Sabtu, Maret 14, 2026
spot_img
BerandaGoresan Pena'Hari Mualaf Sedunia': Upaya Merusak Keukunan Umat Beragama

‘Hari Mualaf Sedunia’: Upaya Merusak Keukunan Umat Beragama

Oleh Hizkia Darmayana
(Pemimpin Redaksi Energi Juang News)

Menjelang hari Natal 2025, ada oknum-oknum yang mau merusak kerukunan antar umat beragama. Upaya perusakan itu dilakukan melalui dicetuskannya Hari Mualaf Sedunia pada tanggal 25 Desember, bersamaan dengan hari Natal.

Beberapa tokoh publik ikut mengucapkan hal tersebut lewat video. Tokoh-tokoh itu diantaranya Refly Harun dan Ustaz Fadlan Garamatan.

Mualaf, memiliki definisi orang yang baru mengganti agamanya, dari non-Islam menjadi Islam. Tentu berpindah agama adalah hak asasi tiap individu.

Persoalannya, ketika perpindahan agama itu dirayakan secara massal di ruang publik pada masyarakat plural ini. Apalagi perayaan itu dilakukan pada hari raya agama tertentu, dalam hal ini hari raya Kristiani, Natal.

Hal itu tentu sangat berpotensi memunculkan gesekan sosial.

Dalam kajian antropologi agama, Anthony F. C. Wallace dan Peter Berger menyatakan bahwa agama tak hanya soal spiritualitas, tetapi juga sistem simbolik yang mengatur hubungan sosial dan legitimasi sosial.

Perayaan Hari Mualaf Sedunia berpotensi dipandang sebagai bentuk penekanan pada keberhasilan proliferasi suatu agama dalam masyarakat plural, sehingga hal itu bisa terlihat sebagai bahasa dominasi simbolik (symbolic domination).

Perayaan itu dapat memperkuat narasi bahwa konversi ke agama tertentu adalah “lebih baik” atau “diharapkan”. Walhasil, resistensi dari kelompok agama lain yang merasa terpinggirkan pun akan muncul.

Dalam konteks masyarakat yang heterogen, hal ini dapat semakin menguatkan perasaan “kami vs mereka”, yang justru berlawanan dengan prinsip dialog lintas agama. Sehingga, kerukunan antar umat beragama pun bisa rusak.

Padahal, untuk merawat kerukunan, yang perlu dikembangkan adalah dialog lintas agama berbasiskan pengakuan terhadap pluralitas yang setara. Dengan demikian, perayaan yang lebih inklusif bisa difokuskan pada tema-tema bersama seperti toleransi, perdamaian dan saling menghormati

Tanpa pendekatan inklusif dan sensitif terhadap keragaman, ekspresi keagamaan yang terlalu afirmatif terhadap perubahan keyakinan bisa memicu perasaan terancam di kalangan kelompok lain.

Dan, lagi-lagi, kerukunan antar umat beragama menjadi taruhannya.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments