Senin, September 14, 2026
spot_img
BerandaPolitikPolitik MenggelitikMBG, Ideologi, dan Ompreng 0 Kilometer

MBG, Ideologi, dan Ompreng 0 Kilometer

Energi Juang News,Jakarta- Pernyataan Kepala BGN Sudaryono bahwa stigma terhadap MBG dipengaruhi faktor ideologis-politik dan persoalan internal BGN tentu menarik untuk direnungkan. Bukan curhat atau membela diri ya.

Tetapi ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin bikin orang meja rapat itu mendadak hening: anak sekolah yang keracunan itu sebenarnya apa sedang berbeda ideologi dengan menu makan siangnya?

Anak-anak mungkin belum paham politik, apalagi ideologi. Yang mereka pahami cuma kalau perut mulas segera lapor guru, berobat ke UKS dan pulang cepat, horee.

Sementara dunia pengamat mendadak terasa seperti sedang melakukan debat kusir saling mencari kesalahan orang lain.

Orang tua panik, guru ikut pusing, wartawan ramai, media sosial meledak. Akhirnya MBG bukan lagi singkatan Makan Bergizi Gratis, tetapi bisa-bisa ditafsirkan netizen MBG sebagai Makan, Bingung, Geger.

Mas Dar juga menegaskan pentingnya disiplin dan penertiban, meskipun ada pihak yang tidak suka ketika ditertibkan. Prinsip itu tentu bagus. Namun dalam urusan makanan untuk anak-anak, disiplin jangan berhenti pada siapa yang harus ditertibkan setelah masalah terjadi.

Namanya Kepala BGN sebagai seorang birokrat, harus bisa membedakan antara, pemadam api membawa selang, sementara  penyelesaian birokrasi dibawa ke rapat, evaluasi, surat edaran, dan konferensi pers.

Karena itu, mungkin sudah waktunya MBG mencoba sesuatu yang benar-benar out of the box yaitu membuat proyek percontohan dapur MBG yang berada di area sekolah.

Guru dan orang tua murid bisa melihat langsung bagaimana bahan diterima, dimasak, diuji, dikemas hingga dibagikan.

Kalau distribusi ompreng bisa dibuat 0 kilometer, potensi masalah selama perjalanan juga bisa dipangkas.

Ibaratnya makanan tidak perlu terlalu lama ikut touring keliling kota sebelum sampai ke perut anak sekolah. Jangan sampai makanan MBG ikut basi.

Baca juga :  Gerrr!! Penciuman Anak Sebagai Standar Makanan MBG!

Kalau model seperti ini berhasil, tinggal dievaluasi dan dibandingkan dengan sistem lama. Sebab menyelesaikan persoalan secara permanen tentu lebih baik daripada terus-menerus memadamkan api di sana-sini.

Kritik terhadap MBG pun tidak otomatis harus dianggap sebagai serangan politik; bisa saja itu alarm agar sistem diperbaiki.

Sebab kalau urusan keamanan pangan kalah cepat dari urusan membela kebijakan, yang kenyang mungkin cuma pengkritik sementara perut murid malah kekurangan gizi.

Redaksi Energi Juang News

Artikel sebelumnya
Kb
Kbhttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Hukum Jenaka, Politik Menggelitik dan Kriminal. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments