Energi Juang News, Jakarta – Ratusan warga Desa Banyutengah, Kecamatan Panceng, Gresik, melakukan aksi protes ke kantor pemerintah desa pada Senin (30/6). Aksi tersebut dipicu oleh dugaan kesulitan warga dalam mengakses mobil siaga desa, yang disebut-sebut menjadi penyebab keterlambatan penanganan seorang pasien demam berdarah.
Kerumunan warga mendatangi kantor desa untuk meminta klarifikasi. Ketegangan pun meningkat saat audiensi dengan kepala desa berlangsung panas. Beberapa warga bahkan melempar kursi, dan insiden ini terekam video hingga viral di media sosial.
Kronologi bermula pada Minggu dini hari (29/6), ketika seorang warga kritis akibat DBD membutuhkan transportasi cepat ke fasilitas kesehatan. Keluarga korban mengaku kesulitan mendapatkan akses ke mobil siaga desa. Upaya menghubungi perangkat desa pun gagal mendapatkan jawaban pasti, dan tidak jelas siapa yang memegang kunci kendaraan.
Karena tidak ada pilihan lain, warga akhirnya membawa pasien menggunakan kendaraan alternatif, yakni tosa milik warga. Sayangnya, sesampainya di RSUD Ibnu Sina Gresik, korban dinyatakan meninggal dunia setelah sebelumnya dirujuk dari Puskesmas setempat.
Kapolsek Panceng, Iptu Nasuka, mengonfirmasi adanya aksi massa dan menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi karena adanya kesalahpahaman. “Warga ingin mendapat penjelasan dari pihak desa soal mobil siaga yang sulit diakses,” jelasnya.
Aksi tersebut menjadi pengingat pentingnya manajemen mobil siaga desa yang responsif dan jelas. Warga berharap ada sistem yang lebih transparan serta akses yang mudah ketika mobil tersebut sangat dibutuhkan dalam situasi darurat.
Redaksi Energi Juang News



