Energi Juang News, Jakarta– Temuan mengejutkan datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Hasil penelitian sejak 2022 mengungkap adanya kandungan mikroplastik dalam air hujan yang turun di Jakarta. Fenomena ini menunjukkan polusi plastik sudah merambah hingga atmosfer.
Menanggapi laporan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta memastikan pihaknya segera memperkuat program pengendalian sampah plastik. Kepala DLH DKI Asep Kuswanto menyebutkan, langkah ini termasuk pemantauan kualitas udara dan air hujan secara terpadu.
“Kami melihat temuan BRIN ini sebagai alarm lingkungan. Polusi plastik bukan lagi sekadar masalah laut atau sungai, tapi sudah menyentuh langit Jakarta,” ujar Asep dalam keterangan resmi, Sabtu (18/10).
Upaya Pemprov DKI Tekan Sampah Plastik
Selama ini, Pemprov DKI telah menjalankan sejumlah kebijakan untuk menekan sampah plastik sekali pakai. Beberapa di antaranya adalah Pergub No. 142 Tahun 2019 tentang kantong belanja ramah lingkungan dan program Jakstrada Persampahan yang menargetkan pengurangan 30% timbulan sampah dari sumbernya.
Selain itu, Pemprov juga memperluas bank sampah, TPS 3R, hingga program daur ulang berbasis komunitas. Asep menegaskan bahwa pengendalian sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. “Mulai dari rumah tangga, industri, sampai sektor jasa, semua punya peran,” tegasnya.
Pemantauan Mikroplastik
DLH kini juga tengah berkoordinasi dengan BRIN untuk memperluas pemantauan mikroplastik di udara dan air hujan. Data ini akan terintegrasi dalam sistem Jakarta Environmental Data Integration (JEDI) agar bisa menjadi dasar kebijakan pengendalian polusi plastik di masa depan.
“Langit Jakarta sedang mengingatkan kita untuk lebih bijak mengelola bumi. Perubahan perilaku adalah kunci,” tambah Asep.
Sumber Mikroplastik di Jakarta
Menurut peneliti BRIN, partikel mikroplastik di udara Jakarta berasal dari berbagai sumber. Antara lain serat sintetis pakaian, debu kendaraan, ban yang aus, pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka. Partikel mikroskopis itu akhirnya terbawa angin, melayang di atmosfer, lalu ikut turun bersama air hujan.
Penemuan ini menjadi peringatan serius bahwa krisis plastik sudah tidak bisa lagi dianggap sepele. Jika tidak dikendalikan, mikroplastik berpotensi masuk ke rantai makanan dan mengancam kesehatan masyarakat Ibu Kota.
Redaksi Energi Juang News



