Senin, Juli 6, 2026
spot_img
BerandaGoresan PenaImpor Benang Filamen ‘Bunuh’ Industri, Akibat Diabaikannya Trisakti

Impor Benang Filamen ‘Bunuh’ Industri, Akibat Diabaikannya Trisakti

Oleh Hiski Darmayana

(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Indonesia sedang dibanjiri produk impor dari China. Hal itu terkonfirmasi dari laporan Citigroup Inc yang berbasiskan data China General Administration of Customs (GACC).

Pada Mei 2025, nilai impor dari China ke Indonesia mencapai US$ 6,8 miliar, meningkat 21,43% dari bulan sama pada tahun sebelumnya. Dan peningkatan impor ke Indonesia ini adalah yang terbesar dari seluruh negara-negara ASEAN.

Komoditas dari China yang membanjiri negeri ini, salah satunya adalah benang filamen. Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) mencatat impor komoditas benang filamen dari China ke Indonesia terus meningkat tiap tahunnya.

Pada tahun 2024, impor Drawn Textured Yarn (DTY) mencapai 129.408 ton, meningkat dibanding tahun 2023 yang sebesar 91.826 ton. Sedangkan impor Partially Oriented Yarn (POY) pada tahun 2024 mencapai 139.240 ton, naik dibanding 2023 yang 80.540 ton.

Lalu impor Spin Drawn Yarn (SDY) juga naik menjadi 42.645 pada tahun 2024, yang sebelumnya 36.245 ton pada 2023.

APSyFI mencatat 90 persen impor benang filamen itu berasal dari China.

Impor gila-gilaan ini ternyata berdampak buruk bagi industri benang filamen nasional. APSyFI mencatat, tingkat penggunaan atau utilisasi produksi industri benang filamen dalam negeri hanya 45%.

Benang filamen impor terbukti telah ‘memakan’ pasar benang pintal dalam negeri. Akibatnya, bukan hanya industri pemintalan nasional yang terpukul. Industri polimer, sebagai bahan baku industri permintalan juga ikut kena getahnya.

APSyFI mencatat beberapa perusahaan besar seperti Polichem, Polifyn, dan APF telah menutup lini produksi polimer mereka sebagai akibat dari anjloknya permintaan dari industri permintalan. Saat ini tercatat hanya ada empat perusahaan yang masih memproduksi polimer untuk kebutuhan dalam negeri.

Baca juga :  'Hari Mualaf Sedunia': Upaya Merusak Keukunan Umat Beragama

Situasi ini menunjukkan bahwa konsep Berdikari dalam ekonomi, yang merupakan salah satu unsur dari Trisakti ajaran Bung Karno telah diabaikan oleh para petinggi negeri. Ketika perekonomian Indonesia terus bergantung pada impor tanpa perlindungan terhadap industri lokal, hal itu sama saja dengan ‘membunuh’ industri nasional.

Maka, diabaikannya Trisakti berpotensi memicu de-industrialisasi di negeri ini. Perekonomian nasional pun kian terjajah oleh barang-barang impor.

Pemerintah seharusnya mengambil langkah gesit untuk mencegah terbunuhnya industri permintalan nasional oleh impor benang filamen. Untuk diketahui, produk-produk China itu bisa merajai pasar nasional karena harganya lebih murah.

Mengapa murah?

Sebab, produk-produk China yang diimpor ke Indonesia itu banyak yang merupakan barang dumping. Yang dimaksud barang dumping adalah harga barang yang dijual di Indonesia lebih murah dibandingkan harga jual di negara asalnya.

Karena itu sudah seharusnya pemerintah menangkal barang-barang dumping itu dengan kebijakan anti dumping. Dumping yang dilakukan China adalah praktik usaha tidak sehat yang bisa mematikan para pelaku industri nasional.

Pemerintah bisa mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD), dengan persentase yang terukur. Hendaknya, besaran persentase ini dirumuskan bersama-sama dengan para pelaku industri benang nasional.

Hanya dengan itu, pemerintah bisa menghapus ‘dosa’ pengabaian terhadap Trisakti yang terlanjur dilakukan.

Redaksi Energi Juang News

Hizkia Darmayana
Hizkia Darmayanahttps://energijuangnews.com/
Hidup Hanya Sekali, Maka Buatlah Berarti. Pimpinan Redaksi dari EnergiJuangNews.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments