Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaPolitikNormalisasi Peran Militer di Ranah Sipil Jadi Ancaman Serius Demokrasi

Normalisasi Peran Militer di Ranah Sipil Jadi Ancaman Serius Demokrasi

Energi Juang News, Depok– Direktur Imparsial Ardi Manto memperingatkan bahaya kian meluasnya peran militer di ranah sipil yang dapat mengikis demokrasi di Indonesia. Menurutnya, fenomena ini bukan sekadar anomali, tetapi bagian dari rekonsolidasi militerisme yang makin nyata di era pemerintahan sekarang.

Pernyataan tersebut disampaikan Ardi dalam Seminar Nasional bertajuk “Arus Balik Reformasi TNI di Tengah Krisis Demokrasi” di Gedung Nusantara II, FISIP Universitas Indonesia (UI), Depok, Jawa Barat, Rabu (8/10/2025).

Militer Masuk Ruang Sipil

Ardi mengungkapkan gejala paling menonjol adalah normalisasi keterlibatan militer dalam urusan nonpertahanan. Salah satunya melalui penandatanganan sekitar 100 memorandum of understanding (MoU) antara TNI dengan lembaga sipil sejak periode Presiden Jokowi (2014–2024).

“Publik seperti mulai terbiasa melihat kehadiran militer di sektor sipil. Kritik yang muncul sangat minim, hanya datang dari kalangan akademisi dan pegiat demokrasi,” ujar Ardi.

Ribuan Prajurit Duduki Jabatan Sipil

Data Pusat Penerangan TNI per Februari 2025 mencatat 4.472 prajurit aktif kini menempati jabatan sipil. Menurut Ardi, hal ini bertentangan dengan semangat reformasi TNI dan UU Nomor 34 Tahun 2004.

“Prajurit aktif tetap memiliki loyalitas ganda kepada komandannya di militer dan pejabat sipil. Itu jelas mengancam independensi birokrasi sipil,” tegasnya.

Revisi UU TNI Nomor 3 Tahun 2025 yang memperluas jumlah lembaga sipil yang boleh diisi prajurit aktif, dari 10 menjadi 14, dianggap semakin memperkuat gejala rekonsolidasi militerisme.

Komando Teritorial Diperluas

Ardi juga menyoroti penguatan struktur komando teritorial, yang kini bahkan mengurus ketahanan pangan hingga perikanan. Ia menilai rencana pembentukan ratusan batalion teritorial hingga 2029 adalah sinyal bahaya.

“Alih-alih memperkuat kontrol sipil atas militer, negara justru memperluas peran militer ke ranah yang bukan tugas utamanya,” ucap Ardi.

Baca juga :  Nasib Ahmad Sahroni hingga Uya Kuya Ditentukan di Sidang Etik MKD DPR: Apa Dampaknya?

Minimnya Kritik Publik

Imparsial menyayangkan lemahnya respon elite politik terhadap fenomena ini. Menurut Ardi, hanya kelompok sipil dan akademisi yang konsisten menyuarakan kekhawatiran.

“Elite politik seharusnya paling peka melihat kemunduran demokrasi. Tapi yang bersuara lantang justru masyarakat sipil,” katanya.

Redaksi Energi Juang News

Esteria Tamba
Esteria Tambahttps://energijuangnews.com/
Freshgraduate at the Political Science study program, Jambi University. Being a youth delegate of the Jambi Provincial Parliament 2023, A mentor in the church youth community, Has a GPA of 3.8 out of 4.0, and has experience working and interning.
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments