Energi Juang News, Jakarta- Tokoh Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) KH. Ir Nukman Basori MBA (Gus Nukman) menyatakan, hadis-hadis yang menjelaskan tentang keutamaan 10 hari pertama, kedua atau ketiga bulan Ramadan adalah hadis-hadis yang meragukan atau dhaif.
Karena itu, sebaiknya hadis-hadis itu tidak dipakai.
Ulama yang akrab disapa Gus Nukman itu menyatakan, hadis memiliki beberapa tingkatan. Ada hadis yang hasan dan shahih, namun ada juga hadis yang dhaif.
Hal itu dijelaskan Gus Nukman dalam program Energi Iman bertajuk ‘Keutamaan 10 Hari Terakhir’ di kanal YouTube Energi Juang News, baru-baru ini.
“Soal hadis yang dhaif itu, awalnya terkait dengan Salman al-Farisi yang kemudian dilanjutkan oleh perawi-perawi berikutnya. Nah ada beberapa orang yang diragukan, baik kejujurannya, keilmuannya, zamannya, sehingga para ahli hadis menyatakan hadis-hadis itu palsu,”papar Gus Nukman.
Gus Nukman melanjutkan, sebaiknya bila kita ingin mengajarkan suatu kebaikan, hendaknya berlandaskan pada sumber yang valid.
Soal hadis, Gus Nukman menyatakan seharusnya ketika kita mengajarkan kebaikan, berlandaskan pada hadis-hadis mutawatir atau muttafaq ‘alaih yang ada landasan hukumnya.
“Dan para perawinya adalah orang-orang amanah yang tak diragukan lagi, misalnya Bukhari Muslim,” ujar Gus Nukman.
Tokoh ulama NU itu pun menegaskan, rahmat Allah turun di bulan Ramadan dari hari pertama sampai terakhir.
Sehingga, menurut Gus Nukman, rahmat Allah itu tak turun secara terpisah-pisah di 10 hari pertama, kedua, ataupun ketiga pada Ramadan.
“Jadi sebaiknya kita menjalankan ibadah Ramadan dengan sebaik-baiknya mulai hari pertama sampai terakhir di Ramadan, baik ketika Ramadan itu sebanyak 30 hari maupun 29 hari,” tambah Gus Nukman.
Redaksi Energi Juang News



