Energi Juang News, Jakarta- Negara terjebak drama rebutan takhta para elit, sementara rakyat jadi korban eksploitasi pajak yang ugal-ugalan.
Geng Solo dan Hambalang lagi asyik baku hantam di arena utama, sementara Cikeas dan Cendana santai duduk di tribun VIP sambil ngunyah kuaci.
Di pojokan lain,Teuku Umar sibuk mantau layar CCTV sambil komat-kamit. Rakyat yang nonton cuma bisa garuk-garuk kepala sambil mikir, “Ini babak baru Game of Thrones atau gimana, ya?”
Bedanya, di film aslinya rebutan takhta pakai naga, kalau di sini rebutannya pakai baliho, kursi menteri, dan manuver politik tingkat dewa.
Lucunya, di tengah drama kolosal para elit, ada saja oknum pajak yang hobi meremehkan kontribusi masyarakat.
Padahal kalau melihat realita, dompet rakyat diperas tanpa henti dari pagi ketemu pagi.
Bayangkan saja, urusan kebutuhan biologis bulanan perempuan seperti pembalut saja masih kena sikat PPN 11 persen, belum lagi heboh rencana penataan sistem pajak digital yang sempat bikin netizen panik saldo e-wallet-nya ikutan digerogoti.
Tapi bagi rakyat yang paham matematika kehidupan, tata kelola yang mentok memang obatnya cuma satu: kalau bukan pajak, ya pajak lagi.
Pemerintah hobi banget menaikkan target, sampai rasanya pendapatan negara ini 100% modal patungan dari keringat warga.
Ironisnya, saat rakyat dipaksa patuh, KPK justru menciduk oknum pegawai di KPP Madya Jakarta Utara yang diduga menerima suap miliaran rupiah demi memangkas kewajiban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) perusahaan besar.
Jadi skenarionya jelas: rakyat kecil ditagih sampai recehan terkecil, sementara oknum di dalam malah asyik main “diskon” pajak dengan korporasi raksasa.
Ajaibnya, biar kata ngedumel dan ngamuk-ngamuk di media sosial sampai jarinya keriting, rakyat Indonesia itu aslinya bucin (budak cinta) sama tanah air.
Mau dipalak kayak gimana pun, tetap saja bayar tepat waktu demi cinta pada republik.
Ditambah Kepolisian yang sedang bersih-bersih internal soal penyadapan RI-1, rakyat cuma mau nantang melongo sambil ngiler.
Jangan sampai rakyat balik nanya bisa tidak pemerintah kelola uang patungan ini dengan benar, transparan, dan amanah, tanpa perlu pakai bonus sikap arogan seolah-olah kalian tidak digaji dari keringat kami?
Sudah saatnya para elit turun dari menara gading mereka dan berhenti memperlakukan negara seolah-olah ini adalah papan catur perebutan kekuasaan pribadi, dan mulai memperlakukan mandat rakyat dengan rasa hormat yang semestinya.
Redaksi Energi Juang News




