Energi Juang News, Jakarta-Hingga kini, petisi “Batalkan Pelaksanaan TKA 2025” yang dibuat Siswa Agit di laman Change.org sejak 26 Oktober 2025, telah ditandatangani oleh lebih dari 150.000 akun.
Lantas, apa alasan sebenarnya dari kemunculan petisi ini?
Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 untuk jenjang SMA/MA, SMK/MAK/SMALB, Paket C/PKPPS Ulya, dan yang sederajat, akan dilaksanakan pada 3-9 November 2025.
Asesmen baru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) ini, mendapatkan pro dan kontra dari publik, terkhusus dari siswa SMA.
Dalam uraian petisi “Batalkan Pelaksanaan TKA 2025” yang dibuat oleh akun Siswa Agit pada 26 Oktober 2025 di Change.org, terdapat beberapa poin yang mendasarinya untuk mendesak pemerintah dan jajaran terkait meninjau kembali hingga membatalkan TKA 2025.
Berikut alasan munculnya desakan pembatalan TKA 2025 dari petisi yang viral di medsos.
1. Pengumuman TKA 2025 dianggap terlalu mendadak
Menurut Siswa Agit, pengesahan dan pengumuman TKA dilakukan secara mendadak, yakni diumumkan pada 8 Juni 2025 dan ditetapkan pada 14 Juli 2025. Dengan waktu kurang lebih 3,5 bulan saja sebelum pelaksanaan, hal ini menyebabkan minimnya waktu adaptasi bagi guru dan siswa.
2. Beban belajar yang berat
Dalam petisi, disebutkan bahwa jadwal padat kelas 12, ditambah persiapan TKA, menyebabkan siswa tidak punya waktu yang cukup untuk belajar efektif. Ditambah masih banyak sekolah yang mewajibkan ujian praktik dan kegiatan lain. Ini menambah tekanan dan mengurangi waktu untuk belajar TKA.
3. Materi TKA 2025 terlalu luas
Dalam petisi “Batalkan Pelaksanaan TKA 2025”, tercantum bahwa Kisi-kisi TKA baru muncul setelah pertengahan tahun, dengan materi yang sangat luas dan tidak selaras dengan Kurikulum Merdeka.
Siswa merasa kebingungan dan kehilangan fokus dalam belajar karena tidak tahu apa yang harus dipelajari secara spesifik.
4. Tidak meratanya implementasi Kurikulum Merdeka
Menurut petisi tersebut, materi Kurikulum Merdeka yang diajarkan tidak merata antar sekolah. Ketika TKA diberlakukan secara nasional dengan standar sama, siswa yang mendapat pembelajaran tidak merata menjadi pihak yang paling dirugikan.
5. Siswa merasa tertekan karena TKA 2025
Meskipun tidak wajib, hasil TKA sebagai hasil tes terstandar yang menunjukkan capaian akademik dapat digunakan sebagai salah satu syarat atau pertimbangan untuk seleksi penerimaan murid baru ke jenjang pendidikan berikutnya atau penerimaan calon mahasiswa baru.
Karena itu, dalam petisi yang dibuat Siswa Agit, disimpulkan siswa merasa seperti diharuskan untuk mengikuti TKA 2025 yang menambah beban belajar sehingga membuat siswa tertekan karena mempersiapkan banyak hal.
Redaksi Energi Juang News



