Energi Juang News, Jakarta– Rencana pengembangan transportasi publik di Jakarta terus mengalami kemajuan signifikan. PT MRT Jakarta (Perseroda) mengumumkan bahwa proyek MRT jalur Timur-Barat (East-West Line) yang menghubungkan Medan Satria hingga Tomang akan memasuki tahap pembangunan fisik mulai tahun 2026. Jalur ini akan membentang sepanjang 24,5 kilometer, terdiri dari 21 stasiun dan satu depo utama yang berlokasi di kawasan Rorotan.
Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Weni Maulina, menyampaikan bahwa saat ini persiapan tengah dilakukan secara intensif. Salah satu langkah awal yang telah ditempuh adalah penandatanganan kontrak dengan konsultan yang akan mendampingi pelaksanaan proses tender.
“Kami sudah meneken kontrak dengan konsultan untuk mendukung proses tender. Insya Allah pada kuartal keempat tahun ini, sekitar Oktober atau November, tender internasional akan diumumkan,” ungkap Weni dalam acara Transport Hub di Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Tender tersebut dirancang untuk terbuka secara global, seiring dengan keterlibatan pendanaan dari Jepang. Oleh karena itu, beberapa peserta tender berasal dari Jepang dan akan bekerja sama dengan mitra lokal Indonesia. Pendekatan internasional ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi pembangunan.
Menurut Weni, proses tender akan berlangsung selama satu tahun dan ditargetkan tuntas sesuai dengan jadwal yang ditentukan. Selama tahun berjalan, MRT Jakarta juga sudah memulai proses pembebasan lahan dan relokasi utilitas sebagai bagian dari pekerjaan pendahuluan menjelang pembangunan besar dimulai.
“Groundbreaking kami rencanakan berlangsung di kawasan Thamrin hingga Kwitang pada tahun 2026,” lanjutnya.
Adapun total dana yang dibutuhkan untuk mewujudkan proyek transportasi massal ini mencapai Rp50 triliun. Anggaran tersebut difokuskan untuk membangun seluruh elemen infrastruktur jalur MRT Timur-Barat, termasuk jaringan bawah tanah, sistem transportasi canggih, dan stasiun yang terintegrasi.
Jika sesuai rencana, jalur MRT Medan Satria–Tomang ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada tahun 2032. Proyek ini diharapkan mampu memperlancar mobilitas warga Ibu Kota sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi.
Pemerintah dan pihak terkait juga menaruh harapan besar pada proyek ini untuk mendukung konsep pembangunan kota berkelanjutan dan ramah lingkungan. Selain itu, kehadiran MRT jalur Timur–Barat ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang atas kemacetan kronis yang selama ini menjadi masalah utama Jakarta.
Redaksi Energi Juang News



