Energi Juang News, Sleman– Di sebuah kampung terpencil di lereng bukit Merapi Sleman, angin malam sering membawa bisikan sunyi yang membuat penduduk menggigil. Malam itu terasa berbeda ketika awan hitam menggulung liar di atas bambu dan pepohonan. Sejak dulu kampung itu dikenal sebagai pemukiman “berkah” meski seribu rahasia kelam tersembunyi. Warga sering merasakan hawa dingin yang menusuk tengkuk tanpa sebab jelas, namun tak pernah tahu asalnya.
Setiap orang yang melewati jalan tikus di pinggiran kebun kunyit kadang merasakan seperti ada seseorang mengiring mereka dari belakang, tetapi tatkala menoleh, tak ada siapa-siapa. Lampu lentera yang tadinya terang tiba-tiba padam dan muncul kilatan bayangan putih tanpa wujud. Di malam seperti itu, suara lengkingan halus yang mirip ratapan wanita tua, sayup terdengar melengking dari antara pepohonan.
“Sssst … jangan jalan sendiri malam ini,” kata Pak Roso, seorang penjaga pos ronda, kepada tetangganya saat jeda ronda. “Aku tadi dengar suara langkah kecil di belakangku, padahal tidak ada anak muda lewat,” ujarnya dengan gemetar.
Tiga generasi penduduk kampung pernah menuturkan kisah Bu Sonah sebagai peringatan. Ia telah tiga kali menjadi “korban” nasib bahu laweyan usai menikah, lalu suaminya meninggal secara tiba-tiba, lalu menikah lagi, dan pria itu juga wafat tanpa sebab yang bisa dijelaskan. Tubuh Bu Sonah dianggap sebagai wadah oleh makhluk halus yang haus akan nyawa. Aromanya kadang menyerupai dupa basah, kadang menyerupai bau anyir darah ketika malam makin larut.
Suatu malam Sabri, cucu tetangga, berani datang ke kamar Bu Sonah saat sepi. Di dalam kegelapan, ia melihat sosok siluet tipis berdiri di dekat ranjang; sosok itu sesosok tubuh manusia, tetapi wajahnya kosong yang tampak jelas hanya bola mata menyala merah. Sosok itu selalu mendampingi Bu Sonah kemanapun ia pergi. Sabri menjerit berjumpa sosok mengerikan itu: “Siapa kau!” namun sosok itu hanya melunak dan hilang dalam asap tipis yang merambat ke sudut kamar. Kepada tetangga di luar, ia bercerita: “Aku lihat bayangan wanita panjang rambut, suaranya lirih menangis ‘tolong…’ lalu hilang.”
Warga kampung lalu sesumbar bahwa arwah “istri-istri” masa lalu ikut tinggal di tubuh Bu Sonah tapi bukan sebagai pelindung, melainkan sebagai pembunuh. Supri, seorang dukun kampung, berujar kepada warga: “Itulah sebabnya Bahu laweyan sering dijauhi laki laki, karena roh jahat meminjam tubuh manusia, lalu melawan siapapun yang menjadi pasangan. Tak rela tubuhnya diisi makhluk lain.” Ia menambahkan bahwa makhluk itu bekerja pada tengah malam, mengirimkan asap kecil dari tubuh yang kemudian menyedot darah pasangan secara diam-diam.
Malam demi malam, penduduk mendengar suara rintihan dari rumah Bu Sonah meski di dalam sudah sepi. Terkadang kaca jendela goyang perlahan, pintu kamar berderit sendiri, dan air wudhu di bak keluar sendiri tanpa ada yang menyalakan keran. Seorang tetangga, Nilam, heran: “Saya sikat lantai tadi, tiba-tiba ada genangan darah kecil padahal tidak ada luka di mana pun.” Dia bergetar ketika menyebut kesaksiannya itu.
Kisah paling mengerikan terjadi ketika suami keempat Bu Sonah, malam-malam setelah akad nikah, pingsan dan kemudian meninggal di mushala kampung. Warga terkejut mendapati ruangan mushala penuh kabut tipis berwarna abu-abu, dan berubah menjadi sosok mengerikan berbulu dan taring besar dengan mata menyala. Namun sosok itu perlahan memudar dan menyisakan bekas bercak merah di kerudung imam. Halus sekali sosok itu merengkuh nyawa imam itu. Seorang saksi berkata: “Saya dengar tangisan wanita, merintih di depan imam, padahal imam sudah di dalam shalat.”
Kematian mendadak pasangan bahu laweyan tak hanya menjadi cerita mistis, melainkan kutukan bagi keturunan wanita wanita yang mengikat masyarakat. Anak-anak dijauhkan dari tempat tidur di malam-malam tertentu, dan ibu-ibu menaburkan garam serta merajuk doa malam. Meski begitu, rasa ngeri tak pernah benar-benar hilang. Warga kampung kadang berdiskusi lirih: “Apakah kita mau menikah di kampung ini? Apa suami kita akan jadi korban?”
Akhirnya, Bu Sonah sendiri memilih hidup menyepi, menolak calon suami baru dan tinggal di rumah tua di puncak bukit. Meski kesehariannya tenang, bayang-bayang kasih dan kematian terus mengiringinya. Malam-malamnya tetap ditemani bisikan dan rintihan tanpa wujud. Dan kampung itu pun menerima bahwa kemalangan bahu laweyan tak sekadar mitos, melainkan laba dunia lain yang melekat tak terlihat.
Redaksi Energi Juang News



