Energi Juang News, Jakarta- Menteri Transmigrasi, Iftitah Sulaiman Suryanagara, mengungkapkan rencananya untuk menugaskan mahasiswa penerima beasiswa pemerintah, baik dari dalam maupun luar negeri, agar berkontribusi langsung di kawasan transmigrasi sebagai bagian dari pengabdian mereka.
Hal tersebut disampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, pada Rabu (12/2).
“Saat ini, beasiswa-beasiswa pemerintah, baik yang diberikan di dalam negeri maupun luar negeri, sering kali tidak memiliki saluran hilirisasi yang tepat.
Masyarakat sipil yang menerima beasiswa, baik dalam maupun luar negeri, diharapkan bisa melaksanakan kewajiban 2N+1, namun kenyataannya hal itu belum berjalan maksimal,” ujar Iftitah.
Iftitah menyampaikan Kementerian Transmigrasi berencana menjalin kolaborasi dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk memastikan bahwa penerima beasiswa pemerintah dapat berkontribusi langsung di kawasan transmigrasi.
“Kami beberapa kali sudah berbicara dengan Direktur LPDP dan menyampaikan ke beliau agar beasiswa LPDP ini nantinya akan berkolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi,” jelasnya.
Rencananya, para penerima beasiswa ini akan menjalani pelatihan dan penempatan di kawasan transmigrasi dengan skema ikatan dinas.
Skema baru ini, yang disebutnya sebagai Transmigrasi Patriot, merupakan program unggulan yang tidak hanya menawarkan beasiswa pendidikan di universitas terbaik, tetapi juga pelatihan sebagai komponen cadangan atau tentara cadangan.
Para penerima beasiswa ini akan ditempatkan di kawasan ekonomi transmigrasi terintegrasi selama periode tertentu.
“Program ini bertujuan untuk mendukung swasembada nasional, mendorong pembangunan ekonomi, dan menjaga persatuan Indonesia. Kami menekankan prinsip quality over quantity, karena meskipun kami sudah menempatkan lebih dari 2,2 juta kepala keluarga di kawasan transmigrasi, hasilnya belum optimal. Kami perlu fokus pada kualitas distribusi penduduk,” terangnya.
“Filosofi kami adalah mendekatkan kampus dengan laboratorium lapangannya. Seperti halnya fakultas kedokteran yang selalu ada rumah sakit, nantinya fakultas pertanian, misalnya, akan melakukan perkuliahannya di kawasan transmigrasi sehingga teori yang dipelajari bisa langsung diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Redaksi Energi Juang News



