Jumat, Mei 8, 2026
spot_img
BerandaRemang SenjaKetindihan Pocong di Kos Baru Dekat Kampus Solo

Ketindihan Pocong di Kos Baru Dekat Kampus Solo

Energi Juang News, Solo– Malam telah mencapai puncaknya di kota Solo, udara mulai mendingin dan jalanan sekitar kampus mulai lengang. Suasana tenang menyelimuti lingkungan kos mahasiswa yang baru saja ditempati oleh Dhani dan Rifai. Mereka baru saja menyelesaikan aktivitas pindahan ke kos baru yang terletak tidak jauh dari kampus mereka. Kamar yang mereka sewa berada di lantai dua, sedikit tua, namun cukup luas untuk dua orang. Rasa lelah begitu menghantui tubuh Dhani, dan tanpa berganti pakaian, ia segera membaringkan tubuh di ranjang barunya.

Kamar kos itu memiliki balok kayu besar yang melintang tepat di atas tempat tidur Dhani. Saat awal menempati kamar itu, ia sempat melirik balok itu dengan perasaan tak nyaman, entah mengapa. Namun, rasa kantuk lebih kuat dari rasa curiga. Ia terlelap cukup dalam hingga tiba-tiba dadanya terasa sesak, seperti ada beban berat menindih tubuhnya. Suara angin yang tidak biasa mulai mendesing di telinganya, padahal seluruh jendela sudah tertutup rapat sejak sore tadi.

Dhani tidak bisa bergerak. Tangannya kaku, kaki tak bisa digerakkan sedikit pun. Ia sadar penuh, tetapi tubuhnya seperti dipasung oleh sesuatu yang tak terlihat. Dalam ketegangan itu, matanya secara perlahan mengarah ke atas—ke arah langit-langit kamar. Di sana, menggantung sesuatu yang membuat jantungnya nyaris berhenti berdetak. Sesosok pocong berwarna kelabu dengan wajah yang tak utuh terlihat melayang tepat di bawah balok kayu, seolah mengawasinya dari atas.

Wajah pocong itu tak memiliki bola mata, hanya rongga hitam menganga. Mulutnya seperti terbuka, namun tidak bersuara. Dhani mencoba berteriak, namun tenggorokannya seperti terkunci. Dalam hati, ia membaca doa-doa yang dihafalnya sejak kecil. Tapi tidak ada hasil. Pocong itu masih menggantung, semakin mendekat hingga Dhani bisa mencium bau tanah basah dan anyir menusuk hidung.

Baca juga :  Bisikan Rangda di Ujung Desa Sunyi

“Dhani! Dhani bangun! Woi!” suara Rifai terdengar samar-samar di telinga Dhani. Rifai tampak mengguncang tubuh sahabatnya yang mulai berkeringat dingin. Setelah beberapa kali dibangunkan, akhirnya Dhani membuka mata dengan pandangan nanar dan napas tersengal. Ia terduduk di lantai dengan kaki gemetar, tubuhnya masih dalam posisi seolah-olah baru saja berlari sejauh puluhan kilometer.

Dengan suara gemetar, Dhani menceritakan kejadian mengerikan yang baru saja dialaminya. Rifai mencoba menenangkannya, walau jelas terlihat ia juga ketakutan. “Serius, Ndhan? Balok itu? Gue dari tadi juga ngerasa kayak diawasi terus, tapi gue pikir cuma perasaan doang,” ujar Rifai sambil menatap ke arah langit-langit. Mereka sepakat untuk menggeser posisi tidur menjauh dari balok kayu besar itu malam itu juga.

Keesokan paginya, mereka memutuskan berbicara dengan Pak Tohari, pemilik kos yang tinggal di rumah utama. Saat mendengar cerita Dhani, ekspresi wajah Pak Tohari berubah drastis. “Kamar itu memang sudah lama kosong, Mas. Terakhir yang nempati juga pindah mendadak. Katanya… sering didatangi tamu tak diundang,” ujarnya pelan, nyaris berbisik. Rifai menelan ludah, dan Dhani hanya bisa saling pandang dengan wajah pucat.

Warga sekitar pun mulai angkat bicara. Bu Siti, warung kecil di sebelah kos, menambahkan, “Lha iya, Mas. Kalau tidur jangan pas di bawah balok itu. Sudah banyak yang ngomong, katanya dulunya pernah ada yang gantung diri di situ. Makanya, hawa kamar itu agak beda.” Ucapan itu membuat bulu kuduk Dhani dan Rifai berdiri tegak. Tidak heran jika tidur mereka terganggu oleh kehadiran yang tak terlihat.

Sejak malam itu, Dhani tidak lagi tidur di bawah balok tersebut. Ia dan Rifai merotasi posisi tempat tidur agar menjauh dari bagian kamar yang dianggap “bermasalah.” Namun, bayangan sosok pocong itu terus menghantui pikirannya. Kadang, di tengah malam, ia merasa seolah ada yang mengintip dari sudut kamar. Ketika mencoba menoleh, yang ia temukan hanyalah kekosongan. Tapi firasatnya mengatakan sesuatu ada di sana.

Baca juga :  Misteri Hantu Kuyang di Siring Kapuas: Malam yang Tak Terlupakan

Peristiwa ketindihan itu menjadi awal dari banyak pengalaman aneh yang mereka alami di kos tersebut. Meski tidak pernah sejelas malam pertama itu, suara langkah di lorong, bayangan di balik pintu, dan mimpi buruk menjadi teman tidur mereka hampir setiap malam. Sejak itu, Dhani selalu menyalakan lampu tidur dan tidak pernah lagi tidur dengan posisi lurus menghadap ke langit-langit. Ia sadar, mungkin kos itu tidak hanya dihuni oleh mereka yang terlihat oleh mata.

Redaksi Energi Juang News

Moh Khobir Riyadi
Moh Khobir Riyadihttps://energijuangnews.com/
Sosok pria penulis artikel pada kanal Remang Senja (Horror), Ojo Lali dan Not & Musik. Memberikan tulisan semenarik mungkin untuk kalian para pembaca.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments