Energi Juang News, Gaza- Kelompok Hamas secara tegas menolak resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang baru saja dirilis terkait upaya stabilisasi di Gaza. Hamas berpendapat bahwa resolusi tersebut tidak memenuhi tuntutan serta hak politik dan kemanusiaan rakyat Palestina. Menurut pernyataan resmi, upaya pembentukan pasukan internasional dianggap sebagai bentuk perwalian yang tidak diinginkan oleh warga dan kelompok di Gaza.
Resolusi PBB menuai pro dan kontra di berbagai pihak. Proposal tersebut, yang digagas oleh Amerika Serikat dan didukung oleh sebagian besar anggota Dewan Keamanan, dinilai menguatkan rencana perdamaian Gaza yang diusung Presiden Donald Trump. Namun, hanya Rusia dan Tiongkok yang memilih abstain tanpa menggunakan veto. Dalam dokumen itu, PBB menghidupkan kembali wacana solusi dua negara, tetapi tanpa melibatkan Hamas sebagai pihak utama.
Hamas juga menyoroti misi pelucutan senjata bagi kelompok-kelompok Palestina, yang ada dalam resolusi. Mereka memandang langkah ini sebagai ancaman terhadap hak-hak politik dan kedaulatan warganya. Pernyataan tersebut muncul setelah adanya sorotan tajam dari masyarakat internasional atas situasi kemanusiaan di Gaza yang memburuk.
Selain menolak, Hamas mengkritik PBB karena dianggap tidak mendengarkan aspirasi dan hak warga Gaza. Mereka menuntut agar penyelesaian konflik benar-benar memperhatikan kepentingan rakyat Palestina, serta menghindari dominasi internasional di wilayah tersebut.
Sementara, resolusi baru tersebut terus diperdebatkan di berbagai forum internasional, Hamas tetap bersikeras mempertahankan posisi mereka dan meminta dunia internasional untuk lebih memahami situasi di Gaza. Sikap ini menghadirkan tantangan besar bagi upaya perdamaian dan penyelesaian konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
Redaksi Energi Juang News



