Sabtu, April 18, 2026
spot_img
BerandaBudayaTradisi Somanan Bawean, Syukuran Panen dengan Beras Bambu

Tradisi Somanan Bawean, Syukuran Panen dengan Beras Bambu

Energi Juang News, Jakarta – Tradisi somanan Bawean menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur masyarakat Desa Sungairujing, Kecamatan Sangkapura, Gresik. Usai panen padi, warga berkumpul untuk memasak beras atau ketan dalam bambu, meneruskan kebiasaan turun-temurun yang disebut soman-somanan.

Momen syukuran panen di Desa Sungairujing, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, ditandai dengan digelarnya tradisi somanan yang khas. Puluhan warga setempat memasak beras atau ketan dalam potongan bambu, menghidupkan kembali semangat kebersamaan yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, masing-masing keluarga membawa bahan pokok seperti beras atau ketan dari rumah. Proses memasaknya masih mempertahankan cara tradisional, yakni dengan membakar bambu menggunakan kayu api, menciptakan aroma dan cita rasa khas yang tidak bisa ditemui dalam masakan modern.

“Tradisi ini sudah ada sejak lama, untuk merayakan hasil panen sekaligus mempererat hubungan antarwarga,” kata Iqbal, pemuda desa setempat, Selasa (13/5).

Iqbal menjelaskan bahwa kegiatan soman-somanan ini biasanya dilakukan oleh banyak keluarga sekaligus. Mereka akan mengundang kerabat dan tetangga terdekat untuk berkumpul dan menikmati hasil olahan nasi bambu bersama. Meski saat ini tak semua warga lagi melaksanakannya karena kesibukan dan pengaruh gaya hidup modern, semangat kebersamaan masih terasa kuat.

“Yang penting adalah makna kebersamaan dan rasa syukurnya. Meskipun hanya bersama keluarga, tetap membawa suasana hangat,” tambahnya.

Menu khas dalam tradisi ini biasanya dilengkapi dengan ikan bakar sebagai lauk utama. Tradisi ini bukan sekadar syukuran, tapi juga menjadi penanda penting dalam budaya Bawean yang patut dilestarikan.

Masyarakat berharap nilai-nilai luhur dari tradisi ini terus diwariskan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan zaman atau tergantikan oleh budaya instan.

Baca juga :  Kabar Duka, Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang Meninggal Dunia

“Kami ingin anak cucu kami tetap mengenal tradisi ini, bukan hanya sebagai cerita, tapi juga sebagai praktik hidup yang mengakar di desa kami,” tutup Iqbal.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments