Kamis, April 16, 2026
spot_img
BerandaInternasionalTrump Ingin jadi Paus: Candaan Politik di Tengah Duka Vatikan

Trump Ingin jadi Paus: Candaan Politik di Tengah Duka Vatikan

Energi Juang News, Jakarta— Dunia kembali dikejutkan oleh pernyataan kontroversial dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Dalam sebuah sesi wawancara yang semula berlangsung ringan bersama sejumlah reporter, Trump secara berseloroh menyatakan keinginannya untuk menjadi Paus, menggantikan pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Fransiskus, yang baru saja wafat.

“Aku ingin jadi Paus. Itu pilihan nomor satu versiku,” ujar Trump dengan gaya khasnya yang sarkastis, seperti dikutip dari Reuters.

Meski disampaikan dengan nada bercanda, komentar tersebut sontak memicu berbagai spekulasi dan reaksi dari masyarakat dunia, khususnya umat Katolik. Ucapan tersebut menyentuh wilayah yang selama ini dianggap sakral dan jauh dari ranah politik populer Amerika.

Setelah melempar candaan itu, Trump kemudian melunak dan menambahkan bahwa dirinya tidak memiliki kandidat spesifik untuk menduduki jabatan Paus berikutnya. Ia hanya menyebut seorang kardinal yang ia kenal berasal dari New York, dan menggambarkannya sebagai sosok yang sangat baik.

Meski tidak menyebut nama secara eksplisit, banyak yang menduga tokoh yang dimaksud adalah Kardinal Timothy Dolan, pemimpin Keuskupan New York. Namun, nama Dolan sendiri belum termasuk dalam daftar kuat kandidat suksesi takhta suci tersebut.

Di sisi lain, nama Kardinal Joseph Tobin dari New Jersey justru mulai diperbincangkan dalam konstelasi pemilihan Paus baru. Ia dianggap mewakili suara progresif dari Amerika Serikat, walau sejarah mencatat belum pernah ada paus yang berasal dari Negeri Paman Sam. Hal ini membuat peluang Amerika dalam konklaf mendatang tetap dipandang sebagai spekulatif, namun tetap menarik untuk diikuti.

Trump baru-baru ini berkunjung ke Roma bersama sang istri, Melania, untuk menghadiri misa pemakaman Paus Fransiskus. Paus kelahiran Argentina itu menghembuskan napas terakhirnya pada usia 88 tahun, tepat pada 21 April lalu. Hubungan antara Trump dan mendiang Paus selama ini juga tidak harmonis.

Baca juga :  Elon Musk Diboikot Warga AS, Saham Tesla Jatuh 48%

Ketegangan mereka sempat menjadi sorotan global saat keduanya saling mengkritik keras soal isu migran—di mana Paus Fransiskus dengan gigih menyerukan kasih bagi para migran, sementara Trump dikenal dengan kebijakan imigrasi ekstrem dan wacana deportasi massal.

Kini, dunia menanti konklaf yang akan berlangsung pada 7 Mei mendatang, di mana 135 kardinal dari berbagai belahan dunia akan berkumpul untuk memilih pemimpin baru Gereja Katolik. Proses ini akan digelar secara tertutup dan penuh kerahasiaan sesuai tradisi yang telah berjalan selama berabad-abad. Nama-nama calon paus sejauh ini masih samar, dan belum ada sinyal kuat ke arah mana pemilihan ini akan bermuara.

Sementara dunia Katolik tengah berkabung dan bersiap menyambut era baru, Trump sekali lagi berhasil menarik perhatian dengan caranya yang tak terduga. Entah murni candaan atau terselip ambisi dalam gurauannya, satu hal pasti: pernyataan Trump kembali menggoyang ruang publik global yang tengah menanti pemimpin rohani barunya.

Redaksi Energi Juang News

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Recent Comments