Energi Juang News, Jakarta– Bursa saham kembali diguncang setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan reshuffle lima menteri Kabinet Merah Putih pada Senin (8/9/2025). Keputusan politik ini langsung memicu aksi jual besar-besaran dari investor asing dengan catatan net sell mencapai Rp 525,9 miliar.
Tekanan paling tajam menghantam saham perbankan. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi korban terbesar dengan nilai jual asing menembus Rp 1,25 triliun. Saham bank milik grup Djarum itu anjlok 3,75% hingga parkir di level Rp 7.700 per lembar.
Bank Mandiri (BMRI) tak luput dari tekanan, dengan net sell Rp 347,2 miliar. Sementara itu, saham energi seperti PT Adaro Minerals Indonesia (ADRO) juga ikut dilepas asing hingga Rp 121,8 miliar. Aksi ini memperlihatkan kepanikan pasar terhadap stabilitas politik.
Berikut daftar sepuluh saham dengan aksi jual asing terbesar pada perdagangan kemarin:
BBCA: Rp 1,25 triliun
BMRI: Rp 347,2 miliar
ADRO: Rp 121,8 miliar
WIFI: Rp 43,8 miliar
JPFA: Rp 37,1 miliar
BBNI: Rp 33,6 miliar
UNVR: Rp 31,7 miliar
BUKA: Rp 28,7 miliar
AADI: Rp 20,8 miliar
BRIS: Rp 19,2 miliar
Kondisi tersebut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah dengan penurunan 1,28% atau 100,5 poin, menutup perdagangan di level 7.766,85. Sektor properti menjadi yang paling terpukul dengan penurunan 3,2%, disusul sektor finansial yang longsor 2,95%.
Dari sisi politik, reshuffle kabinet menghasilkan wajah baru di jajaran menteri. Purbaya Yudhi Sadewa ditunjuk sebagai Menteri Keuangan, Mukhtarudin sebagai Menteri Perlindungan Pekerja Migran, dan Ferry Juliantono menduduki kursi Menteri Koperasi. Sementara itu, posisi Menteri Haji dan Umrah dipercayakan kepada Mochamad Irfan Yusuf, didampingi Dahnil Anzar Simanjuntak sebagai wakil menteri.
Pasar saham jelas merespons reshuffle ini dengan ketidakpastian. Para analis menilai bahwa stabilitas politik menjadi faktor utama kepercayaan investor, sehingga perombakan kabinet berpotensi memengaruhi arah investasi jangka pendek.
Redaksi Energi Juang News



