Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaInternasionalPemimpin Sayap Militer Islamis Suriah Ditangkap di UEA, Mengapa?

Pemimpin Sayap Militer Islamis Suriah Ditangkap di UEA, Mengapa?

Energi Juang News, Jakarta- Pemimpin kelompok sayap militer pemerintah transisi Suriah, Jaish Al Islam, Issam Buwaydani, telah ditangkap di bandara Dubai, Uni Emirat Arab(UEA), beberapa hari lalu.

Sejak 2015, Issam Buwaydani memimpin Jaish Al Islam, kelompok yang pernah berperang melawan penguasa Suriah saat itu, Bashar Al Assad. Kelompok ini juga sempat menguasai wilayah Ghouta Timur di dekat Damaskus.

Setelah Assad digulingkan pada Desember lalu dan kelompok-kelompok bersenjata pro-Assad dibubarkan, Jaish al-Islam dilebur ke dalam angkatan bersenjata baru Suriah, dan Buwaydani ditunjuk menjadi pejabat di kementerian pertahanan.

Dua sumber yang dekat dengan Buwaydani mengungkapkan kepada AFP bahwa ia ditangkap pada Kamis lalu di bandara Dubai saat hendak meninggalkan UEA.

Kedua sumber itu menyebut Buwaydani atau kerap dikenal dengan Abu Hammam masuk ke UEA menggunakan paspor Turki dan berada di UEA dalam rangka “kunjungan pribadi.

“Kami tidak tahu alasan penangkapannya,” kata salah satu sumber.

Sejauh ini, pemerintah Suriah telah menghubungi pihak Emirat, tetapi belum mendapat jawaban,” tambah sumber tersebut.

Sementara itu, juru bicara militer utama Jaish Al Islam, Hamza Bayraqdar, melalui aplikasi Telegram menyerukan “pembebasan segera dan tanpa syarat” Buwaydani. Bayraqdar menyebut Buwaydani sebagai “salah satu simbol revolusi Suriah.”

Pihak UEA sendiri belum mengonfirmasi penangkapan Buwaydani.

Penangkapan Buwaydani ini terjadi setelah pada awal bulan ini, UEA menyambut kunjungan Presiden sementara Suriah, Ahmed Al Sharaa.

Sharaa berasal dari kelompok Islamis Hayat Tahrir Al Sham (HTS) yang memimpin koalisi penggulingan Assad pada 8 Desember lalu.

Aktivis juga menyerukan aksi demonstrasi di Damaskus pada Senin malam untuk menuntut pembebasan Buwaydani.

Buwaydani mengambil alih kepemimpinan Jaish Al Islam setelah pendirinya, Zahran Alloush, tewas pada 2015.

Para aktivis pernah menuduh Jaish Al Islam bertanggung jawab atas penculikan empat aktivis hak asasi manusia, termasuk pengacara dan jurnalis Suriah, Razan Zeitouneh, pada Desember 2013.

Baca juga :  PKK Resmi Membubarkan Diri: Akhiri Perjuangan Bersenjata Setelah Empat Dekade

Namun, kelompok tersebut membantah tuduhan itu. Sejak kejatuhan Assad, Buwaydani beberapa kali terlihat tampil bersama Sharaa.

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments