Energi Juang News, Caracas– Pemerintah Venezuela menuding telah menggagalkan operasi rahasia yang diduga dirancang oleh badan intelijen Amerika Serikat (CIA). Tujuan operasi itu, menurut Caracas, adalah menciptakan provokasi militer di kawasan Karibia, di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
Pemerintah menyebut kelompok yang didanai CIA merencanakan aksi “false flag”, atau serangan bendera palsu. Rencana itu disebut menargetkan kapal perang Amerika Serikat, untuk kemudian menyalahkan Venezuela sebagai dalangnya.
Otoritas Venezuela mengklaim berhasil membongkar operasi tersebut, yang diarahkan terhadap kapal USS Gravely. Kapal itu tengah berlabuh di Trinidad dan Tobago, berdekatan dengan wilayah Venezuela, untuk latihan militer gabungan pada Minggu (26/10).
Trinidad dan Tobago, negara pulau kecil di Karibia berpenduduk 1,4 juta jiwa, berada sangat dekat dengan garis pantai Venezuela. Caracas menilai lokasi itu strategis bagi upaya provokasi militer terhadap negaranya.
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, menyatakan empat orang telah ditangkap terkait rencana itu. Mereka disebut bagian dari sel yang “dibiayai CIA” dan bertugas mengeksekusi serangan terhadap kapal perang AS tersebut.
Namun, pemerintah Venezuela tidak mengungkap identitas mereka. Tuduhan ini memperpanjang daftar panjang klaim Caracas soal operasi rahasia AS untuk melemahkan pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
Venezuela menilai kehadiran kapal perang AS di dekat perbatasannya adalah bentuk provokasi terbuka. Caracas bahkan menuduh pengerahan armada itu sebagai upaya memicu konflik bersenjata di Karibia.
Sejak awal tahun, Pentagon telah mengirim tujuh kapal perang ke wilayah itu dan satu kapal lain ke Teluk Meksiko. Washington juga dikabarkan akan menambah kapal induk raksasa USS Gerald R. Ford beserta armadanya.
Langkah ini dipandang sebagai tekanan politik terhadap Maduro, yang tak diakui Washington sebagai presiden sah Venezuela. Pemerintahan Trump bahkan telah mengonfirmasi izin operasi CIA di wilayah Venezuela.
Selain pengerahan militer, pasukan AS juga melakukan operasi anti-narkotika di perairan Karibia. Berdasarkan laporan AFP, sedikitnya 43 orang tewas dan 10 kapal dihancurkan sejak September lalu.
Langkah-langkah ini mempertegas meningkatnya ketegangan geopolitik antara Washington dan Caracas, yang kembali memanas di bawah bayang-bayang konflik kepentingan di kawasan Karibia.
Redaksi Energi Juang News



