Minggu, Mei 31, 2026
spot_img
BerandaDaerahDaerah Khusus JakartaJakarta Dingin Saat Kemarau? Ini Penjelasan BMKG Tentang Bediding dan Monsun Australia

Jakarta Dingin Saat Kemarau? Ini Penjelasan BMKG Tentang Bediding dan Monsun Australia

Energi Juang News, Jakarta– Dalam beberapa hari terakhir, warga Jakarta dan sekitarnya merasakan cuaca yang lebih dingin dari biasanya. Suhu udara pada pagi dan malam hari tercatat berada di kisaran 25 hingga 27 derajat Celsius. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan, mengapa suhu di ibu kota terasa lebih dingin, terutama saat musim kemarau?

Menurut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca dingin Jakarta disebabkan oleh sejumlah faktor klimatologis. Angin Monsun Australia bertiup dari selatan menuju Asia, melintasi Indonesia dan Samudera Hindia yang bersuhu rendah. Fenomena ini menjadi salah satu pemicu utama.

“Angin dari Australia ini cenderung kering dan minim uap air. Akibatnya, suhu udara pada malam hari bisa mencapai titik minimumnya,” ujar Guswanto, Deputi Meteorologi BMKG, Senin (30/6).

Selain angin monsun, terbentuknya badai tropis di wilayah utara Indonesia juga memperkuat aliran udara dari Australia. Kombinasi ini menyebabkan wilayah Jawa Barat, termasuk Jakarta, mengalami peningkatan kelembapan dan penurunan suhu secara signifikan.

Fenomena Bediding: Penyebab Umum Udara Dingin Musim Kemarau
BMKG menyebut bahwa kondisi ini bukanlah hal yang aneh. Fenomena cuaca dingin saat kemarau dikenal dengan sebutan bediding, sebuah istilah lokal yang merujuk pada rasa dingin yang muncul di pagi dan malam hari saat musim kemarau berlangsung.

Bediding terjadi karena langit cenderung cerah tanpa banyak awan, sehingga panas dari permukaan bumi lebih cepat dilepaskan ke atmosfer. Minimnya curah hujan juga menyebabkan kelembapan udara rendah, membuat malam dan pagi hari terasa lebih dingin.

“Pada musim kemarau, radiasi balik dari permukaan bumi langsung ke atmosfer luar menyebabkan suhu udara dekat tanah terasa sangat dingin,” tulis BMKG dalam situs resminya.

Baca juga :  Kebakaran Grogol Jakbar Tewaskan 5 Orang

Jakarta Terasa Dingin, Siang Tetap Terik.
Meski pagi dan malam hari terasa dingin, pada siang hari Jakarta tetap disinari matahari secara intens karena minimnya awan. Hal ini membuat suhu kembali meningkat pada siang hari, meskipun tak setinggi bulan-bulan sebelumnya.

BMKG mencatat bahwa efek bediding ini sangat terasa selama bulan Juli karena pada periode tersebut merupakan puncak musim dingin di Benua Australia. Udara dingin dari sana terbawa oleh angin timuran yang menyebar hingga wilayah selatan Indonesia seperti Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Udara dingin dari Australia menyusup ke selatan Indonesia, meskipun siang hari tampak cerah, suhu udara tetap lebih rendah,” jelas BMKG.

Sampai Kapan Cuaca Dingin Ini Berlangsung?
BMKG memperkirakan suhu dingin Jakarta dan sekitarnya akan terus terasa hingga akhir Juli. Selama periode ini, masyarakat akan merasakan udara sejuk terutama pada malam dan pagi hari.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments