” ujarnya.
Yudi mengungkapkan, Angga pernah ditempa dalam pergerakan mahasiswa Islam, tetapi minat keislamannya tidak berhenti pada simbol. Ia lebih tertarik pada dimensi struktural: kekuasaan, ketimpangan, dan pembebasan.
“Islam Semangka, istilah yang rasanya pas untuknya: hijau di luar, merah di dalam,” ungkap Yudi.
Selepas studi di ANU pada 2004, Yudi pun membawa pulang tumpukan buku ke Tanah Air. Saat itu, Yudi mengaku masih sangat miskin, hingga tak punya tempat untuk menampung buku-buku itu.
“Angga pun datang dan menyediakan rumah orang tuanya sebagai tempat bernaung buku-buku saya. Buku-buku itu menemukan rumah. Dan tanpa kami sadari, persahabatan kami makin memperluas pendar aura gugusan buku,” ungkapnya.
Ketika Yudi menjadi dosen tamu di Program Pascasarjana FISIP UI, Angga mendaftar di sana. Suatu hari Angga datang ke rumah Yudi untuk memintanya menjadi pembimbing tesisnya tentang politik wacana. Angga pun menjadi satu-satunya mahasiswa pascasarjana UI yang pernah dibimbing Yudi.
Selepas S2, Angga melanjutkan doktoralnya di Murdoch University, Australia. Disertasinya kemudian diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2019: The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era.
“Dalam kajian tentang intelektual dan sosiologi pengetahuan, Angga melanjutkan percakapan yang pernah saya mulai tentang genealogi inteligensia Indonesia, dengan medan yang lebih khusus: Jawa Timur. Dengan pengaruh mazhab Murdoch, ia membacanya melalui lensa struktural—melihat intelektual bukan sebagai pikiran yang mengambang, tetapi sebagai bagian dari pusaran kekuasaan dan masyarakat,” papar Yudi.
Boleh dibilang, sambung Yudi, disertasi Angga merupakan hasil perjumpaan dari dua arus, dua gugus pendekatan dan peralatan kajian.
“Selepas Murdoch, Angga masih sempat saya ajak bergabung sebagai tim pakar UKP-PIP, yang kemudian berkembang menjadi BPIP,” lanjutnya.
Setelah Yudi meninggalkan BPIP, Angga melanjutkan petualangan intelektualnya sendiri. Ia terus membaca dan menulis. Suatu ketika ia datang meminta Yudi menjadi pembahas peluncuran bukunya, Merahnya Ajaran Bung Karno: Narasi Pembebasan ala Indonesia (2022). Namun, kesibukan membuat Yudi tak bisa memenuhi permintaannya.
“Dari kejauhan saya melihatnya semakin tekun menggeluti tema antikemapanan, demokrasi ekonomi, dan nasionalisme emansipatoris. Seolah seluruh perjalanan intelektualnya menemukan satu benang merah: mencari jalan agar gagasan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi menjadi energi pembebasan,” papar Yudi.
Bagi Yudi, meski Angga wafat dalam usia relatif muda, namun ia meninggalkan warisan pemikiran yang relatif matang. Gagasannya pun telah ditempa oleh buku, pergulatan akademik, dan kegelisahan sosial.
“Gagasan yang telah siap diwariskan kepada kaum muda, kepada generasi pelanjut,” ujarnya.
“Tubuhnya pergi. Tetapi pertanyaannya masih berjalan. Buku-bukunya masih menunggu pembaca. Pikirannya masih mengetuk pintu zaman. Sekali lagi, bangsa ini kehilangan elan vital, seorang pemikir yang gigih dan tak mudah berdamai dengan kemapanan,” sambung Yudi.
Redaksi Energi Juang News




